Sabtu, 07 September 2019

Khitan Baby Taqi

Saat usia Baby Taqi 3 bulan, ia tiba2 panas tinggi hingga 39 derajat celsius. Awalnya hanya muntah biasa lalu malamnya panas dan perutnya kembung.

Menimbang usianya yang masih sangat belia akhirnya kami bawa ia ke dokter anak keesokan harinya.

Dokternya selain periksa seperti biasa, juga langsung cek kemaluan Taqi. Benar saja kecurigaan dokter, Baby Taqi ternyata fimosis bawaan lahir.

Saran dokternya untuk dikhitan segera setelah ia pulih atau tidak demam lagi.

Mengingat pup dan muntahnya yang sudah 3 kali sejak semalam, dokter juga meresepkan zinc, lacto-b dan antibiotik yang hanya boleh digunakan jika panas bayi tak juga turun.

Alhamdulillah sorenya Baby Taqi g panas lagi, jadi g sampai minum antibiotik.

Kami (saya dan suami) jadi terus memikirkan soal khitan/ sirkumsisi pada Taqi.

Jujur saja selama ini yang ada di pikiran kami khitan anak ya nanti saja nunggu anaknya yang minta sambil kami pun memberi pengetahuan tentangnya kelak. Ya seperti Dzikri yang dulu minta sunat di usia 6 tahun.

Dokter anak menyarankan untuk konsultasikan Taqi ke dokter Catur yaitu dokter bedah anak yang hanya  ia seorang di Depok dan praktek di Hermina.

Saya pun cari informasi via internet mengenai pengalaman orang yang sudah mengkhitan anaknya di usia bayi.

Ternyata biaya khitan di dokter bedah anak lumayan juga ya. Bisa sampai di angka 4 juta ke atas.

Selang satu minggu kemudian Taqi kontrol lagi ke dokter anak sekalian diimunisasi. Dokternya masih tetap menyarankan untuk dikhitan. Menurutnya khitan pada bayi itu justru bagus apalagi jika ada riwayat fimosis seperti ini. Jika tak dikhitan sejak dini, anak yang fimosis bisa demam tinggi lagi di kemudian hari.

Apa sebabnya? Karena kondisi fimosis, dimana kulit kelamin menutupi sebagian lubang untuk pipisnya membuat kotoran dari air pipisnya tidak bisa dibersihkan secara maksimal dan menumpuk di dalam. Kebayang kan itu bakteri kumpul di sana. Itulah yang bisa menyebabkan infeksi dan memicu demam tinggi. Jika anak yang fimosis misalnya kena batuk flu dia biasa saja (g demam). Anak yang fimosis bisa langsung demam tinggi.

Penanganan dengan dokter bedah anak katanya diawali dengan bius total. Dokter anaknya bilang kalau anak hanya ditidurkan, bukan seperti bius pada orang dewasa. Supaya tindakan lebih mudah dan anak juga tidak merasa kesakitan.

"Sebenarnya yang khawatir itu kan ya orang tuanya". Begitu kata dokter anak (dr. Karnina Chatar, SpA) memotivasi kami supaya tak ragu Taqi di sirkumsisi.

Di rumah, saya terus mencari informasi tentang khitan bayi.

Saya juga bertanya pada teman-teman di grup wa mengenai rekomendasi tempat khitan anak.

Alhamdulillah dipertemukan Allah info tentang Rumah Sunatan dr. Mahdian yang sudah punya puluhan cabang dan dokter2nya sudah berpengalaman dalam mengkhitan bayi. Teman di grup WA juga pernah melakukan sunat pada anaknya ketika usia 18 bulan di sana (anaknya bolak balik dokter karena sakit dan baru ketahuan fimosis). Biayanya tentu saja jauh lebih murah.

Baiklah, kami semakin membulatkan tekad. Apalagi ketika usia Taqi 4 bulan lebih, ia sempat pilek dan muncul panas lagi tapi tak tinggi.

Akhir Agustus, kami (saya dan suami) pun ke Rumah Sunatan di Margonda dan bertanya-tanya tentang khitan bayi di sana.

Alhamdulillah dapat info yang memuaskan. Di sana dokternya sudah sering menangani khitan bayi. Jika mau dikhitan, boleh konsul dulu dengan dokter atau langsung buat janji untuk dikhitan dengan menelpon rumah sunatan sehari sebelumnya.

Akhirnya kami jadwalkan Taqi khitan setelah suami pulang dinas luar kota dan akan mengambil cuti 2 hari. Cutinya tentu saja fasilitas dari kantor khusus untuk khitan anak dan tidak memotong jatah cuti tahunannya (waktu Dzikri khitan, suami tidak ambil cuti karena belum tahu).

Kami juga minta bantuan Neneknya anak-anak dari Bandung supaya datang ke rumah meng-handle Zahira dan Syakira, anak2 gadis kami yang masih balita.

Tanggal 5 September, suami menelepon Rumah Sunatan untuk minta dijadwalkan sunat Taqi pada hari Sabtu tanggal 7.

Esoknya Rumah Sunatan mengabarkan bahwa Taqi dapat jadwal sunat Sabtu Pukul 8 pagi. Kami hanya diminta membawa diapers yang 1 ukuran di atas diapers yang biasa dipakai.

Tanggal 7 September, 2 hari sebelum usia Taqi 5 bulan kami pun mengantarnya lagi ke Rumah Sunatan. Kami bawa saja diapers kakaknya yang 2 ukuran di atasnya dan 1 celana sunat. Anak2 dan maenin, semuanya ikut.

Perlu kemantapan hati dan persiapan mental jika nanti anak bayi menangis yang mungkin lebih dahsyat dari biasanya.

                          (Sebelum Khitan)

Oya, kami sebelumnya benar-benar sudah membulatkan tekad.

Pertama, dengan niat menjalankan syariat. Jadi, tahan-tahan diri aja kalau dengar komentar yang seolah-olah kita ini orangtua yang tega, anak masih bayi sudah dikhitan. Yah, kita kan bukan mau menyakiti anak, justru ini adalah kebaikan, syariat yang telah diajarkan.

Lagipula, yang kedua, semakin muda usia anak dikhitan, pemulihannya inSyaAllah semakin cepat.

Ketiga, baby Taqi belum terlalu aktif bergerak, ia belum bolak balik tengkurap, jadi g perlu banyak usaha untuk menjaganya pasca sunat.

Keempat, berdasarkan pengalaman kakaknya (Dzikri) dulu, ia mulai rewel saat di rumah terutama kalau mau pipis. Katanya sih ada rasa takut dan geli. Sehingga setiap kali mau pipis, bundanya ini harus benar-benar sabar. Apalagi saat harus meneteskan obat/minyak di kemaluannya. Duh, butuh tenaga untuk agak memaksanya, waktu itu kondisi sedang hamil pula. Beberapa kali ia juga mengompol. Kalau masih bayi, inSyaAllah tak ada perlawanan.

Kelima nya (nanggung 😃), balik lagi intinya yakin aja sama Allah Yang Maha Penyembuh, inSyaAllah dimudahkan semuanya.

Lumayan tegang juga sih setelah dengar suara tangis anak lain yang sedang disunat di ruang tindakan.

Tibalah giliran Taqi dipanggil. Kami pun naik ke atas karena Ruang tindakannya ada di lantai 2.

Baru masuk ruangan sudah disambut dokter dan asistennya dengan ramah. Dokternya cek dulu kondisi Taqi, katanya "ini fimosis total ya Bu".

Wah, sudah tepat banget berarti kalau disunat, pikir saya.

Ternyata menurut dokternya kondisi ini sebenarnya sudah bisa diinfokan oleh dokter anak sejak ia baru lahir. Namun, memang hanya sebagian dokter yang aware sampai ke sana. Fimosis masih dikatakan kasus kelainan yang ringan sehingga tidak banyak dokter anak yang periksa sampai ke kemaluan anak. Meskipun dikatakan ringan, namun tentu jika dibiarkan efeknya tak baik untuk kesehatan.

Pesan dokter "Ibu, kalau punya anak laki-laki lagi... (dalam hati, duh.. aamiin jangan ya....😆), nanti minta diperiksa sama dokter anaknya, fimosis atau ngga. Supaya kalau memang fimosis bisa dikhitan segera".

Dokternya cerita lagi, baru-baru ini beliau menangani khitan bayi berusia 6 bulan yang pipisnya bahkan sudah mengeluarkan darah. Awalnya karena fimosis.

Dokternya juga cerita kalau fimosis ini biasanya genetik/ keturunan. Tapi seingat kami di keluarga  g ada sih riwayat fimosis. Lalu waktu dokternya masih kuliah dulu, kasus fimosis ini terjadi pada 4 dari 10 anak dan sekarang meningkat jadi 7 dari 10 anak.

Dari sebelum tindakan sampai tindakan selesai dokter dan asistennya benar-benar aktif berkomunikasi dengan saya yang menunggui Taqi. Saya bagian memegangi tangannya dengan lembut dan memotivasinya.

Sementara suami menjaga Syakira, kakaknya Taqi yang berusia 2 tahun. Waktu Taqi dipanggil ke ruang tindakan, pas banget maeninnya lagi keluar beli makanan. Jadi, Dzikri di bawah jaga adiknya, Zahira (3,5 tahun), sementara Syakira ikut ke atas (ruang tindakannya di lantai 2).

Suami juga yang merekam video saat tindakan dilakukan. (Dokternya bahkan mengingatkan suami yang sempat berhenti merekam karena mengurusi Syakira.)

Dokternya menjelaskan setiap tindakan yang dilakukan. Diawali dengan memberikan bius di 4 titik saraf kemaluan anak.

Kelebihannya sunat di sini, bius lokalnya diberikan dengan cara disemprotkan menggunakan alat seperti suntikan tanpa jarum tepat di titik-titik saraf tersebut.

Memang tetap terasa sakit tapi tidak sesakit jika diberikan lewat jarum suntik.

Benar saja, Taqi yang tadinya ngoceh-ngoceh dan tertawa, seketika menangis saat dibius lokal.

Ia terus menangis sampai tindakan selesai. Di situlah rasanya waktu berjalan sangat lama. Padahal waktu Dzikri yang disunat rasanya bundanya ini lebih tegar. Dzikrinya soalnya tegar juga. Tak ada tangisan ataupun teriakan. Hanya berkata 'ah sakit, sakit' sambil memegang speaker murottal kesayangannya saat itu. Masya Allah...

Oya, jadi di ruang tindakan ini ruangannya tampak ceria, dibuat menarik untuk anak. Bahkan disediakan IPad untuk mengalihkan perhatian anak saat tindakan. Berhubung Taqi belum mengerti, IPadnya dipinjamkan untuk Syakira yang juga ternyata g tertarik 😁.

Setelah bius lokal, dokter mulai membuka kulit yang menutupi lubang pipisnya Taqi. Tampaklah kotoran yang menempel berwarna putih di balik kulit itu. Kotoran ini jauh lebih banyak daripada kotoran yang tampak menempel saat khitanan Dzikri yang saat itu berusia 6 tahun.

Lega rasanya melihat kotoran itu dibersihkan. Smart clamp pun lalu dipasang. Disini saya merasa ngilu. Lalu kulit tadi dibuang.

Metode yang digunakan untuk khitan bayi disini  adalah smart clamp yang dianggap paling aman untuk bayi.

Selesai tindakan, Taqi dipasangkan diapers lalu celana sunat yang sudah saya persiapkan sebelumnya (beli online hanya 9500 saja 😁). Taqi kemudian langsung saya gendong perlahan dan disusui. Ia langsung tenang lalu terlelap.

                   (Sepulang dikhitan)

Setelah itu saya ke bagian administrasi dan mendapatkan penjelasan mengenai perawatannya di rumah. Meski sudah berpengalaman merawat anak sunat dengan metode yang sama, tapi tetap saja prakteknya agak blank.

Smart clamp yang bentuknya seperti tabung ini dipakai selama 5 hari. Selama itu, di rumah diberikan perawatan untuk kebersihannya.  Setiap kali cebok diberikan air biasa dan air NaCl (ada alat yang digunakan untuk memudahkan), lalu dikeringkan dengan kasa steril atau kapas. Bagian dalam tabung boleh dikeringkan juga dengan cotton Bud. Namun, jika tidak berani karena takut menyentuh ujung kemaluannya, boleh juga hanya ditempelkan kapan di sisi dalam tabung hingga sisa-sisa air cebokan terserap oleh kapas.

Anak juga boleh dimandikan seperti biasa. Sebenarnya kalau ambil paket ekstra ada celana plastik anti air yang bisa digunakan ketika mandi. Tapi kami hanya ambil paket sunatnya ditambah KKPK yang memang harus dibeli.


                       
                           (Rincian Biaya)

Tak lupa dalam sehari 3 kali diteteskan antibiotik 2 tetes di dalam, satu tetes di kanan, satu tetes di kiri (antibiotik diberikan sampai habis). Ada paracetamol juga yang diberikan sehari 3 kali untuk 2 hari pertama sebagai pereda nyeri. Namun jika bayi masih nampak kesakitan setelah lebih dari 2 hari, paracetamolnya masih boleh diberikan.


 (Goody Bag, hadiah boneka berbentuk bola, sertifikat, brosur berisi informasi Q&A dan penjelasan mengenai hal yang harus dilakukan sebelum lepas clamp juga perawatan setelah tabung dilepas, serta KPKK)



(Isi KPKK: Kassa steril, masker, larutan NaCl,
wadah kecil berwarna merah, sabun cair, obat merah, antibiotik yang diteteskan di kemaluan, cotton bud, paracetamol untuk pereda nyeri,
irrigation syringe-alat bantu cebok)


KKPK
(Kit Perawatan Pasca Khitan)


Alhamdulillah pulang ke rumah Taqi anteng seperti biasa saja. Tak ada drama tangisan membahana yang dikhawatirkan sebelumnya.

Cebok pertama kali cukup mendebarkan karena sempat tiba2 lupa harus apa aja dan belum persiapkan apa-apa sementara anak bayi udah mulai g sabar. Pas pakai cotton bud sempet tersentuh ujung kepala kemaluannya dan anaknya teriak sebentar.

Tapi hanya di pertama cebok saja, selanjutnya kalaupun tersentuh ia hanya bergetar saja g menangis sama sekali. Alhamdulillaah.

Saya baru berani mandikan Taqi keesokan paginya dengan diapers yang sengaja terpasang, masih takut2 hehe...

Langsung tampak perubahannya, yang tadinya kalau pipis dia nangisnya heboh. Alhamdulillah sekarang biasa saja.

InSyaAllah hari kamis nanti jadwal Taqi kontrol kembali untuk melepas smart clampnya. Semoga sehat-sehat ya Nak, jadi anak yang kuat dan shalih.

Semoga bunda bisa merawatmu dengan baik...

Jumat, 13 Juli 2018

Mudik Selalu Meninggalkan "Rasa"

(Ditulis 13 Juli 2017)

Sepulangnya dari mudik yang cukup lama.
Selalu saja menyisakan "rasa".

Rasa rindu yang indah sampai2 ingin sekali kembali sekejap saja ke masa itu.

Masa2 ketika diri ini selalu diurus oleh Bunda, dimanjakan oleh Ayah.

Penuh kasih sayang dari keduanya tanpa mencemaskan apa pun juga.

Masa2 ketika menantikan Ayah pulang bekerja, berebut bercerita dengan 4 saudara yg amat kucinta.

Suasana rumah yang ramai, terkadang ada pertengkaran sesama saudara lalu berakhir dengan perdamaian.

Bagaimana cemas menanti Ibunda pulang bahkan sampai menunggu di pinggir sungai dekat rumah.

Ah..
Rindunya...

Tersadar oleh lamunan, kutatap anak2 yang sedang lelap.

Mungkin kelak...
Jika Allah swt izinkan.
Aku juga akan sampai pada masa yang mungkin sekarang dirasakan ayah bunda.

Kesepian...

Menanti anak2 pulang.
Moment mudik lebaran jd  penuh pengharapan.

Ketika anak2 sudah sibuk dengan kehidupannya masing2.

Maka masa2 ini akan amat dirindukan.

Ketika solat sulit untuk khusu karena anak yang satu sibuk bercanda dan yang lainnya menangis minta perhatian.

Ketika rumah tak bisa rapi, pergi ke manapun ada yang membuntuti, bahkan tidur tak bisa nyenyak lagi.

Rasa rindu ini adalah pengingat diri dari Allah subhanahu wata'ala.

Agar hidup tak sekadar memutar memori tapi harus terus mendekatkan diri

Pada Sang Ilahi...

Ketika tak banyak yg bisa dilakukan untuk memberikan bakti

Maka sebaik2nya adalah berusaha menjadi anak yang shalih yang selalu mendoakan Ayah  Bunda terkasih.

Semoga kelak Allah swt ridhai agar semua berkumpul kembali dalam surgaNya nan abadi....

#edisijetlag #padahaldeket

--------------------------
Teriring doa untuk saudara2ku yang sedang dalam penantian, agar Allah swt mudahkan jalannya menjemput pasangan.
Yang menanti buah hati, Allah swt perkenankan melahirkan generasi.
Yang berduka karena kehilangan, semoga Allah swt kuatkan dan ringankan rasa dukanya.

Sungguh, nikmat iman dan islam jualah yang kan kuatkan diri agar selalu semangat berikhtiar dan bertawakkal padaNya.
Semua pun atas rahmat dan karuniaNya.
Semoga Allah swt selalu berikan nikmat ini hingga akhir hayat nanti.

Aamiin.

Ketika Anak Belajar Puasa


(Ditulis 21 Juni 2016)

Tahun lalu, Dzikri mulai belajar puasa di usianya yang ke-5...
Diawali dari pengenalan bulan Ramadhan dan bagaimana umat muslim berpuasa. Dzikri semangat ingin mencoba...

Coba ikuti tips dari Ustadzah Poppy...

1. Diawali dengan tidak berbohong. Misalnya dengan mengatakan sarapan pagi sebagai sahur.
2. Ajak anak makan sahur agar ikut mendapatkan keberkahannya.
3. Tanamkan kisah Rasulullah saw dan para sahabat.
4. Menghibur anak ketika merasa lapar dengan memberi/ membuatkannya mainan seperti yang dilakukan para Sahabat Rasulullah saw.

Alhamdulillah. .. bisa full 8 hari...
Biasanya batal karena haus setelah main dan berlari2, juga karena lelah di perjalanan (waktu itu ikut sanlat yang lokasinya cukup jauh, harus naik angkot, kereta dan bajaj).

Awal2 puasa pun kalau sudah jam 10 pagi mulai uring2an karena lapar dan haus. Biasanya dilihat dulu kondisinya, kalau masih kuat maka coba dialihkan dengan mengajak bermain dan diceritakan kisah para sahabat yang gigih dalam berpuasa karena ingin disayang Allah swt. Bahkan anak2nya pun ikut berpuasa. Alhamdulillah cukup berhasil untuk bertahan hingga dzuhur.

Kalau dzuhur sudah berbuka, biasanya diberi waktu untuk makan dan minum karena setelah itu Dzikri diajak untuk berpuasa lagi hingga maghrib.
Paling semangat kalau sudah adzan... Nanti Dzikri akan menempelkan stiker di kalender Ramadhanku pertanda 1 hari telah berlalu....

Tahun ini...
Alhamdulillah. ..
Atas kesadaran, kemauan dan semangatnya sendiri Dzikri berpuasa hingga full sampai maghrib. Meski di hadapannya ada teman atau saudara yang tidak berpuasa, alhamdulillah Dzikri tidak tergoda. Sudah bisa menahan diri untuk tidak bermain atau berlari2 sehingga membuatnya kehausan...

Hanya sajaa...
Sejak sabtu, Dzikri sakit.
Awalnya tetap memaksa untuk berpuasa...

Bunda : "Dzikri, g usah puasa ya.. ayo makan terus minum yang banyak, kan dzikri lagi demam"

Dzikri : "engga, Dzikri lagi puasa"

Bunda : "tapi kan Dzikri lagi sakit... Kalau sakit, gak apa2 g puasa. Allah kasih keringanan, ruksoh namanya. Untuk yang sakit, boleh g berpuasa, nanti bisa dibayar hutang puasanya. Tapi Dzikri g bayar juga gak apa2 kan belum wajib"

Dzikri : "ada di al Quran ya bun?"

Bunda: "iya, ada"

Dzikri : "ya udah, nanti Dzuhur Dzikri buka puasa. Nanti bulan syawal Dzikri bayar hutang terus sahur"

MaSyaAllah..
semangat sehat ya sayang...
Syafakallah...
smoga Allah swt menjadikanmu anak yang shalih..
aamiin...

Besok bunda sahur sendirian deh karena ayah sedang dinas keluar kota....

*anak2 memang berbeda2 dalam hal berpuasa...
ada yg sudah bisa full sejak 4 tahun atau ada yg baru bisa full saat 7 tahun. Terpenting penanaman iman yang kokoh, menjadi PR besar untuk orangtua. Jika iman sudah menancap kuat, maka kelak keimanan itu akan menjaganya agar slalu dalam fitrah kebaikan.

Ah...
masih jauh dari sempurna sebagai orangtua...
tapi harus selalu berusaha...

*jamnya me time emak2 kesepian ^_^*

Kamis, 28 Juni 2018

Kata Orang, Mengasuh 3 Anak itu lebih santai.... Benarkah??

Kata Orang, Mengasuh 3 Anak itu lebih santai....

Benarkah??


Pengalaman mempunyai anak pertama tentu tak terlupakan.

Belajar menjadi orangtua, mengalami berbagai hal.

Punya anak kedua, butuh lagi penyesuaian. Ada yang harus belajar mencintai anak kedua karena terbayang-bayang si sulung yang masih butuh perhatian.

Begitu anak ketiga, kata orang biasanya orangtua bisa lebih santai karena sudah lebih berpengalaman.

Itu memang saya rasakan betul. Apalagi jarak anak ke-2 dan ke-3 hanya terpaut 17 bulan. Artinya, saya harus mengasuh si sulung yang sudah berusia 7 tahun, dan kedua adiknya yang terbilang masih bayi.

Mengasuh dua bayi tentunya cukup menyibukkan. Sehingga, bagi saya, tak ada waktu untuk merasakan lagi baby blues syndrome, mellow, dan sebagainya.

Dan benar, alhamdulillah, saya menikmati benar menjadi seorang ibu yang telah melahirkan 4 anak, dan kini harus mengasuh 3 anak.

Mungkin karena sudah tidak panik lagi kalau mendengar tangisan bayi. Sudah mulai hafal ritme dan rutinitasnya serta sudah pernah belajar dari pengalaman anak pertama dan kedua meskipun setiap kali punya bayi tetap saja harus belajar dari awal lagi. Ilmu pengetahuan, khususnya tentang anak, kan juga terus berkembang.

Alhamdulillah anak-anak jadi pelipur lara. Saya masih tetap bisa menemani Dzikri (7 tahun) belajar, dan bermain sesekali. Zahira (17 bulan) pun bisa mendapatkan ASI yang masih menjadi haknya. Adik bayi Syakira masih banyak tertidur.

Seiring berjalannya waktu disertai perkembangan anak yang semakin meningkat (alhamdulillah), sang bayi pun semakin lekat dan menyadari bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dengan sang bunda. Kecemasan akan perpisahan pun mulai ia rasa, sehingga ditinggal bunda meski hanya selangkah, ia akan menangis.

Oke, ruang gerak rasanya menjadi terbatas.

Yang sulung pun mulai protes akan kesibukan bundanya yang mengurus kedua adiknya. "Kok bunda urus adik2 terus sih, kan Dzikri juga mau main sama bunda" ujarnya. Sampai terkadang ia marah-marah juga karena merasa bosan atau kesepian.

Sementara Zahira, memasuki usia dua tahun, semakin nampak egosentrisnya. Ia tak mau adiknya memakai atau bahkan menyentuh barang miliknya. Tak segan-segan ia memukul adiknya sehingga menangis. Padahal tadinya sudah anteng ditinggal bunda.

Begitulah, jadinya memang belum aman meninggalkan adik bermain bersama sang kakak yang masih balita.

Zahira juga sekarang menuntut perhatian lebih dari saya. Adik digendong turun dari kasur, ia minta juga.

Adik menyusu, ia mau juga. Jadi harus terbiasa mendengar tangisan bergantian anak-anak.

Kalau pernah lihat video tentang tangisan anak, yang katanya jangan biarkan anak menangis lama karena khawatir akan tumbuh kecemasan dalam dirinya.

Well, buat saya mah, yang penting anak-anak terurus.kalau Zahira lagi harus dicebokin, ya mau ga mau Syakira ditinggal nangis-nangis, yang kadang nangisnya pun dramatis.

Ga selamanya saya kuat, kadang ikutan nangis juga kalau anak-anak pada nangis.

Kadang mikir "apa saya mulai stres ya?", Soalnya jadi mudah lupa, dan lebih suka tidur. Eh itu mah males aja kali ya..hihihi..

Tapi beneran, hal-hal kecil dari diri kita kalau ada yang berubah ga baik tentu harus diwaspadai.

Harus banyak tingkatkan syukur dan ilmu.

Managemen waktu harus diperhatikan lagi.

Saya juga sekarang sudah mendelegasikan tugas menyetrika ke laundry kiloan, heuheu...

Alhamdulillah suami sesekali ajak berlibur, bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk bertafakur dan memperdalam rasa syukur, InSyaAllah.

Meski kadang tak tahan dengan kerewelan anak-anak, tapi lebih banyak tingkah lucu mereka yang jadi pelipur lara.

Terbentang harapan dalam diri mereka kelak kan mengantar ke surga.

PR besar agar tak mengeluh atau merasa rapuh. Masih banyak emak-emak strong yang saya mah apalah, begini aja udah merasa berat. Harus banyak belajar dari mereka, terutama dari kesabaran ibunda para ulama yang dari rahimnya Allah subhanahu wata'ala takdirkan terlahir sosok yang shalih dibutuhkan umat.

Semoga selalu diberikan kesabaran, karena ini tak kan lama.
Ini akan berlalu
Jangan sampai pergi meninggalkan sesal dalam hidup


#emakyangbelajarsabar

Jumat, 23 Februari 2018

Zahira Ke Mana?

Jumat pagi menjelang siang yang cerah.

Bunda sibuk mengurus adik bayi, rumah tiba2 sepi. Abang dan teteh rupanya main di luar.

"Bun, Zahira di rumah A g mau pulang" Kata Dzikri ketika pulang.

Ya sudah Bunda susul sambil gendong adik. Tapi anaknya memang g mau pulang, malah mau keluar pagar. Lalu balik lagi ikutin anak tetangga ke rumah ujung.

Bunda pulang, susuin adik sebentar lalu susul lagi. Zahira masih anteng di rumah ujung dan g mau pulang.

Sampai 2 kali disusulin g mau pulang juga. Pas ke-3 kali Zahira udah g ada.

Kata anak tetangga Zahira pun g ada di dalam rumah. Kepikiran, pintunya terbuka, jangan2 keluar pagar.
Akhirnya bunda cari sampai ke lapangan.

Di poskamling samping lapangan ada anak sekolahan lagi duduk2 sendirian. Bunda langsung tanya "Kak... Lihat anak kecil g pakai baju pink?"

"Lihat tadi ke sana" kata anak itu sambil nunjuk jalan ke arah luar gang.

Ya Allah...
Bunda langsung lanjut jalan lagi nyariin. Tanya lagi sama orang di pertigaan sebelum keluar gang, katanya g lihat karena baru keluar rumah.

Cari ke jalan raya. G ada...
Sepi...
Ke dalam gang, muter ke lapangan lagi, juga g ada.

Sepi...

Tanya lagi sama anak tadi "Kak, tadi anaknya g pake sendal kan? Terus ke sana ya?" sambil nunjuk jalan.

"Iya, kan tadi aku lagi main hp
 Terus aku lihat, tapi g tau sih balik lagi apa ngga" Kata anak itu.

Bunda memutuskan untuk balik lagi, tengok lagi ke rumah tetangga yang di ujung. Masih g ada kata anak tetangga.

Pulang ke rumah, taruh sendal yang tadi dibawa2 untuk Zahira sekalian ambil hp. Bilang sama Dzikri yang lagi ngepel "Bang, Zahira g ada... Bunda udah cari, tapi g ada. Abang di rumah aja ya jaga Syakira. Bunda cari Zahira dulu".

Kali ini bunda cari pakai sepeda Dzikri yang g cocok banget dah buat emak2, bannya pun kempes. Cari lagi ke depan jalan. Tanya orang warung depan katanya g lihat, tanya toko bangunan dan warung makan juga sama.

Jalanan sepi...


Ya Allah ini anak ke mana ya...
Dulu depok pernah heboh dengan kasus penculikan anak. Ah tapi belum 1x24 jam mah kan belum bisa lapor bukan.

Cari kemana lagi inii...

Oke.. Telpon Ayahnya...

Sambil ngos2an "Assalamu'alaikum Yah... Zahira g ada... Bunda lagi cari"

Eh.. Itu di seberang kayanya ada anak pake baju pink.

Muter nyebrang lapangan, dan ternyata bukan Zahira. Ketemu lagi anak sekolah tadi sama temen2nya. G ada yang liat juga.

Lanjut telepon lagi ayahnya.

"Yah g ada, tadi di rumah tetangga, terus g ada. Gimana ya..." (nada panik dan ngos2an)

"Coba cari ke belakang, terus bilang ke Pak RT supaya diumumin di mesjid, Ayah pulang ya..."
Jawab suami dengan nada bersahaja tea.

Sambil naik sepeda berkelebat suara "ini ibunya gimana sih g jagain anaknya".

Tapi juga asa g  mungkin anak ini berani jauh kalau g ditemenin atau dilihatin.

Pas lewat di poskamling ada bapak2 yang datang tapi setelah ditanya g lihat juga katanya.

Ya udah deh ke Pak RT, tapi ke rumah dulu, coba ke tetangga lagi, siapa tahu anaknya nyelip.

Sampe depan cluster rumah....

Anak kecil pakai baju pink lagi jalan santai pakai sandal kebesaran.

"Ya Allah Zahira, Bunda nyariin"

Anak tetangga juga lagi ke warung sebelah cluster, pas ditanya katanya dari rumahnya (rumahnya sebelah yang ujung, yang mana tadi pintunya tertutup jadi g nyari ke sana).

Alhamdulillaah...
Langsung pulang, minta tolong Dzikri bawa sepeda. Sementara tangis teriakan Syakira sudah terdengar sampai ujung cluster.

Telepon Ayahnya deh ngabarin takut panik.

Anaknya mah hare haree....
Tak mengerti apa2....

Video Call sama Ayahnya, sementara Bundanya lelaah.

Oke lain kali yaaa...
• Kalau g yakin anaknya diem2 aja lebih baik ajak pulang aja. Bujukin di rumah (mendesak, ada bayi).
• Cari ke tempat terdekat dulu.
• Kalau punya planning olahraga, kerjain. Jangan nunggu dipaksa beginih (minggu lalu g olahraga).

Kamis, 22 Februari 2018

Menghadapi Anak dengan Usia Hampir 2 Tahun


Alhamdulillaah ya merasakan lagi anak mau memasuki usia dua tahun, inSyaAllah.

Usia eksplorasi yang semakin menjadi, semakin ekspresif, menunjukkan otoritasnya sebagai individu (baca: ga mau dilarang atau diatur untuk hal tertentu), paham berbagai instruksi dan suka menguji coba.

Bersyukur, alhamdulillah hampir mencapai dua tahun meski pernah dirawat dua kali karena sakit. Semoga seterusnya sehat selalu ya.

Bundanya harus berusaha sabar dan menguatkan kesabaran tea.

Bagaimana tidak?

Sekarang anak cantik udah bisa buka kulkas sendiri. Stok bahan makanan dibenahin sama doi. Dipindah2 posisi, bahkan ada yang ditaruh di luar kulkas. Sementara 5 butir putih telur harus merelakan dirinya berserakan di lantai (oke, bunda g jadi bikin kue, haha). Sedangkan teko berisi air es sudah pasrah diobok2.

Oleh karena bunda juga ada kesibukan lain, terutama urus adik bayi, terpaksa itu kulkas dilakban bagian atasnya. Alhasil pas buru2 mau buka kulkas, bunda kerepotan sendiri... Hehehe....

Belum lagi, anak batita ini juga seneng nyuci, ya baju, ya piring, ya dirinya sendiri. Jadi, pintu belakang harus terbiasa ditutup. Khawatir nguprek sendiri, licin soalnya.

Kalau makan juga g mau disuapin, maunya makan sendiri namun berakhir dengan remah2 nasi yang bergelimpangan, seolah remah2 itu berteriak "Ahh... Dia menyia2kanku, aku terserak tak mampu bergerak" (apa sih).

Maka, kalau makan harus ditemani. Bundanya siap dan sigap menjaga agar tak ada yang sia2, biarlah masuk ke perut bunda yang pada akhirnya pun untuk anak2 juga, inSyaAllah.

Sekarang, anak nyaris dua tahun ini juga sudah inisiatif ambil kursi plastik dan menaikinya demi menjangkau benda2 yang terletak di atas.

Tentu sajahh...
Yaa...
Tentu saja pemirsa...

Benda2 yang di atas itu juga harus menguatkan diri karena anak cantik ini akan melemparnya ke bawah.

Di usia ini, anak 22 bulan ini juga sedang belajar berkomunikasi dan berinteraksi. Ia suka berteriak sehingga Bunda harus siap sedia berkata "bicara yang baik ya. Zahira mau apa?". Lalu diajarkan untuk mengutarakan maksudnya sehingga ia bisa mengikuti. Kata favoritnya adalah "g mau".

Sebagai Kakak cilik, alhamdulillah sayang sama adik. Adiknya dibacakan buku, meskipun bukunya terbalik dan suara yang keluar dari mulutnya adalah 'Roarrr...', menirukan suara harimau, hihihi....

Terkadang adiknya disuruh gonta ganti baju, dicarikan yang bagus menurutnya. Kalau nangis diberikannya mainan.

Konflik terjadi ketika ia mau menyusu sementara adiknya belum selesai. Maka sang adik akan ditarik sampai lepas lalu ia berkata "Bismillaah..." (baca doa mau nyusu).

Hobinya akhir2 ini adalah 'menaruh' barang2 di selipan belakang kasur, yang mana sulit untuk mengambilnya kembali. Segala pensil warna, huruf2 scrabble, hingga centong nasi sukses berada di sana (semoga betah yaa di sana, tunggu saja, inSyaAllah nanti kalian diselamatkan, setelah ada bala bantuan yang bisa menggeser kasurnya, hehe).

Kalau bundanya udah mulai kesal, protes sama apa yang dilakukannya, biasanya dia nyengir depan muka bundanya. Terus aja nyengir sampai wajah bundanya kondusif lagi. Hahaha...

MaSyaAllah Naak...
Semoga sabar selalu bundamu ini.
Semoga jadi anak yang shalihah.

Aamiin


Kamis, 04 Agustus 2016

Hey, Bercanda pun Ada Adabnya...

Akhir-akhir ini, Dzikri bisa dibilang "takut"an (g tega bilang penakut).
Mau ke kamar mandi harus ditemani, bahkan hanya berbeda ruangan dengan bundanya pun dia takut...
Sebelumnya alhamdulillah terbiasa solat 5 waktu ke mesjid meski sendirian, tapi sekarang harus ditemani...

Kalau ditanya takut apa, jawabnya "takut ada hantu", "takut ada pocong". Rupa2nya itu semua dia tahu dari teman2nya...
Kalau ditanya apa itu pocong jawabnya "monster burung yang bisa terbang". Heu2..
Sebenarnya dia g tahu, tapi karena ditakut2i akhirnya meski g mengerti, ya jadi takut juga..
Padahal maksudnya hanya bercanda...
Kalau diperhatikan baik2, ketika dia bermain, ditakut2i atau dikejar2 oleh teman bermain yang berpura2 jadi monster/ hantu, wajahnya betul2 tampak takut tapi ditutupi dengan tawanya yang lepas yang sesungguhnya agak histeris.
Kalau sudah begitu, biasanya suasana jadi ramai karena Dzikri berteriak dan berlari...

Tapi
Ternyata....
Bercanda juga ada adabnya...

Dzikri lagi senang2nya membaca buku "Aku Cinta Rasulullah" dari perisai Qids, dalam buku diceritakan bahwa Rasulullah saw bukanlah orang yang selalu serius. Beliau juga suka bercanda bersama keluarga dan para sahabat. Lalu bagaimana adabnya?

1. Rasulullah saw melarang kita bercanda dengan berbohong. Boleh bercanda, tapi tidak berdusta.

2. Tidak bercanda dengan menjelek-jelekkan orang lain.

3. Tidak bercanda dengan menakut-nakuti.

Rasulullah saw bersabda "Diharamkan bagi seorang muslim membuat takut muslim lainnya" (HR. Abu Dawud).

Pantas saja ya, menakut2i itu hal yang dilarang meski hanya bercanda, karena dampaknya amat merugikan...

Ya, untuk sekarang, Dzikri memang belum seberani seperti sebelumnya. Harus pelan2 dan bertahap karena takut yang dirasakannya juga tak bisa disepelekan. Toh, saya juga dulu pernah jadi orang yang penakut, setiap malam mesti pindah ke kamar mama.. hihi...

Semoga rasa "takut" ini segera teratasi, berganti pada rasa takut yang baik...

#harussabar
#sabarlagi
#ekstrasabar

:)