❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤
Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru
(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)
Hari/ tgl : Rabu, 13 Mei 2015
Tema : Mengajarkan Anak Tentang Uang (Money Matter for Kids)
Narasumber : Ustzh. Poppy Yuditya
Resume by : Annisa Elmiani
Dalam hal ini tidak hanya uang, intinya adalah harta.
Seseorang dikatakan cerdas jika mampu berkata benar. Di dalam al Quran ada 1 ayat yang berbeda dari 133 ayat lainnya yang menyebutkan tentang harta. Bisa jadi yang 1 ini justru adalah parameter dari kehancuran atau kecerdasan kita.
Firman Allah swt dalam QS. An Nisa: 5
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik."
Disebutkan mengenai orang yang telah sempurna akalnya, yaitu cerdas yang dalam hal ini berhubungan dengan harta. Maka "cerdas (sempurna akal)" adalah parameternya untuk bisa mengamanahkan harta kepada anak.
● Peranan Uang Menurut Islam
1. Fadhl Allah: kelebihan dari Allah swt.
Firman Allah swt dalam QS. Al Jumu'ah: 10
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
Kadang kita berpikir bahwa uang adalah hasil kerja keras kita. Merasa uang adalah milik pribadi sehingga terserah padanya akan digunakan untuk apa. Kita tentu tidak nyaman jika seseorang memamerkan hartanya. Mengapa? Karena memang tidak sesuai. Ketika hati kita diisi dengan baik, ruhiyah diisi dengan ibadah-ibadah, maka furqan kita hidup. Contohnya rasa tidak nyaman tadi yang menandakan masih ada furqan yang hidup di hati kita. Berhati-hatilah ketika furqan kita mati. Kita beli jilbab harga 1 juta tapi untuk pergi haji terasa berat.
Ingat! Harta itu bukan hasil kerja keras kita, tapi kelebihan dari Allah, amanah dari Allah swt.
Islam juga mengajarkan kita untuk berbagi. Bukan berarti harus sama rata sama rasa seperti paham komunis. Maksudnya adalah yang kaya memberi pada saudaranya. Bukan kemudian yang berpunya jadi tidak punya.
Ingat bahwa Islam mengajarkan bahwa ketika kita berbahagia, tidak lantas membiarkan saudara yang kesusahan. Lihat sekeliling, jangan sampai menumpuk harta untuk diri sendiri. Berbagi lebih mulia.
2. Qiyaman: sarana pokok kehidupan.
Seperti dalam QS. An Nisa: 5. Sarana pokok yaitu supaya kita berdiri, berjalan, sehat, kuat. Jangan sampai sebaliknya, terpana oleh harta.
3. Khair: dimanfaatkan untuk kebaikan.
Firman Allah swt dalam QS. Al-Baqarah: 180
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa."
Harta bukan untuk bermewah-mewahan atau ditumpuk-tumpuk seperti dalam surat At Takatsur.
Periksalah kembali, apakah harta yang Allah titipkan sudah menjadi fadl, qiyaman dan khair?
Kita harus khawatir jika sudah sampai pada titik berlebihan.
● Kebutuhan Manusia
Needs and Wants
Firman Allah swt dalam QS. Thaha: 117-119 (terjemah)
Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ٰ
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,
dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya".
Jika merujuk pada ayat di atas, maka kita harus memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, dan atap untuk tempat berteduh. Itu adalah hal-hal primer. Seringkali yang jadi permasalahannya, haruskah beli atau sewa?
Yang penting jangan sampai kita terikat pada rumah itu. Rumah adalah sarana kehidupan, jangan sampai membuat kita "stuck". Sayang dengan rumah yang sudah dibeli susah-susah, padahal lingkungan buruk, tidak ada sekolah, namun tidak mau hijrah karena rasa sayang tersebut.
Ingatlah kisah Imam Syafii yang hijrah dari palestina ke Baghdad, Irak demi mendapat ilmu dan lingkungan yang lebih baik.
Kalau kita punya kemampuan untuk membawa lingkungan menjadi baik, itu bagus. Tapi kalau anak kita justru malah jadi tidak baik akhlaknya karena pengaruh lingkungan, pindahlah, Hijrah! Ketika kita berniat pindah karena ingin memperbaiki akhlak anak-anak kita, inSyaAllah surga.
Seperti kita tahu, yang membedakan amalan seorang muslim dengan non muslim adalah NIAT, meskipun yang dikerjakan sama.
contoh: puasanya orang hindu/budha berbeda dengan orang Islam, menyusuinya orang non muslim adalah supaya anak sehat, padahal yang memberi kesehatan itu kan Allah. Sedangkan bagi orang Islam menyusui adalah karena Allah. Berkatalah: ayo lancarkan ASI karena ini ibadah Lillaah! Yang lainnya adalah bonus dari Allah swt.
● Janganlah membelanjakan sesuatu melainkan karena mengharap ridha Allah swt. Seperti dalam firman Allah swt berikut.
QS. Al Baqarah: 272
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)."
Berkacalah pada diri sendiri, sudah berapa banyak berbagi pada orang lain?
Berapa banyak jilbab, baju dan sepatu yang dimiliki.
Hindari mengoleksi barang. Ketika mengoleksi, mahal pun menjadi tak masalah. Seringksli kita dibodoh-bodohi oleh tren. Kenapa? Karena tidak punya pegangan: "apakah Allah ridha atau tidak?"
Juga mainan anak, jangan sampai suka mengumpulkan/ mengoleksi sehingga membeli barang tidak sesuai kebutuhan.
Pikirkan! Ketika belanja, belanjakanlah harta karena mengharap ridha Allah swt, bukan karena nafsu. Misalnya, membeli gamis karena ingin tampil syar'i sehingga mendapat ridha Allah.
Ketika membeli 1 baju, maka keluarkan/ sedekahkan 1. Jangan sampai malah beli lemari baru.
● Hemat tapi Tidak Pelit!
QS. Al Furqan: 67
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."
Ayat di atas adalah petunjuk bagi kita untuk mengatur pembelanjaan harta. Yaitu hemat tapi tidak pelit. Belilah karena kualitas.
● Pertanggungjawaban atas Harta
Sabda Rasulullah saw:
"Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya" (HR at Tirmidzi).
Terapkanlah hadits dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum mengajarkan tentang harta atau uang kepada anak-anak kita, maka orang tua harus lulus dulu belajar tentang harta. Biasakan anak taat, sederhana, dan disiplin.
● AR RUSYD
Konsep Ar Rusyd
Mari kita pahami dari QS. An Nisa: 5-6 berikut.
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik."
وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ َ
"Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya...."
Dalam ayat tersebut terdapat kata ar rusyd yaitu cerdas dalam memelihara dan mengelola harta. Sekaligus ayat tersebut juga menyebutkan lawannya yaitu as sufaha yg artinya orang yang belum sempurna akalnya.
Harta itu bukan untuk ditumpuk tapi dikelola. Menabung itu bukan mengelola tapi menyimpan harta. Sedangkan Allah menghendaki kita mengelola harta. Harta yang ada sebaiknya dikelola, uang diputar misalnya untuk usaha.
Inilah yang diharapkan ada pada anak-anak kita, cerdas mengelola harta. Ar Rusyd diharapkan tampak sesaat setelah baligh. Jadi, anak-anak sebaiknya diamanahi harta setelah mencapai Ar Rusyd.
Islam tidak menghendaki generasi As Safih (memiliki sifat As Safahah) yang tidak kunjung matang akalnya. Tak memiliki pertimbangan matang dalam hidupnya karena tak ada ilmu yang melandasi mereka. Kalaupun hapal teori, syahwat mengalahkan akal sehat mereka.
Islam mengenalkan generasinya yang hebat yaitu para pemuda Ar Rasyid (memiliki sifat Ar Rusyd). Merekalah generasi yang layak mendapatkan amanah besar bumi ini. Mereka yang telah baik dalam mengendalikan harta; menyimpan, memperbaiki, membelanjakan, dan mengembangkan, pasti telah tersusun dengan baik akal dan hati mereka. Mereka telah mampu membedakan yang manfaat dan yang membahayakan. Mereka visioner, memandang jauh ke depan bukan kesenangan sesaat. Mereka mampu merencanakan dengan baik, mampu menahan gejolak syahwat. Akal mereka sehat dan hati mereka jernih.
● KESALAHAN ORANG TUA
1. Memberi uang tanpa alasan.
Anak-anak terbiasa mendapatkan harta dengan mudah tanpa diajarkan bertanggungjawab, untuk apa hartanya. Ajarkan pada anak bahwa "harta adalah kelebihan dari Allah melalui ayahmu, dipindahkan ke tangan ibumu, lalu diserahkan kepadamu untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt."
2. Mengajarkan belanja barang yang tidak jelas manfaatnya.
3. Menyenangkan anak selalu dengan uang.
Anak rewel sedikit dibujuk dengan es krim, atau main di tempat game. Jadi orang tua yang mengajarkan anak tidak menghargai uang. Tidak terbentuk pemahaman bahwa uang sebagai sarana kemuliaan.
● Setelah baligh, anak bertanggung jawab atas harta. Jadi, sebelumnya orang tua benar-benar harus memberikan pemahaman yang lurus, niat yang lurus ketika anak mengelola harta maupun ketika ingin mencapai sesuatu.
● BELAJAR DARI SHIROH
◆ Usia 8/ 10 tahun Rasulullah mulai menggembalakan kambing. Pada masa itu beliau tinggal dengan Abu Thalib yang dalam keadaan kurang mampu.
Ambil pelajarannya, jika punya kelebihan, coba ternak kambing, sesekali ajarkan anak menggembalakannya.
Rasulullah pernah berkata bahwa "tidak ada nabi yang tidak menggembalakan kambing". Yakinlah, ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
Kenapa tidak berdagang?
Jika menggembala kambing, upahnya paling hanya beberapa dirham. Tapi kalau berdagang, anak kecil pun bisa saja sukses sedangkan pada usia 10 tahun anak belum bisa kelola harta dalam jumlah besar.
¤ Usia 12 tahun, Rasul baru sebatas menemani berdagang. Melihat dan mengamati dulu bagaimana proses perdagangan, fiqihnya, dan lain-lain.
Dalam siroh, anak tidak dianjurkan berdagang di usia dini.
Pada kenyataannya, seringkali ada kegiatan market day untuk anak. Peristiwa yang terjadi ternyata anak hanya dapat sedikit hasil, sementara barang-barang dagangannya habis dibagi-bagikan. Sehingga yang terjadi adalah ketidakkonsistenan. Anak belum mampu menerima amanah. Seharusnya orang tua dan guru ajarkan dulu pada anak mengenai amanah, fiqih jual beli, menimbang, dan sebagainya.
¤ Usia 17 tahun, Rasulullah saw mulai membawa sendiri dagangan ke Syam.
● Nasihat Khalid Asy Syantut
1. Jangan memberi uang pada anak tanpa sebab.
2. Orang tua memberikan uang Ied (THR) sebagai bentuk cinta dan menyenangkan di hari Ied. Katakan bahwa ini Fadhl bukan uangmu. Ingat bahwa sebelum sampai Ar Rusyd ia masih tanggung jawab kita.
3. Biasakan anak menabung dari kecil. Ajarkan agar tabungan tersebut juga diniatkan untuk berbagi. Jangan sampai mengatakan "terserah, kalau mau beli sesuatu nabung sendiri".
4. SMP baru mulai diberi uang saku. Beri pemahaman bahwa dia bertanggung jawab atas apa yang dibelinya setelah bermusyawarah dengan orang tua sebelumnya.
5. SMA: lanjutkan beri tambahan jumlah dari sebelumnya dengan tambahan tugas di rumah atau di luar rumah. Contoh: mulai mencuci baju, tugas mengepel, dll. SMA tinggal kontrol keuangan dan minta buat laporan mingguan/ bulanan.
6. Sejak dari akhir masa SD, sepanjang SMP dan SMA, anak-anak menuliskan rencana dan laporan pertanggungjawaban pemakaian uang untuk mereka dengan dikontrol oleh orang tua. Beri penghargaan bila perencanaan mereka baik, dan beri hukuman bila buruk.
Untuk SD, uang yang diberikan orang tua beritahu terlebih dahulu untuk apa uangnya. Misalnya, ini uang 5000. 3000 untuk beli air mineral, 2000 boleh untuk beli es lilin.
Musyawarah di awal dan controlling harus konsisten.
7. Biasakan anak berinfaq.
___________________________
🔸Bagaimana mengajarkan anak sedekah?
Hati anak itu lembut, biasanya melihat dari contoh. Tak perlu banyak bicara, ia melihat maka ia akan mencontoh. Usia 0-5 tahun itu amat perlu keteladanan.
◆ Contohnya kalau ada tamu kita hidangkan makanan terbaik yang kita punya, kita jelaskan bahwa begitulah islam mengajarkan berbagi, bersedekah.
◆ Ajak anak misalnya ke pinggiran rel dengan sebelumnya membeli madu lalu diberikan pada mereka yang tinggal di sana.
◆ Kalau anak punya uang yang disimpan oleh kita, ajak untuk bersedekah karena Allah.
◆ Anak juga belajar dari cerita kita. Makanya berkisah itu penting.
Ketika anak melihat berita tentang anak-anak di Palestina, pancing empatinya dengan mengajaknya bicara, misalnya "bagaimana makannya ya?", "bajunya terbakar semua, dari mana ya dapat baju?". Sampai akhirnya anak dengan sendirinya bilang ingin bersedekah.
🔸Bagaimana mengajarkan privasi pada anak?
Itu menjadi PR kita. Untuk anak remaja yang mulai memakai password untuk hp nya sehingga kita sulit memantau, cobalah tanya dari hati ke hati. Sempatkan minimal dua bulan sekali (untuk usia SMP-SMA), anak laki-laki dengan ayahnya, anak perempuan dengan ibunya, pergi berdua saja. Bicara dari hati ke hati. Belajar dari Rasulullah yang menggunakan cara berdialog ketika menasihati seorang pemuda.
🔸Apakah batas antara kebutuhan dan keinginan?
Jika sampai berhutang untuk sesuatu karena keinginan, itu berarti melewati batas kebutuhan kita. Karena yakinlah Allah swt mencukupkan kebutuhan kita.
🔸Kapan anak perempuan baligh?
Saat haid, jika tidak haid pada usia 17 tahun.
Namun anak-anak yang sudah banyak terkontaminasi pikirannya dengan romantisme juga yang akses internetnya mudah di rumah, biasanya lebih cepat baligh.
🔸Apakah boros jika membeli suplemen kesehatan yang harganya mahal?
Kuncinya: hemat tidak kikir.
Jika merasa kemahalan maka kita tidak butuh.
kita juga tidak bisa menjudge orang lain boros karena kebutuhannya berbeda. Kecuali kalau memang sudah berlebihan, namanya boros.
Untuk kesehatan kita bisa ikuti sunnah Rasul misalnya dengan mengkonsumsi madu, zaitun dan berbekam.
Ketika membeli buku pun harus dibaca. Beli 1 lalu baca, setelah selesai beli lagi. Jangan sampai jadi kolektor buku yang bukunya banyak tapi tak terpakai. Jangan juga menjudge orang yang tidak membeli buku tertentu sebagai tidak peduli dengan ilmu. Bisa saja yang tidak punya ensiklopedia karena mahal justru jadi lebih kreatif karena harus memanfaatkan buku bacaan yang ada.
Jangan beli sesuatu yang bukan budgetnya, sesuatu yang dipaksa itu tidak baik.
🔸Bagaimana dengan MLM?
Menurut Ust. Budi Ashari harus hati-hati dengan MLM. Orang yang awam dengan fiqih syariah jual beli dan tidak memahaminya, sebaiknya jauhi MLM.
_____________________________
KESIMPULAN PEMBAHASAN AR RUSYD
1. Pemuda hasil pendidikan Islam adalah pemuda yang bukan saja Baligh, tapi juga Rasyid.
2. Biasanya sifat Ar Rusyd hadir setelah usia baligh.
3. Lawan dari Ar Rusyd adalah As Safahah (belum matang akalnya). Generasi As Safih tidak layak mengendalikan hartanya sendiri.
4. Parameter seorang anak muda telah memiliki sifat Ar Rusyd adalah: harta.
5. Pemuda Ar Rasyid adalah mereka yang mampu mengatur harta, mengembangkannya, menjaganya dan memperbaikinya, juga baik dalam membelanjakannya serta mampu membedakan antara yang manfaat dan membahayakan.
6. Baiknya agama pemuda memudahkan ia memiliki sifat Ar Rusyd. Sebagaimana kata Ar Rusyd dalam al Quran yang memiliki beberapa arti lain selain arti baik dalam mengatur harta: iman dan tauhid, hidayah dan istiqomah, baik dan manfaat, dan kebenaran.
7. Orang tua harua melatih anak-anaknya sebelum baligh untuk mengendalikan harta dalam jumlah kecil.
8. Jika telah memasuki usia baligh, orang tua harus mulai meningkatkan latihan mengendalikan harta dalam jumlah yang lebih besar untuk dianalisa apakah ia telah mampu menjaga harta dengan baik dan mengembangkannya.
9. Jika mereka dinilai telah baik dalam mengendalikan dan mengembangkan harta, maka mereka telah lulus dari sifat As Safahah dan telah memiliki sifat Ar Rusyd. Dengan demikian mereka telah layak mengendalikan hartanya sendiri.
10. Mereka yang tak kunjung memiliki sifat Ar Rusyd, sampai usia berapa pun, tidak diizinkan Islam untuk diserahi amanah harta besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar