Jumat, 08 Juni 2012

Orang Tua, Mari Berhati-hati dengan Kata-kata



“Bunda…Dzikri mau minum” ujar Dzikri ketika dirinya merasa haus. Lalu, bunda mengambilkan minum untuknya.   “Terima kasih, bunda”, kata Dzikri lagi sambil menerima gelas berisi air untuk diminumnya.

Ketika ia merasa kesal, ia berkata “doa ketika marah, a’udzubillaahiminasysyaithoonirrajiim

Lain halnya ketika membutuhkan bantuan, Dzikri akan menarik tangan bunda atau ayah dan berkata “bunda/ayah..tolong bantu…”

Kalau mau pergi keluar rumah, masuk rumah, mau mandi, setelah mandi, sebelum makan, setelah makan, sebelum tidur, bangun tidur, setelah adzan, bahkan ketika dipakaikan baju, Dzikri akan membaca doanya masing-masing…

Semuanya pakai awalan “doa ketika….”

Tak jarang juga Dzikri mengarang doanya sendiri, misalnya ketika akan duduk. “doa ketika duduk, allaahumma duduk…” kata Dzikri, ada-ada saja…

Ketika bunda meminta Dzikri untuk merapikan mainannya (sambil memberi contoh), Dzikri malah memperhatikan sambil berkata “ayo…semangat..!bunda bisa…”.
Hmm…Dzikri..Dzikri…

Subhanallaah…
Di usianya yang baru 2,5 tahun, bahagia rasanya melihat Dzikri semakin berkembang dengan normal dan sehat. Bicaranya semakin jelas dan perbendaharaan katanya semakin banyak. Walaupun Dzikri belum berkomunikasi secara interaktif, namun ia semakin banyak menyerap apa-apa yang didengarnya.

Semenjak dalam kandungan, Dzikri sudah mendengar suara-suara di sekitarnya.

Ketika lahir ke dunia hingga detik ini ia tidak hanya mendengar, tapi menyerap informasi yang datang padanya. Seluruh panca inderanya mengirimkan informasi-informasi itu ke otak yang kemudian merekamnya.
Orang tua dibuat terkagum-kagum menyaksikan kata-kata yang terlontar dari bibir anaknya ketika ia mulai berbicara. Orang tua yang terbiasa mengucapkan kalimat talbiyah kepada anaknya, maka ia akan mendengar kalimat itu dari bibir anaknya.
Patut untuk diperhatikan kata-kata apa yang terlontar dari orang tua terhadap anaknya.

Nasehat yang sangat berharga saya coba untuk praktekkan, yaitu agar kalimat “Laa ilaaha ilallaah”  menjadi kalimat pertama dan terakhir yang diucapkan anak kita kelak.

Alhamdulillah, kalimat pertama yang dapat diucapkan Dzikri adalah “Laa ilaaha ilallaah”. Kemampuan kognitifnya memang belum mampu untuk memahami arti dan makna kalimat tersebut. Namun, dari sini ia sudah diajarkan untuk mengenali Tuhannya dan pegangan hidupnya.

Setelah itu, tugas orang tua jauh lebih besar untuk bisa mengaplikasikan kalimat itu dalam kehidupan, sehingga anak pun akan senantiasa berjiwa tauhiid.

Ya, orang tua adalah teladan bagi anaknya. Meski diri ini masih jauh dari kata teladan, tapi harus terus belajar dan belajar agar bisa menjadi contoh yang baik. Semua bisa dimulai dengan kata-kata. Coba untuk mengucapkan hal-hal yang baik, bahkan ketika sedang kesal sekalipun.

Berusaha untuk membiasakan anak membaca doa ketika akan melakukan sesuatu. Ketika melakukan hal itu, sesungguhnya bukan hanya anak yang mendapat pelajaran, tapi justru orang tua lah yang diingatkan kembali untuk melakukan kebiasaan yang baik.

Semoga Alloh swt slalu menuntun lisan ini dalam berucap, sehingga hanya terlontar kata-kata yang baik dan menyejukkan bagi orang-orang di sekeliling kita yang kita cintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar