Kamis, 28 Juni 2018

Kata Orang, Mengasuh 3 Anak itu lebih santai.... Benarkah??

Kata Orang, Mengasuh 3 Anak itu lebih santai....

Benarkah??


Pengalaman mempunyai anak pertama tentu tak terlupakan.

Belajar menjadi orangtua, mengalami berbagai hal.

Punya anak kedua, butuh lagi penyesuaian. Ada yang harus belajar mencintai anak kedua karena terbayang-bayang si sulung yang masih butuh perhatian.

Begitu anak ketiga, kata orang biasanya orangtua bisa lebih santai karena sudah lebih berpengalaman.

Itu memang saya rasakan betul. Apalagi jarak anak ke-2 dan ke-3 hanya terpaut 17 bulan. Artinya, saya harus mengasuh si sulung yang sudah berusia 7 tahun, dan kedua adiknya yang terbilang masih bayi.

Mengasuh dua bayi tentunya cukup menyibukkan. Sehingga, bagi saya, tak ada waktu untuk merasakan lagi baby blues syndrome, mellow, dan sebagainya.

Dan benar, alhamdulillah, saya menikmati benar menjadi seorang ibu yang telah melahirkan 4 anak, dan kini harus mengasuh 3 anak.

Mungkin karena sudah tidak panik lagi kalau mendengar tangisan bayi. Sudah mulai hafal ritme dan rutinitasnya serta sudah pernah belajar dari pengalaman anak pertama dan kedua meskipun setiap kali punya bayi tetap saja harus belajar dari awal lagi. Ilmu pengetahuan, khususnya tentang anak, kan juga terus berkembang.

Alhamdulillah anak-anak jadi pelipur lara. Saya masih tetap bisa menemani Dzikri (7 tahun) belajar, dan bermain sesekali. Zahira (17 bulan) pun bisa mendapatkan ASI yang masih menjadi haknya. Adik bayi Syakira masih banyak tertidur.

Seiring berjalannya waktu disertai perkembangan anak yang semakin meningkat (alhamdulillah), sang bayi pun semakin lekat dan menyadari bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dengan sang bunda. Kecemasan akan perpisahan pun mulai ia rasa, sehingga ditinggal bunda meski hanya selangkah, ia akan menangis.

Oke, ruang gerak rasanya menjadi terbatas.

Yang sulung pun mulai protes akan kesibukan bundanya yang mengurus kedua adiknya. "Kok bunda urus adik2 terus sih, kan Dzikri juga mau main sama bunda" ujarnya. Sampai terkadang ia marah-marah juga karena merasa bosan atau kesepian.

Sementara Zahira, memasuki usia dua tahun, semakin nampak egosentrisnya. Ia tak mau adiknya memakai atau bahkan menyentuh barang miliknya. Tak segan-segan ia memukul adiknya sehingga menangis. Padahal tadinya sudah anteng ditinggal bunda.

Begitulah, jadinya memang belum aman meninggalkan adik bermain bersama sang kakak yang masih balita.

Zahira juga sekarang menuntut perhatian lebih dari saya. Adik digendong turun dari kasur, ia minta juga.

Adik menyusu, ia mau juga. Jadi harus terbiasa mendengar tangisan bergantian anak-anak.

Kalau pernah lihat video tentang tangisan anak, yang katanya jangan biarkan anak menangis lama karena khawatir akan tumbuh kecemasan dalam dirinya.

Well, buat saya mah, yang penting anak-anak terurus.kalau Zahira lagi harus dicebokin, ya mau ga mau Syakira ditinggal nangis-nangis, yang kadang nangisnya pun dramatis.

Ga selamanya saya kuat, kadang ikutan nangis juga kalau anak-anak pada nangis.

Kadang mikir "apa saya mulai stres ya?", Soalnya jadi mudah lupa, dan lebih suka tidur. Eh itu mah males aja kali ya..hihihi..

Tapi beneran, hal-hal kecil dari diri kita kalau ada yang berubah ga baik tentu harus diwaspadai.

Harus banyak tingkatkan syukur dan ilmu.

Managemen waktu harus diperhatikan lagi.

Saya juga sekarang sudah mendelegasikan tugas menyetrika ke laundry kiloan, heuheu...

Alhamdulillah suami sesekali ajak berlibur, bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk bertafakur dan memperdalam rasa syukur, InSyaAllah.

Meski kadang tak tahan dengan kerewelan anak-anak, tapi lebih banyak tingkah lucu mereka yang jadi pelipur lara.

Terbentang harapan dalam diri mereka kelak kan mengantar ke surga.

PR besar agar tak mengeluh atau merasa rapuh. Masih banyak emak-emak strong yang saya mah apalah, begini aja udah merasa berat. Harus banyak belajar dari mereka, terutama dari kesabaran ibunda para ulama yang dari rahimnya Allah subhanahu wata'ala takdirkan terlahir sosok yang shalih dibutuhkan umat.

Semoga selalu diberikan kesabaran, karena ini tak kan lama.
Ini akan berlalu
Jangan sampai pergi meninggalkan sesal dalam hidup


#emakyangbelajarsabar