“Bunda…Dzikri mau minum” ujar Dzikri ketika dirinya merasa
haus. Lalu, bunda mengambilkan minum untuknya.
“Terima kasih, bunda”, kata Dzikri lagi sambil menerima gelas berisi air
untuk diminumnya.
Ketika ia merasa kesal, ia berkata “doa ketika marah, a’udzubillaahiminasysyaithoonirrajiim”
Lain halnya ketika membutuhkan bantuan, Dzikri akan menarik
tangan bunda atau ayah dan berkata “bunda/ayah..tolong bantu…”
Kalau mau pergi keluar rumah, masuk rumah, mau mandi, setelah
mandi, sebelum makan, setelah makan, sebelum tidur, bangun tidur, setelah
adzan, bahkan ketika dipakaikan baju, Dzikri akan membaca doanya masing-masing…
Semuanya pakai awalan “doa ketika….”
Tak jarang juga Dzikri mengarang doanya sendiri, misalnya
ketika akan duduk. “doa ketika duduk, allaahumma
duduk…” kata Dzikri, ada-ada saja…
Ketika bunda meminta Dzikri untuk merapikan mainannya (sambil
memberi contoh), Dzikri malah memperhatikan sambil berkata “ayo…semangat..!bunda
bisa…”.
Hmm…Dzikri..Dzikri…
Subhanallaah…
Di usianya yang baru 2,5 tahun, bahagia rasanya melihat Dzikri semakin berkembang dengan
normal dan sehat. Bicaranya semakin jelas dan perbendaharaan katanya semakin
banyak. Walaupun Dzikri belum berkomunikasi secara interaktif, namun ia semakin
banyak menyerap apa-apa yang didengarnya.
Semenjak dalam kandungan, Dzikri sudah mendengar suara-suara
di sekitarnya.
Ketika lahir ke dunia hingga detik ini ia tidak hanya
mendengar, tapi menyerap informasi yang datang padanya. Seluruh panca inderanya
mengirimkan informasi-informasi itu ke otak yang kemudian merekamnya.
Orang tua dibuat terkagum-kagum menyaksikan kata-kata yang
terlontar dari bibir anaknya ketika ia mulai berbicara. Orang tua yang terbiasa
mengucapkan kalimat talbiyah kepada anaknya, maka ia akan mendengar kalimat itu
dari bibir anaknya.
Patut untuk diperhatikan kata-kata apa yang terlontar dari
orang tua terhadap anaknya.
Nasehat yang sangat berharga saya coba untuk praktekkan,
yaitu agar kalimat “Laa ilaaha ilallaah” menjadi kalimat pertama dan terakhir yang
diucapkan anak kita kelak.
Alhamdulillah, kalimat pertama yang dapat diucapkan Dzikri
adalah “Laa ilaaha ilallaah”. Kemampuan
kognitifnya memang belum mampu untuk memahami arti dan makna kalimat tersebut.
Namun, dari sini ia sudah diajarkan untuk mengenali Tuhannya dan pegangan hidupnya.
Setelah itu, tugas orang tua jauh lebih besar untuk bisa
mengaplikasikan kalimat itu dalam kehidupan, sehingga anak pun akan senantiasa
berjiwa tauhiid.
Ya, orang tua adalah teladan bagi anaknya. Meski diri ini
masih jauh dari kata teladan, tapi harus terus belajar dan belajar agar bisa
menjadi contoh yang baik. Semua bisa dimulai dengan kata-kata. Coba untuk
mengucapkan hal-hal yang baik, bahkan ketika sedang kesal sekalipun.
Berusaha untuk membiasakan anak membaca doa ketika akan
melakukan sesuatu. Ketika melakukan hal itu, sesungguhnya bukan hanya anak yang
mendapat pelajaran, tapi justru orang tua lah yang diingatkan kembali untuk
melakukan kebiasaan yang baik.
Semoga Alloh swt slalu menuntun lisan ini dalam berucap,
sehingga hanya terlontar kata-kata yang baik dan menyejukkan bagi orang-orang
di sekeliling kita yang kita cintai.
