Jumat, 30 Januari 2015

Warisan Terindah untuk Buah Hati

Resume diskusi Grup 3 HS Muslim Nusantara.
Hari ini tgl 29 Januari 2015. Tema kali ini adalah :

๐Ÿฌ๐Ÿฌ Warisan Terindah Untuk Buah Hati๐Ÿฌ๐Ÿฌ

๐ŸŒฑNarasumber : Ikhsanun Kamil Pratama a.k.a Kang Canun
Moderator : Seruni NQ
Notulensi: Tahmidah Rahmi

๐ŸŒฑDurasi 2 jam
Pkl. 07.00 - 09.00

Berikut saya share cv beliau:

Ikhsanun kamil pratama
Aktivitas : bersama istri dikenal sbagai Romantic-Couple Trainer. Aktivitas rutinnya konselling pernikahan, marriage trainer dan keseimbangan karir-keluarga d bbrp instansi nasional
Penulis buku2 pernikahan National BestSeller, di antarany 'jodoh dunia akhirat'

InsyaAllah rutin berbagi tips membangun pernikahan harmonis di:
Fanslage: romantic couple canun fufu

Assalamualaikum ๐Ÿ˜Š
Perkenalkan saya ikhsanun kamil pratama, biasa dipanggil canun
Aktivitas harian sering menerima konselling pernikahan, dan berbagi ttg pelatihan bagaimana menyeimbangkan karier keluarga di beberapa perusahaan swasta dan BUMN.

Alhamdulillah, bersama istri Allah izinkan saya dan istri berbagi ilmu bersama, kami sudah menulis buku dan masuk national bestseller dlm wkt 1 bln, yg berjudul 'Jodoh Dunia Akhirat'
Apa yg sy share boleh jd bkn sesuati yg baru, mungkin ibu2 sudah mengetahuinya. Hanya saja apa yg saya share saat ini, penting utk mensharekan k ibu2 skalian, krn fakta d lapangan yg saya temui, hal2 sederhana ini SANGAT JARANG dilakukan
Ibu2, ada kabar yg menyedihkan. Tahun 2012, 1 dari 7 pernikahan berakkhir perceraian.

Apakah 6 sisanya berakhir bahagia?

Brp byk dari sisa 6 ini kehidupan pernikahannya hambar? Sudah kering cinta sehingga hanya sekedar jalankan kewajibannya?
Brp byk dari sisa 6 ini yg diwarnai org ketiga didalamnya?
Brp byk dari sisa 6 ini yg memilih sekedar bertahan demi anak?
Memang, perceraian berdampak psikologis pd anak, tp apakah ketidakharmonisan pernikahan tidak berdampak sama sekali ke psikologis anak?

Tahukah Anda? Anak belajar banyak dari pernikahan orangtuanya...

Jika suami istri tak kompak dan lembek, maka anak akan memiliki pendirian yang lemah.

Jika Istri melarang sang anak untuk menonton televisi, dan menyuruh belajar, sedang suami memperbolehkan sang anak untuk belajar sambil nonton TV, maka ketidakkompakan orangtuanya akan membuatnya berpihak pada satu pihak, dan bisa saja menjadi opportunis

Jika suami istri sering berselisih dalam konflik rumahtangga, dan 'menyelesaikannya' dengan pertengkaran, itu akan menjadi pembelajaran bagi anak untuk gunakan kekerasan jika menyelesaikan masalah...

Jika suami istri tidak ramah satu sama lain, anak akan belajar untuk menjadi cuek...

Jika suami istri sering mengumpat satu sama lain, maka anak akan belajar menjadi rendah diri...

Jika suami istri saling menggurui, saling berperan menjadi bos, maka anak akan menjauh dari orangtuanya...

Jika suami istri tegas dan kompak dalam kebaikan, maka anak akan memiliki pendirian yang kuat, mampu bedakan mana benar mana salah...

Jika suami istri saling support dalam hadapi masalah kehidupan, maka anak akan belajar menghargai diri sendiri...

Jika suami istri membangun lingkungan yang bersahabat, maka muncul RESPECT dari anak, tak perlu diminta....

Jika suami istri ringan mulut untuk mengucapkan TERIMA KASIH, maka anak akan belajar menghargai manusia lain...

Jika suami istri ringan mulut untuk mengucapkan MAAF atas ketidaknyamanan yang dirasakan pasangan, anak pun akan belajar bahwa dirinya TIDAK SELALU benar...

Jika suami istri saling terbuka akan keluhan pasangannya dan tiada 'rahasia antara kita', maka anak pun senang untuk terbuka dengan orangtuanya...
Terbuka tentang lawan jenis yang mulai disukai...
Terbuka tentang kapan pertama kali mimpi basah...
Terbuka tentang keinginannya untuk mencicipi rokok...
Terbuka tentang keinginan untuk sesekali bolos...
Sehingga kita bisa lakukan pencegahan dan proteksi anak dari bisikan setan yang lebih jauh lagi...

Maka sebetulnya...
Pernikahan harmonis Anda adalah bekal bagi anak anda...
Pernikahan harmonis Anda adalah kunci bagi pola parenting Anda...
Pernikahan harmonis Anda adalah warisan yang sangat berharga bagi masa depan anak Anda...

Mari ciptakan dan berikan warisan terindah itu untuk anak-anak kita...

Sulit? Memang betul, itulah tandanya bahwa pernikahan harmonis Anda sesungguhnya sangat berharga. :)
Maka hari ini, kita diskusi bersama bagaimana cara membangun surga dlm rumahtangga kita ๐Ÿ˜Š
Yg rasul bilang tentang 'baiti jannati'
Pada dasarnya, semua manusia memiliki kebutuhan fisik dan metafisik
Kebutuhan fisik sperti makan minum tidur, rumah, dana pendidikan, dana lain2, dll. Pokoknya kebutuhan yg bersufat fisik
Sedang manusia jg memiliki kebutuhan metafisik yg mencakup kebutuhan emosional dan spiritual, seperti didengarkan, dicintai, dibimbing, etc...
Nah kebanyakan rumahtangga, kebanyakan pernikahan fokusnya sekedar memenuhi kebutuhan fisik. Tanpa memenuhi kebutuhan metafisik
Maka, dampaknya, suami, istri, anak, tinggal dalam satu rumah yg sama, makan dlm satu meja yg sama, tp masing2 merasa kesepian. They live on same house but they are homeless....
Dan suami yg homeless sangat mudah dirayu setan utk selingkuh, jarang pulang, etc

Istri yg homeless, jrg didengar, akan lebih mudah dirayu utk umbar aib pernikahan d socmed serta selingkuh
Anak yg homeless akan lebih mudah dirayu untuk jatuh ke seks bebas, narkoba, dan hal2 lain yg tak diinginkan
Maka, baiti jannati, surga dunia yg dimaksud disini adalah bagaimana caranya membangun Home dalam House kita. Krn dgn membangun Home, kita sedang menjalankan sebuah pesan Illahi, melindungi keluarga dari api neraka....
=========================================

Termin 1
Mba Nofrida
Bagaimana cara memutus rantai jika ortu tsb adl "korban" dr kondisi rumah tangga ortu yg kurang harmonis?

Jawab:
Pada dasarnya, semua manusia memiliki wadah emosi, yg kita tidak tau ukurannya sebesar apa. Apakah sebesar botol 600 ml, 1.5L, atau seukuran galon, bahkan ada seluas samudera, kita tidak tau itu. Hanya bisa menilai saja
Nah wadah emosi ini seringkali bertambah isinya kalau emosi, baik yg positif maupun yg negatif, tidak dikeluarkan
Bayangkan saja kejadian menyenangkn dalam hidup, misal wisuda atau akad nikah
Saat2 bahagia sperti itu, anda tak diperbolehkan sama sekali utk ekspresikan perasaan anda, bahkan utk senyum pun tidak boleh, rasany nyaman tidak?
Tentu rasanya tidak nyaman. Ini kalau emosi positif dipendam saja, rasanya tidak nyaman. Apalagi kalau emosi negatif yg terpendam? Waah rasanya tidak nyaman sekali, rasanya seluruh badan bergetar menahan itu semua. Wadah emosi sedikit demi sedikit mulai penuh, dan akan ada masa wadah emosi mulai luber, ini adalah kondisi yg sangat sensitif alias mudah marah
Nah, ciri wadah emosi sudah penuh:
Secara fisik, bahu akan terasa berat seperti ada beban yg menimpa. Punggung berat, dada sesak, dan mata cenderung merah dan berkaca2
Karena emosi yg terpendam ini, karena luka hati yg belum tersembuhkan ini, seringkali bagaimana cara kita memperlakukan pasangan dan anak akan SANGAT MIRIP SEKALI atau BERLAWANAN jauh dari cara ortu perlakukan pasangan dan anaknya, kita sndiri salah satunya
Maka, jika luka hati terhadap rumahtangga ortu masih ada, cenderung kita akan mewariskannya pada pasangan dan anak kita, menjadi mata rantai
Nah, karena itu utk memutuskan mata rantainya ini ada 2:
1. cleansing
2. Upgrading
Apa maksudny cleansing, adalah proses emotional healing, proses membersihkan wadah emosi dari sampah2 emosi yg telah mnumpuk bertahun2
Kalau upgrading? Yg ini mksudnya belajar. Belajar ilmu dan SKILL pernikahan. Karena dari sd sampai kuliah, kita hanya dibekali ilmu dan skill untuk memenuhi house tp skill untuk memenuhi home tidak punya. Ketika tidak belajar, maka cara orangtua perlakukan pasangan akan menjadi referensi yg akan kita lakukan di rumahtangga kita
Terus maksudnya skill pernikahan? Ya yg namanya pernikahan tidak bisa hanya sekedar teori. Mirip seperti berenang, tidak bisa cuma belajar tata cara gerak gaya punggung atau gaya dada, tapi harus latihan dikit2, nyemplung tenggelam dulu, dilatih nanti lama2 bisa.
Done ๐Ÿ˜Š


Teh Ana Ummu Hifdzi
Tolong dijelaskan bagaimana cara membangun Home dalam House, apa saja yg mesti dilakukan Kang Canun?
Haturnuhun..

Jawab:
Ada 3 step, bu ana.
1. Cleansing
2. Nurturing
3. Designing

Cleansing penjelasannya seperti di atas. Nurturing, proses ini layaknya api unggun. Api unggun yg membara terbakar besar waktu kita rasakan di perkemahan, kalau didiamkan begitu saja akan lenyap tertelan waktu, mungkin hanya 2 jam tahannya. Ia perlu dipelihara dengan diberi minyak lagi, etc. Nah begitu pula dengan api asmara. Api asmara yg membakar besar saat akad nikah, jika tidak dipelihara akan padam jg. Nurturing adalah proses yg harus dilakukan setiap hari agar api asmara minimal menyala tidak meredup. Minimal loh ya.
Yg paling dasar di nurturing ini adalah kita harus Presence di hadapan pasangan dan anak. Maksudnya presence itu hadir, tidak diganggu dgn gadget, kerjaan rumah, dan kerjaan kantor. Hadir menghangatkan suasana di rumah. Optimalkan ruang keluarga dgn fokus pada masing2 anggota keluarga, bukan dgn tv. Karena kalau fokusnya tv, bukan ruang keluarga, tapi ruang multimedia. Ini dasarnya yg paling dasar
Kmudian designing ini mendesain pernikahan seperti apa yg mau dibangun bersama. Keluarga seperti apa yg mau dibentuk. Bagaimana pembagian perannya, mengingat kebutuhan House tak bisa didelegasikan (kita tidak bisa minta orang lain nafkahi keluarga kita kan?), apalagi kebutuhan Home tak bisa didelegasikan. Ini akan terkait dgn keseimbangan karir-keluarga, boleh long-distance marriage atau tidak

Dan ketiga proses ini, sekali lagi harus dilatih seperti berenang. Tak bisa sekedar teori


Teh Nailah Sa'adah
Bagaimana suami dan istri selaras dalam berumah tangga yg saya tau proses nya tdk mudah ๐Ÿ˜ apalagi background keluarga yg berbeda, dan bagaimana supaya dalam perjalanannya membentuk keluarga samara supaya tetap on the track? O ya, Kang Canun ada email kah kalau bersedia tanya jawab via email, soalnya saya overseas. Terima kasih banyak ๐Ÿ˜Š

Jawab:
Saya punya rahasia bagaimana cara mendapatkan pasangn yg mengerti diri kita 100%, siapa yg mau tauu?
Cara utk men dapagkan psgn yg bs mengerti 100% diri kita adalah: nikah aja sama diri sendiri... ๐Ÿ˜
Gimana toh? Dari awal aja isi kepala beda, kebiasaan beda, pola pikir beda, pola asuh beda. Gimana mau bisa mengerti 100% atuh?
Jadi kalau ada kebelummengertian, ada miskom mah WAJAR
Coba cek, kakak adik yg background keluarganya sama, bisa saling mengerti 100% tidak? Ada berantemnya juga kan?
Karena itu, keharmonisan pernikahan bukan kondisi tiada konflik sama sekali. Tapi bagaimana caranya memanage ketidakcocokan yang ada. Dan ini sekali lagi, butuh LATIHAN, tak bisa sekedar teori, karena bagai berenang
Nah karena sudah beda isi kepala, gimana caranya agar pernikahan tetap on the track? Ini kenapa butuh yg namanya KOMUNIKASI. Inget rumus ini:
Tidak berkomunikasi, berarti berASUMSI
Hati2 kalau sudah berasumsi, seperti surat AnNaas, setan bisa secara halus ikut berbisik2, memanas2i mengompori asumsinya jd suudzon
Setan paling seneng tuh mancing keluarga jadi berantakan. Karena itu, kalau ada praduga dalam kepala, Rasulullah sarankan untuk TABAYYUN
Kalau mau tetap on the track, setiap hari komunikasi itu PENTING utk dijalin
Mirisnya, kemarin di pertemuan HS muslim bandung tgl 25 kemarin, kita berlatih sedikit skill komunikasi. Ternyata, skill mendengarkan saja hmpir 100% pada belum bisa dan belum terbiasa. Harus dikondisikan dulu 30 menit baru pada bisa
Maka mari perbaiki komunikasi kita. Kalau tak komunikasi, hati2 kita sedang berasumsi.
ikhsanun.kamil@yahoo.com08:08
Nunggu balasanny harap bersabar y bu :)


zifora mujahidah villa
Ada org yg abis menikah kemudian cerai terus bilangnya sudah tidak jodoh, apa jodoh ada kadaluarsanya kang?

Termin 2
Mba Putri Ramdhani
Proses cleaning & upgrading tadi kan butuh waktu, dan tidak singkat. Bisa bertahun2. Selama itu kan mungkin anak melihat rumah tangga ortunya tidak ideal.
Bolehkah kita membicarakan hal tersebut ke anak? Dengan bahasa yg bisa dia tangkap? Kadang, ada pasangan yg dia tidak sadar bahwa dia butuh cleansing. Gimana tuh?
Apa efeknya bila anak tau beban orgtuanya? Berapa batasan umur anak utk itu?
Kalau dia bertanya tentang rumah tangga kakek-neneknya bagaimana kah? Ketika dia melihat kakek-neneknya tidak bertegur sapa padahal ada di rumah yg sama?

Jawab:
Tidak juga bu putri. Di workshop cleansing yg saya adakan, cleansingnya hanya perlu waktu sehari.
Cleansing dan upgrading akan sangat lama prosesnya jika sendiri, jika ada yg bimbing insyaAllah jd bisa dipercepat. Fungsi saya sebagai trainer sebagai katalisator proses itu
Dan saya sangat tidak menyarankan ibu cerita sama anak
Jangan berikan anak beban orangtuanya. Jangan perlihatkan ortu sedang berantem di hadapan anak, kecuali memang bertujuan dari awal untuk memberikan pelajaran, memberikan teladan pada anak bagaimana cara problem solving yang baik, dan tentunya ini sudah by design sama suami dulu, tidak spontanitas.
Ya memang bu tidak sadar mah wajar. Wong kita ga liat emosi kok. Boleh jadi, boleh jadi loh ya, kalau kita ga bahas cleansing2an, mungkin kita jg belum ngeuh kalau kita bermasalah
Efekny stress. bisa jadi programming ke otak anak.
Nah kalau kondisi saat ini, masih tinggal dengan ortu, saya sarankan utk pindah, karena 1 negara tapi ada 2 presiden itu membingungkan anak
Jika kondisinya menitipkan anak pada ortu, ortu harus diberikan SOP terlebih dahulu agar penanganan ortu dan yg diberikan kakek nenek selaras. Kalau tidak memungkinkan, sewa profesional seperti daycare
Begitu teh putri ✅


Teh Nofrida
Bagaimana cara efektif untuk melakukan cleansing..tadi belum dijelaskan. Karena di sekitar banyak kasus demikian..

Jawab:
Cara efektif lakukan cleansing ada 3:
menerima kejadiannya, syukuri, dan maafkan pelakunya. Maafkan itu bukan sekedar tempel tangan tapi dada masih sesak. Maafkan itu sampai dada jadi plong


DhielaCasa Art Shop
Tapi kadang kita sendiri tidak tau,sudah memafkan apa belum...๐Ÿ˜.tau2 rasa sakit atau stressnya hilang gitu aja..apa itu berbahaya?

Jawab:
Betul, berbahaya. Karena emosinya tidak dikeluarkan tapi diendapkan dalam wadah emosi sehingga menjadi sampah emosi yg bisa jd bom waktu dalam hubungan pernikahan dan ortu-anak, yg bisa meledak kapan saja


Penutup
Sempurnakan Cinta Anda

Begitu banyak pernikahan baik-baik, suami baik istri baik, saling mencintai satu sama lain, namun seringkali (tak sengaja) saling menyakiti...

Mengapa bisa terjadi?

Lihatlah bahwa...

Begitu banyak istri yang baik-baik…
Namun menceramahi atau mencereweti suami saat lelah pulang kerja…
Maksudnya sih baik, untuk menjadikan suami sebagai tempat curhat…
Menjadikan suami sebagai tempat terpercaya ia mengeluarkan isi hati…
Namun, ia tak tahu bahwa ‘istirahatnya’ suami adalah ‘ditinggalkan sendirian’ dulu sejenak…
Akibatnya, timbul keretakan dalam pernikahan…
Jika terjadi berhari-hari selama bertahun-tahun?
Hmmm...
Menjadi istri yang baik saja TIDAK CUKUP

Begitu banyak suami yang baik-baik…
Ketika istrinya marah akibat kesalahannya, lalu berteriak ‘JAHAT! Tinggalin aku sendiri!!!’, maka sang suami betul-betul meninggalkannya…
Maksudnya sih baik, untuk memberikan istri waktu luang agar bisa menenangkan diri…
Namun ia tak tahu bahwa sebetulnya itu adalah isyarat dari istri, ‘apakah suamiku akan memperjuangkanku lebih lagi?’…
bahwa ketika istri bermasalah, cara mendamaikannya adalah merayunya terus menerus, bukan meninggalkannya…
Akibatnya, timbul keretakan dalam pernikahan…
Jika terjadi berhari-hari selama bertahun-tahun?
Hmmm….
Menjadi suami yang baik saja TIDAK CUKUP

Begitu banyak suami yang baik-baik…
Pergi pagi pulang petang mencari nafkah…
demi anak istri tercinta….
Karier melesat gaji meningkat, menghabiskan waktu berjam-jam di luar….
Merasa sudah berjuang demi keluarga…
Merasa sudah melakukan yang terbaik demi keluarga…
Merasa sudah memenuhi SEGALA kebutuhan anak istri…
Padahal tanpa sadar, ia lupa bahwa anak istrinya adalah manusia…
yang tak hanya memiliki kebutuhan materi, namun juga kebutuhan EMOSI…
Karena tidak tahu, karena tidak sadar, menyusuplah seseorang ‘dari luar sana’…
yang menawarkan bahwa pemenuhan kebutuhan emosi anak istrinya bisa dipenuhi olehnya….
Jika orang ini adalah lawan jenis, apa yang terjadi?
Hmm…
Menjadi suami yang baik saja TIDAK CUKUP

Begitu banyak istri yang baik-baik…
Ketika ada masalah, justru ditekan…
Ketika ada rasa tidak nyaman, justru dipendam…
Maksudnya sih baik, agar suami tidak terganggu…
Namun, ia tidak tahu…
Bahwa emosi layaknya per, jika ditekan terus menerus, lama-lama…..?
Itulah yang sering terjadi pada orang yang ‘diam’, orang yang ‘kalem’…
yang akan ada masa dimana ia akan ‘meledak’
Jika istri yang baik ini selalu ada gejala ‘meledak’ tiap 3 bulan, apa yang terjadi?
Hmmm…
menjadi istri yang baik saja TIDAK CUKUP

Banyak suami baik, banyak istri baik…
sekilas terlihat dari luar, baik-baik saja hubungannya…
Namun beritanya sering mengagetkan,
kok tiba-tiba cerai?
kok tiba-tiba pisah rumah?
yang bisa kita lihat hanya yang ‘tiba-tiba’…
tapi kita tak tahu, apakah pernikahannya ‘terlihat harmonis’ atau ‘BETUL-BETUL HARMONIS’

untuk menjemput pernikahan harmonis, ternyata menjadi baik saja TIDAK CUKUP
‘Ah kalau gitu mending jadi orang jahat saja’. Bukan! Bukan itu…
Menjadi orang baik, adalah modal dasar yang sangat dibutuhkan untuk menjemput pernikahan harmonis…
Namun TIDAK CUKUP…
Menjemput pernikahan harmonis perlu disempurnakan dengan ILMU…

Menjadi orang baik sekedar bermodal ASUMSI, hanya akan membuat prasangka dalam diri bertumbuh begitu subur...

Menjadi orang baik tanpa ilmu, hanya akan membuat lelah ‘menjadi orang baik’ karena tidak tahu caranya…
Tidak tahu bagaimana mengelola emosi dan mengeskpresikannya pada waktu dan tempat yang tepat…
Tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ‘nasihat’ tanpa penolakan dari pasangan…
Tidak tahu bagaimana cara meng-install akhlak kepada anak istri…
Tidak tahu bagaimana bentuk bahasa cintanya…
Semuanya hanya akan membuat sang orang baik menjadi LELAH untuk menjadi baik..

Maka, menjemput pernikahan harmonis, cukupkah hanya menjadi orang baik saja?
Ternyata TIDAK CUKUP. Perlu anda sempurnakan sengan perbekalan ILMU & SKILL pernikahan yang memadai

Maka saya mengajak ibu2 sekalian untuk mengupgrade diri dengan mengikuti training 'Create your home' di Bandung, 15 februari 2015 bersama saya dan istri. InsyaAllah, atas izinNya, event ini sudah membantu ratusan pasang pasutri yg terjebak ketidakharmonisan bertahun2 lamanya. Mungkin ini juga bisa jadi jalan ibu2.

Maka, sempurnakanlah cinta Anda...
Sempurnakanlah pernikahan Anda dengan ilmu dan skill
Sekian dari saya
================================

Kamis, 29 Januari 2015

How to Start Home Education (selengkapnya)

1. Sumber            : Group Jabar2_HE BPA
2. Pemateri          : Ust. Harry Santosa
3. Waktu diskusi : Kamis, 22 Januari 2015
                                 Rabu,   28 Januari 2015
4. Disarikan oleh : R. Annisa Elmiani
5. Judul diskusi   : How to Start HE (Home Education)

Saya akan membahas tataran strategisnya, sebelum teknis memulainya.

Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita.

Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.

Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu.

Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik.

Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya.

Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya.

Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya.

Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2.

Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.

Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran" , "pensucian"

Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah).

Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge.

Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya.

Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran.

Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in".

Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

ู„َู‡ُ ู…ُุนَู‚ِّุจَุงุชٌ ู…ِู†ْ ุจَูŠْู†ِ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูˆَู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِ ูŠَุญْูَุธُูˆู†َู‡ُ ู…ِู†ْ ุฃَู…ْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ ۗ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠُุบَูŠِّุฑُ ู…َุง ุจِู‚َูˆْู…ٍ ุญَุชَّู‰ٰ ูŠُุบَูŠِّุฑُูˆุง ู…َุง ุจِุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ ۗ ูˆَุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‚َูˆْู…ٍ ุณُูˆุกًุง ูَู„َุง ู…َุฑَุฏَّ ู„َู‡ُ ۚ ูˆَู…َุง ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِู‡ِ ู…ِู†ْ ูˆَุงู„ٍ

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (ู…َุง ุจِุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous.

 Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2.

Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya... Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini.

● Tanya Jawab

1] (Bunda Halida)

Bagaimana cara untuk mensucikan jiwa?

[ Jawab ]

Bunda Halida yang baik,
Sesungguhnya begitu Allah swt memberi amanah anak kpd kita maka saat yg sama Allah telah menanamkan begitu banyak hikmah dan kesadaran. Berapa banyak manusia yg bangkit kesadaran fitrahnya krn dikaruniai anak.

Namun demikian, banyak juga orangtua yg tdk bangkit kesadaran fitrahnya ketika dikaruniai anak, bahkan cenderung tidak yakin dan tidak siap menjadi orangtua. Gamang akan kemampuannya mendidik atau perlu kemantapan hati dalam mendidik.
Nah, inilah mengapa diperlukan tazkiyatunnafs sebelum memulai mendidik?
Caranya tentu dengan banyak mendekat pd Allah, memperbanyak Shoum dan sholat malam agar diberikan "qoulan sadida", ucapan bermakna dan berbobot ketika mendidik anak2nya.

2 ] Bunda Eka

Apakah HE bisa dipadukan dgn tetap menyekolahkan anak2?

[ Jawab ]

Bunda Eka yang baik,
Beberapa sekolah membantu menumbuhkan fitrah2 anak2 kita, sebagian besarnya tidak. Umumnya sekolah fokus pd akademik (skill dan knowledge) dan beresiko mematikan fitrah anak2 kita. Karena pendidikan sejatinya adalah amanah kita utk membangkitkan fitrah2 sbgmn dibahas sebelumnya, maka pastikan memilih sekolah yang mendukung hal ini bukan menyimpangkannya.

3] Bunda Nesri

Apakah tazkiyatun nafs itu dilakukan dengan banyak ibadah pada Allah? Ataukah, seperti yang diceritakan Pak Harry, dengan pemahaman dan kesadaran utuh terhadap fitrah?

[ Jawab ]

Bunda Nesri yg shalihah,
Tazkiyatunnafs adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dgn bermacam cara yg disunnahkan agar fitrah2 kita kembali lurus, shg fitrah baik anak2 kita bertemu dengan fitrah baik ayahbundanya. Dalam mendidik kia memerlukan "Qoulan Sadida", kata2 yg berbobot, perasaan dan hati yang mantap, fikiran dan gagasan yg bernas, sikap dan tindakan yg konsisten, tenang dan optimis.

4] Bunda Dyah

Untuk orang tua yg bekerja spt qt..dr mana hrs memulai HE dan mulai kapan ?
Bagaimana tips untuk bunda yang bekerja (senin-jumat pukul 06.30-16.00) agar tetap bisa menjalankan kewajiban Home Education pada anaknya?

[ Jawab ]

Bunda Dyah,
Saya doakan agar segera memperoleh nafkah yang bisa dikerjakan dari rumah ya, krn Allah akan menjamin rizqi mereka yg menjalani amanah mendidik anak2nya. Memulai HE selalu dimulai dari memperbaiki fitrah kita melalui tazkiyatunnafs agar sadar penuh dan meyakini bhw tugas mendidik anak tidak main2 dan terbatas waktunya efektif hanya sampai usia 14 tahun. Memulai teknisnya dengan merancang perencanaan mendidik dan framework operasional. (Silahkan dicopy sampelnya). Quality time sama pentingnya dengan quantity time. Jika memang bekerja di luar adalah darurat baik alasan ekonomi maupun sosial, maka upayakan membentuk komunitas di kompleks untuk saling mendidik secara bergantian.

5] Bunda Riri

Terkait memulai HE sbnrnya adakah contoh kurikulum tertentu utk menilai pencapaian keberhasilan HE?

[ Jawab ]

Bunda Riri yg baik,
Kami menyebutnya bukan kurikulum, tetapi framework. Setiap anak unik, setiap keluarga unik. Maka tdk ada kurikulum seragam dalam pendidikan anak, yang ada adalah kerangka kerja atau framework operasional. Yaitu apa2 yg harus kita lakukan terkait dengan fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat sepanjang tahap2 usia (fitrah perkembangan) sampai aqilbaligh di usia 14-15 tahun . Tiap2 tahap tentu ada indikator keberhasilan dari tahap sebelumnya. Ini akan kita bahas detail dalam diskusi2 selanjutnya.

Lebih pengkapnya:

Framework adalah kerangka kerja kita orangtua dalam mendidik. Pusatnya tetap anak2 kita
Nah pendidikan berbasis fitrah, yg ditumbuhkan (salah satunya) adalah fitrah belajar nya, orang barat menyebutnya learn how to learn

Misalnya lebih penting anak menyukai buku dgn banyak dibacakan daripada diajarkan membaca sebelum waktunya.

Jika anak sdh suka sama buku dan kisah2 inspiratif maka dia akan bisa membaca dengan sendirinya bahkan menjadi gemar membaca.

Pendidikan kita tujuannya adalah agar anak2 kita terbangun fitrahnya secara alamiah sampai usia 10 tahun, krn jika kesadaran fitrahnya terbangun maka selebihnya anak2 kita sendiri yg akan menjalaninya dgn bergairah setelah usia 10 thun, baik semangat keimanan/akhlak, passion bakat maupun gairah belajar.

Kita tidak diam saja, membiarkan anak semaunya. Tetapi kita menunjukkan dan membangkitkan imaji2 positifnya, gairahnya, kesadarannya dstnya. Tazkiyatunnafs agar diberikan Qoulan Sadida, ucapan, tindakan yang penuh makna dan berbobot ketika membangkitkan fitrah anak2 kita.

Kurikulum formal lebih sering menjadi kaku dan kehilangan momentum.

Misalnya kita atur ketat bhw hari ini menggambar pohon, ternyata hari itu anak kita sedang tertarik ke museum atau ke pasar beli ikan atau bermain di kebun.. nah nanti malah anak2 membenci menggambar jika dipaksakan. Sebaiknya disesuaikan temanya dengan ketertarikan anak pd obyek belajar tertentu. Kita bisa mengarahkan kpd yg lebih seru,tapi tetap sesuai minatnya.

Menurut saya, jika anak2 berbakat akademik, persekolahan formal mungkin cocok. Tetapi anak2 sekarang umumnya lebih ke otak kanan (seni, imaji, ideation, visual dll)

Walaupun anak kita berbakat akademik, juga hati2 bhw persekolahan formal banyak mematikan fitrah anak krn terlalu formal dan kaku.

Misalnya anak2 kita sdg tertarik energi, sementara temanya bukan itu maka curiosity anak kita bisa hilang, dia harus menunda dsbnya

Misalnya anak2 yg suka sains, tidak selalu dibarengi guru2 sekolah yg punya kemampuan sains, bahkan pendidikan sains lebih hebat di klub atau dunia maya.

Kalau fitrah bakat, sudah pasti tdk akan digali di sekolah, apalagi fitrah keimanan. Anak2 terjebak kpd menguasai pengetahuan bukan menjadi dirinya.

Lebih baik mana, mendidik agar anak2 suka belajar dan berinovasi utk dijalani sepanjang hayatnya, daripada mengetahui segala hal namun hanya utk ulangan atau ujian?

Kalaupun suami bersikeras agar anak bersekolah, mohon pilihlah sekolah yg membebaskan fitrah utk tumbuh bukan terpaku pada nilai akademis.

6] Bunda Samiah

Tentang fitrah positif, apakah ada fitrah yg negatif yg tentunya perlu dihindari?

[ Jawab ]

Bunda Samiah yang baik,
Semua fitrah pada dasarnya positif, walaupun ada yg dikesankan negatif spt hawa nafsu, ego dll. Sesungguhnya tdk negatif sepanjang bisa meletakannya dgn benar. Dalam pendidikan, maka fokus membahas kpd fitrah2 pokok yg produktif yaitu fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dstnya.

Selasa, 27 Januari 2015

Qaulan Sadiida untuk Anak Kita (Repost)

Assalamualaikum wr wb

Apa kabar member to be wonderful wife ? Smoga tetap semangat ๐Ÿ˜Š

Seperti biasa, hari rabu saat-ny share artikel ttg parenting, Smoga bermanfaat yaw,,, ๐Ÿ˜Š
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
๐ŸŒœQaulan Sadiidaa untuk Anak Kita๐ŸŒ›
๐Ÿ”ธOleh: Salim A. Fillah๐Ÿ”ธ

๐Ÿ‘‰ Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?
๐Ÿ‘‡
Ternyata jawabnya tidak.
▶ Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”

▶ Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

▶ Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula.
๐Ÿ“ Mengapa hal itu bisa terjadi ?
๐Ÿ‘‡
Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:
" Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QSnAn Nisaa’ 9)"

▶ Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

๐Ÿ“ Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

▶ Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya.

1. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?
๐Ÿ”น Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.”

๐Ÿ”นBetulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.

๐Ÿ”นSi kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”

๐Ÿ”นBetapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

2. Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya?

▶ Ada beberapa alternatif :
๐Ÿ”นKita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.

๐Ÿ”นAtau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”

๐Ÿ”นAtau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

▶ Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. ๐Ÿ”นSeperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga.

๐Ÿ”นJuga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.

▶ Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. ๐Ÿ”นInilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu.

1. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

2. Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

๐Ÿ”นIbu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

⭐ Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi.

⭐ Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini.

⭐Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

⭐ Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata.
Aamiin. Sepenuh cinta.

sumber: salimafillah.com

Sekilas tentang kami 

๐Ÿ„Our Sosmed๐Ÿ„
Blog : tobewow.wordpress.com
FB. : www.facebook.com/To.Be.Wonderful.Wife
Twitter : @2bWOW
Email : tobewonderfulwife@gmail.com

How to Start Home Education

1. Sumber : Group Jabar2_HE BPA
2. Pemateri : Ust. Harry Santosa
3. Waktu diskusi : Kamis, 22 Januari 2015
4. Disarikan oleh : R. Annisa Elmiani
5. Judul diskusi : How to Start HE (Home Education)

Saya akan membahas tataran strategisnya, sebelum teknis memulainya.

Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita.

Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.

Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu.

Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik.

Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya.

Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya.

Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya.

Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2.

Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.

Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran" , "pensucian"

Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah).

Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge.

Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya.

Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran.

Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in".

Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

ู„َู‡ُ ู…ُุนَู‚ِّุจَุงุชٌ ู…ِู†ْ ุจَูŠْู†ِ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูˆَู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِ ูŠَุญْูَุธُูˆู†َู‡ُ ู…ِู†ْ ุฃَู…ْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ ۗ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠُุบَูŠِّุฑُ ู…َุง ุจِู‚َูˆْู…ٍ ุญَุชَّู‰ٰ ูŠُุบَูŠِّุฑُูˆุง ู…َุง ุจِุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ ۗ ูˆَุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‚َูˆْู…ٍ ุณُูˆุกًุง ูَู„َุง ู…َุฑَุฏَّ ู„َู‡ُ ۚ ูˆَู…َุง ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِู‡ِ ู…ِู†ْ ูˆَุงู„ٍ

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (ู…َุง ุจِุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous.

 Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2.

Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya... Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini.

● Tanya (Bunda Halida)

Bagaimana cara untuk mensucikan jiwa?

● Jawab

Bunda Halida yang baik,
Sesungguhnya begitu Allah swt memberi amanah anak kpd kita maka saat yg sama Allah telah menanamkan begitu banyak hikmah dan kesadaran. Berapa banyak manusia yg bangkit kesadaran fitrahnya krn dikaruniai anak.

Namun demikian, banyak juga orangtua yg tdk bangkit kesadaran fitrahnya ketika dikaruniai anak, bahkan cenderung tidak yakin dan tidak siap menjadi orangtua. Gamang akan kemampuannya mendidik atau perlu kemantapan hati dalam mendidik.
Nah, inilah mengapa diperlukan tazkiyatunnafs sebelum memulai mendidik?
Caranya tentu dengan banyak mendekat pd Allah, memperbanyak Shoum dan sholat malam agar diberikan "qoulan sadida", ucapan bermakna dan berbobot ketika mendidik anak2nya.