(Ditulis 13 Juli 2017)
Sepulangnya dari mudik yang cukup lama.
Selalu saja menyisakan "rasa".
Rasa rindu yang indah sampai2 ingin sekali kembali sekejap saja ke masa itu.
Masa2 ketika diri ini selalu diurus oleh Bunda, dimanjakan oleh Ayah.
Penuh kasih sayang dari keduanya tanpa mencemaskan apa pun juga.
Masa2 ketika menantikan Ayah pulang bekerja, berebut bercerita dengan 4 saudara yg amat kucinta.
Suasana rumah yang ramai, terkadang ada pertengkaran sesama saudara lalu berakhir dengan perdamaian.
Bagaimana cemas menanti Ibunda pulang bahkan sampai menunggu di pinggir sungai dekat rumah.
Ah..
Rindunya...
Tersadar oleh lamunan, kutatap anak2 yang sedang lelap.
Mungkin kelak...
Jika Allah swt izinkan.
Aku juga akan sampai pada masa yang mungkin sekarang dirasakan ayah bunda.
Kesepian...
Menanti anak2 pulang.
Moment mudik lebaran jd penuh pengharapan.
Ketika anak2 sudah sibuk dengan kehidupannya masing2.
Maka masa2 ini akan amat dirindukan.
Ketika solat sulit untuk khusu karena anak yang satu sibuk bercanda dan yang lainnya menangis minta perhatian.
Ketika rumah tak bisa rapi, pergi ke manapun ada yang membuntuti, bahkan tidur tak bisa nyenyak lagi.
Rasa rindu ini adalah pengingat diri dari Allah subhanahu wata'ala.
Agar hidup tak sekadar memutar memori tapi harus terus mendekatkan diri
Pada Sang Ilahi...
Ketika tak banyak yg bisa dilakukan untuk memberikan bakti
Maka sebaik2nya adalah berusaha menjadi anak yang shalih yang selalu mendoakan Ayah Bunda terkasih.
Semoga kelak Allah swt ridhai agar semua berkumpul kembali dalam surgaNya nan abadi....
#edisijetlag #padahaldeket
--------------------------
Teriring doa untuk saudara2ku yang sedang dalam penantian, agar Allah swt mudahkan jalannya menjemput pasangan.
Yang menanti buah hati, Allah swt perkenankan melahirkan generasi.
Yang berduka karena kehilangan, semoga Allah swt kuatkan dan ringankan rasa dukanya.
Sungguh, nikmat iman dan islam jualah yang kan kuatkan diri agar selalu semangat berikhtiar dan bertawakkal padaNya.
Semua pun atas rahmat dan karuniaNya.
Semoga Allah swt selalu berikan nikmat ini hingga akhir hayat nanti.
Aamiin.
Jumat, 13 Juli 2018
Ketika Anak Belajar Puasa
(Ditulis 21 Juni 2016)
Tahun lalu, Dzikri mulai belajar puasa di usianya yang ke-5...
Diawali dari pengenalan bulan Ramadhan dan bagaimana umat muslim berpuasa. Dzikri semangat ingin mencoba...
Coba ikuti tips dari Ustadzah Poppy...
1. Diawali dengan tidak berbohong. Misalnya dengan mengatakan sarapan pagi sebagai sahur.
2. Ajak anak makan sahur agar ikut mendapatkan keberkahannya.
3. Tanamkan kisah Rasulullah saw dan para sahabat.
4. Menghibur anak ketika merasa lapar dengan memberi/ membuatkannya mainan seperti yang dilakukan para Sahabat Rasulullah saw.
Alhamdulillah. .. bisa full 8 hari...
Biasanya batal karena haus setelah main dan berlari2, juga karena lelah di perjalanan (waktu itu ikut sanlat yang lokasinya cukup jauh, harus naik angkot, kereta dan bajaj).
Awal2 puasa pun kalau sudah jam 10 pagi mulai uring2an karena lapar dan haus. Biasanya dilihat dulu kondisinya, kalau masih kuat maka coba dialihkan dengan mengajak bermain dan diceritakan kisah para sahabat yang gigih dalam berpuasa karena ingin disayang Allah swt. Bahkan anak2nya pun ikut berpuasa. Alhamdulillah cukup berhasil untuk bertahan hingga dzuhur.
Kalau dzuhur sudah berbuka, biasanya diberi waktu untuk makan dan minum karena setelah itu Dzikri diajak untuk berpuasa lagi hingga maghrib.
Paling semangat kalau sudah adzan... Nanti Dzikri akan menempelkan stiker di kalender Ramadhanku pertanda 1 hari telah berlalu....
Tahun ini...
Alhamdulillah. ..
Atas kesadaran, kemauan dan semangatnya sendiri Dzikri berpuasa hingga full sampai maghrib. Meski di hadapannya ada teman atau saudara yang tidak berpuasa, alhamdulillah Dzikri tidak tergoda. Sudah bisa menahan diri untuk tidak bermain atau berlari2 sehingga membuatnya kehausan...
Hanya sajaa...
Sejak sabtu, Dzikri sakit.
Awalnya tetap memaksa untuk berpuasa...
Bunda : "Dzikri, g usah puasa ya.. ayo makan terus minum yang banyak, kan dzikri lagi demam"
Dzikri : "engga, Dzikri lagi puasa"
Bunda : "tapi kan Dzikri lagi sakit... Kalau sakit, gak apa2 g puasa. Allah kasih keringanan, ruksoh namanya. Untuk yang sakit, boleh g berpuasa, nanti bisa dibayar hutang puasanya. Tapi Dzikri g bayar juga gak apa2 kan belum wajib"
Dzikri : "ada di al Quran ya bun?"
Bunda: "iya, ada"
Dzikri : "ya udah, nanti Dzuhur Dzikri buka puasa. Nanti bulan syawal Dzikri bayar hutang terus sahur"
MaSyaAllah..
semangat sehat ya sayang...
Syafakallah...
smoga Allah swt menjadikanmu anak yang shalih..
aamiin...
Besok bunda sahur sendirian deh karena ayah sedang dinas keluar kota....
*anak2 memang berbeda2 dalam hal berpuasa...
ada yg sudah bisa full sejak 4 tahun atau ada yg baru bisa full saat 7 tahun. Terpenting penanaman iman yang kokoh, menjadi PR besar untuk orangtua. Jika iman sudah menancap kuat, maka kelak keimanan itu akan menjaganya agar slalu dalam fitrah kebaikan.
Ah...
masih jauh dari sempurna sebagai orangtua...
tapi harus selalu berusaha...
*jamnya me time emak2 kesepian ^_^*
Kamis, 28 Juni 2018
Kata Orang, Mengasuh 3 Anak itu lebih santai.... Benarkah??
Kata Orang, Mengasuh 3 Anak itu lebih santai....
Benarkah??
Pengalaman mempunyai anak pertama tentu tak terlupakan.
Belajar menjadi orangtua, mengalami berbagai hal.
Punya anak kedua, butuh lagi penyesuaian. Ada yang harus belajar mencintai anak kedua karena terbayang-bayang si sulung yang masih butuh perhatian.
Begitu anak ketiga, kata orang biasanya orangtua bisa lebih santai karena sudah lebih berpengalaman.
Itu memang saya rasakan betul. Apalagi jarak anak ke-2 dan ke-3 hanya terpaut 17 bulan. Artinya, saya harus mengasuh si sulung yang sudah berusia 7 tahun, dan kedua adiknya yang terbilang masih bayi.
Mengasuh dua bayi tentunya cukup menyibukkan. Sehingga, bagi saya, tak ada waktu untuk merasakan lagi baby blues syndrome, mellow, dan sebagainya.
Dan benar, alhamdulillah, saya menikmati benar menjadi seorang ibu yang telah melahirkan 4 anak, dan kini harus mengasuh 3 anak.
Mungkin karena sudah tidak panik lagi kalau mendengar tangisan bayi. Sudah mulai hafal ritme dan rutinitasnya serta sudah pernah belajar dari pengalaman anak pertama dan kedua meskipun setiap kali punya bayi tetap saja harus belajar dari awal lagi. Ilmu pengetahuan, khususnya tentang anak, kan juga terus berkembang.
Alhamdulillah anak-anak jadi pelipur lara. Saya masih tetap bisa menemani Dzikri (7 tahun) belajar, dan bermain sesekali. Zahira (17 bulan) pun bisa mendapatkan ASI yang masih menjadi haknya. Adik bayi Syakira masih banyak tertidur.
Seiring berjalannya waktu disertai perkembangan anak yang semakin meningkat (alhamdulillah), sang bayi pun semakin lekat dan menyadari bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dengan sang bunda. Kecemasan akan perpisahan pun mulai ia rasa, sehingga ditinggal bunda meski hanya selangkah, ia akan menangis.
Oke, ruang gerak rasanya menjadi terbatas.
Yang sulung pun mulai protes akan kesibukan bundanya yang mengurus kedua adiknya. "Kok bunda urus adik2 terus sih, kan Dzikri juga mau main sama bunda" ujarnya. Sampai terkadang ia marah-marah juga karena merasa bosan atau kesepian.
Sementara Zahira, memasuki usia dua tahun, semakin nampak egosentrisnya. Ia tak mau adiknya memakai atau bahkan menyentuh barang miliknya. Tak segan-segan ia memukul adiknya sehingga menangis. Padahal tadinya sudah anteng ditinggal bunda.
Begitulah, jadinya memang belum aman meninggalkan adik bermain bersama sang kakak yang masih balita.
Zahira juga sekarang menuntut perhatian lebih dari saya. Adik digendong turun dari kasur, ia minta juga.
Adik menyusu, ia mau juga. Jadi harus terbiasa mendengar tangisan bergantian anak-anak.
Kalau pernah lihat video tentang tangisan anak, yang katanya jangan biarkan anak menangis lama karena khawatir akan tumbuh kecemasan dalam dirinya.
Well, buat saya mah, yang penting anak-anak terurus.kalau Zahira lagi harus dicebokin, ya mau ga mau Syakira ditinggal nangis-nangis, yang kadang nangisnya pun dramatis.
Ga selamanya saya kuat, kadang ikutan nangis juga kalau anak-anak pada nangis.
Kadang mikir "apa saya mulai stres ya?", Soalnya jadi mudah lupa, dan lebih suka tidur. Eh itu mah males aja kali ya..hihihi..
Tapi beneran, hal-hal kecil dari diri kita kalau ada yang berubah ga baik tentu harus diwaspadai.
Harus banyak tingkatkan syukur dan ilmu.
Managemen waktu harus diperhatikan lagi.
Saya juga sekarang sudah mendelegasikan tugas menyetrika ke laundry kiloan, heuheu...
Alhamdulillah suami sesekali ajak berlibur, bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk bertafakur dan memperdalam rasa syukur, InSyaAllah.
Meski kadang tak tahan dengan kerewelan anak-anak, tapi lebih banyak tingkah lucu mereka yang jadi pelipur lara.
Terbentang harapan dalam diri mereka kelak kan mengantar ke surga.
PR besar agar tak mengeluh atau merasa rapuh. Masih banyak emak-emak strong yang saya mah apalah, begini aja udah merasa berat. Harus banyak belajar dari mereka, terutama dari kesabaran ibunda para ulama yang dari rahimnya Allah subhanahu wata'ala takdirkan terlahir sosok yang shalih dibutuhkan umat.
Semoga selalu diberikan kesabaran, karena ini tak kan lama.
Ini akan berlalu
Jangan sampai pergi meninggalkan sesal dalam hidup
#emakyangbelajarsabar
Benarkah??
Pengalaman mempunyai anak pertama tentu tak terlupakan.
Belajar menjadi orangtua, mengalami berbagai hal.
Punya anak kedua, butuh lagi penyesuaian. Ada yang harus belajar mencintai anak kedua karena terbayang-bayang si sulung yang masih butuh perhatian.
Begitu anak ketiga, kata orang biasanya orangtua bisa lebih santai karena sudah lebih berpengalaman.
Itu memang saya rasakan betul. Apalagi jarak anak ke-2 dan ke-3 hanya terpaut 17 bulan. Artinya, saya harus mengasuh si sulung yang sudah berusia 7 tahun, dan kedua adiknya yang terbilang masih bayi.
Mengasuh dua bayi tentunya cukup menyibukkan. Sehingga, bagi saya, tak ada waktu untuk merasakan lagi baby blues syndrome, mellow, dan sebagainya.
Dan benar, alhamdulillah, saya menikmati benar menjadi seorang ibu yang telah melahirkan 4 anak, dan kini harus mengasuh 3 anak.
Mungkin karena sudah tidak panik lagi kalau mendengar tangisan bayi. Sudah mulai hafal ritme dan rutinitasnya serta sudah pernah belajar dari pengalaman anak pertama dan kedua meskipun setiap kali punya bayi tetap saja harus belajar dari awal lagi. Ilmu pengetahuan, khususnya tentang anak, kan juga terus berkembang.
Alhamdulillah anak-anak jadi pelipur lara. Saya masih tetap bisa menemani Dzikri (7 tahun) belajar, dan bermain sesekali. Zahira (17 bulan) pun bisa mendapatkan ASI yang masih menjadi haknya. Adik bayi Syakira masih banyak tertidur.
Seiring berjalannya waktu disertai perkembangan anak yang semakin meningkat (alhamdulillah), sang bayi pun semakin lekat dan menyadari bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dengan sang bunda. Kecemasan akan perpisahan pun mulai ia rasa, sehingga ditinggal bunda meski hanya selangkah, ia akan menangis.
Oke, ruang gerak rasanya menjadi terbatas.
Yang sulung pun mulai protes akan kesibukan bundanya yang mengurus kedua adiknya. "Kok bunda urus adik2 terus sih, kan Dzikri juga mau main sama bunda" ujarnya. Sampai terkadang ia marah-marah juga karena merasa bosan atau kesepian.
Sementara Zahira, memasuki usia dua tahun, semakin nampak egosentrisnya. Ia tak mau adiknya memakai atau bahkan menyentuh barang miliknya. Tak segan-segan ia memukul adiknya sehingga menangis. Padahal tadinya sudah anteng ditinggal bunda.
Begitulah, jadinya memang belum aman meninggalkan adik bermain bersama sang kakak yang masih balita.
Zahira juga sekarang menuntut perhatian lebih dari saya. Adik digendong turun dari kasur, ia minta juga.
Adik menyusu, ia mau juga. Jadi harus terbiasa mendengar tangisan bergantian anak-anak.
Kalau pernah lihat video tentang tangisan anak, yang katanya jangan biarkan anak menangis lama karena khawatir akan tumbuh kecemasan dalam dirinya.
Well, buat saya mah, yang penting anak-anak terurus.kalau Zahira lagi harus dicebokin, ya mau ga mau Syakira ditinggal nangis-nangis, yang kadang nangisnya pun dramatis.
Ga selamanya saya kuat, kadang ikutan nangis juga kalau anak-anak pada nangis.
Kadang mikir "apa saya mulai stres ya?", Soalnya jadi mudah lupa, dan lebih suka tidur. Eh itu mah males aja kali ya..hihihi..
Tapi beneran, hal-hal kecil dari diri kita kalau ada yang berubah ga baik tentu harus diwaspadai.
Harus banyak tingkatkan syukur dan ilmu.
Managemen waktu harus diperhatikan lagi.
Saya juga sekarang sudah mendelegasikan tugas menyetrika ke laundry kiloan, heuheu...
Alhamdulillah suami sesekali ajak berlibur, bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk bertafakur dan memperdalam rasa syukur, InSyaAllah.
Meski kadang tak tahan dengan kerewelan anak-anak, tapi lebih banyak tingkah lucu mereka yang jadi pelipur lara.
Terbentang harapan dalam diri mereka kelak kan mengantar ke surga.
PR besar agar tak mengeluh atau merasa rapuh. Masih banyak emak-emak strong yang saya mah apalah, begini aja udah merasa berat. Harus banyak belajar dari mereka, terutama dari kesabaran ibunda para ulama yang dari rahimnya Allah subhanahu wata'ala takdirkan terlahir sosok yang shalih dibutuhkan umat.
Semoga selalu diberikan kesabaran, karena ini tak kan lama.
Ini akan berlalu
Jangan sampai pergi meninggalkan sesal dalam hidup
#emakyangbelajarsabar
Jumat, 23 Februari 2018
Zahira Ke Mana?
Jumat pagi menjelang siang yang cerah.
Bunda sibuk mengurus adik bayi, rumah tiba2 sepi. Abang dan teteh rupanya main di luar.
"Bun, Zahira di rumah A g mau pulang" Kata Dzikri ketika pulang.
Ya sudah Bunda susul sambil gendong adik. Tapi anaknya memang g mau pulang, malah mau keluar pagar. Lalu balik lagi ikutin anak tetangga ke rumah ujung.
Bunda pulang, susuin adik sebentar lalu susul lagi. Zahira masih anteng di rumah ujung dan g mau pulang.
Sampai 2 kali disusulin g mau pulang juga. Pas ke-3 kali Zahira udah g ada.
Kata anak tetangga Zahira pun g ada di dalam rumah. Kepikiran, pintunya terbuka, jangan2 keluar pagar.
Akhirnya bunda cari sampai ke lapangan.
Di poskamling samping lapangan ada anak sekolahan lagi duduk2 sendirian. Bunda langsung tanya "Kak... Lihat anak kecil g pakai baju pink?"
"Lihat tadi ke sana" kata anak itu sambil nunjuk jalan ke arah luar gang.
Ya Allah...
Bunda langsung lanjut jalan lagi nyariin. Tanya lagi sama orang di pertigaan sebelum keluar gang, katanya g lihat karena baru keluar rumah.
Cari ke jalan raya. G ada...
Sepi...
Ke dalam gang, muter ke lapangan lagi, juga g ada.
Sepi...
Tanya lagi sama anak tadi "Kak, tadi anaknya g pake sendal kan? Terus ke sana ya?" sambil nunjuk jalan.
"Iya, kan tadi aku lagi main hp
Terus aku lihat, tapi g tau sih balik lagi apa ngga" Kata anak itu.
Bunda memutuskan untuk balik lagi, tengok lagi ke rumah tetangga yang di ujung. Masih g ada kata anak tetangga.
Pulang ke rumah, taruh sendal yang tadi dibawa2 untuk Zahira sekalian ambil hp. Bilang sama Dzikri yang lagi ngepel "Bang, Zahira g ada... Bunda udah cari, tapi g ada. Abang di rumah aja ya jaga Syakira. Bunda cari Zahira dulu".
Kali ini bunda cari pakai sepeda Dzikri yang g cocok banget dah buat emak2, bannya pun kempes. Cari lagi ke depan jalan. Tanya orang warung depan katanya g lihat, tanya toko bangunan dan warung makan juga sama.
Jalanan sepi...
Ya Allah ini anak ke mana ya...
Dulu depok pernah heboh dengan kasus penculikan anak. Ah tapi belum 1x24 jam mah kan belum bisa lapor bukan.
Cari kemana lagi inii...
Oke.. Telpon Ayahnya...
Sambil ngos2an "Assalamu'alaikum Yah... Zahira g ada... Bunda lagi cari"
Eh.. Itu di seberang kayanya ada anak pake baju pink.
Muter nyebrang lapangan, dan ternyata bukan Zahira. Ketemu lagi anak sekolah tadi sama temen2nya. G ada yang liat juga.
Lanjut telepon lagi ayahnya.
"Yah g ada, tadi di rumah tetangga, terus g ada. Gimana ya..." (nada panik dan ngos2an)
"Coba cari ke belakang, terus bilang ke Pak RT supaya diumumin di mesjid, Ayah pulang ya..."
Jawab suami dengan nada bersahaja tea.
Sambil naik sepeda berkelebat suara "ini ibunya gimana sih g jagain anaknya".
Tapi juga asa g mungkin anak ini berani jauh kalau g ditemenin atau dilihatin.
Pas lewat di poskamling ada bapak2 yang datang tapi setelah ditanya g lihat juga katanya.
Ya udah deh ke Pak RT, tapi ke rumah dulu, coba ke tetangga lagi, siapa tahu anaknya nyelip.
Sampe depan cluster rumah....
Anak kecil pakai baju pink lagi jalan santai pakai sandal kebesaran.
"Ya Allah Zahira, Bunda nyariin"
Anak tetangga juga lagi ke warung sebelah cluster, pas ditanya katanya dari rumahnya (rumahnya sebelah yang ujung, yang mana tadi pintunya tertutup jadi g nyari ke sana).
Alhamdulillaah...
Langsung pulang, minta tolong Dzikri bawa sepeda. Sementara tangis teriakan Syakira sudah terdengar sampai ujung cluster.
Telepon Ayahnya deh ngabarin takut panik.
Anaknya mah hare haree....
Tak mengerti apa2....
Video Call sama Ayahnya, sementara Bundanya lelaah.
Oke lain kali yaaa...
• Kalau g yakin anaknya diem2 aja lebih baik ajak pulang aja. Bujukin di rumah (mendesak, ada bayi).
• Cari ke tempat terdekat dulu.
• Kalau punya planning olahraga, kerjain. Jangan nunggu dipaksa beginih (minggu lalu g olahraga).
Bunda sibuk mengurus adik bayi, rumah tiba2 sepi. Abang dan teteh rupanya main di luar.
"Bun, Zahira di rumah A g mau pulang" Kata Dzikri ketika pulang.
Ya sudah Bunda susul sambil gendong adik. Tapi anaknya memang g mau pulang, malah mau keluar pagar. Lalu balik lagi ikutin anak tetangga ke rumah ujung.
Bunda pulang, susuin adik sebentar lalu susul lagi. Zahira masih anteng di rumah ujung dan g mau pulang.
Sampai 2 kali disusulin g mau pulang juga. Pas ke-3 kali Zahira udah g ada.
Kata anak tetangga Zahira pun g ada di dalam rumah. Kepikiran, pintunya terbuka, jangan2 keluar pagar.
Akhirnya bunda cari sampai ke lapangan.
Di poskamling samping lapangan ada anak sekolahan lagi duduk2 sendirian. Bunda langsung tanya "Kak... Lihat anak kecil g pakai baju pink?"
"Lihat tadi ke sana" kata anak itu sambil nunjuk jalan ke arah luar gang.
Ya Allah...
Bunda langsung lanjut jalan lagi nyariin. Tanya lagi sama orang di pertigaan sebelum keluar gang, katanya g lihat karena baru keluar rumah.
Cari ke jalan raya. G ada...
Sepi...
Ke dalam gang, muter ke lapangan lagi, juga g ada.
Sepi...
Tanya lagi sama anak tadi "Kak, tadi anaknya g pake sendal kan? Terus ke sana ya?" sambil nunjuk jalan.
"Iya, kan tadi aku lagi main hp
Terus aku lihat, tapi g tau sih balik lagi apa ngga" Kata anak itu.
Bunda memutuskan untuk balik lagi, tengok lagi ke rumah tetangga yang di ujung. Masih g ada kata anak tetangga.
Pulang ke rumah, taruh sendal yang tadi dibawa2 untuk Zahira sekalian ambil hp. Bilang sama Dzikri yang lagi ngepel "Bang, Zahira g ada... Bunda udah cari, tapi g ada. Abang di rumah aja ya jaga Syakira. Bunda cari Zahira dulu".
Kali ini bunda cari pakai sepeda Dzikri yang g cocok banget dah buat emak2, bannya pun kempes. Cari lagi ke depan jalan. Tanya orang warung depan katanya g lihat, tanya toko bangunan dan warung makan juga sama.
Jalanan sepi...
Ya Allah ini anak ke mana ya...
Dulu depok pernah heboh dengan kasus penculikan anak. Ah tapi belum 1x24 jam mah kan belum bisa lapor bukan.
Cari kemana lagi inii...
Oke.. Telpon Ayahnya...
Sambil ngos2an "Assalamu'alaikum Yah... Zahira g ada... Bunda lagi cari"
Eh.. Itu di seberang kayanya ada anak pake baju pink.
Muter nyebrang lapangan, dan ternyata bukan Zahira. Ketemu lagi anak sekolah tadi sama temen2nya. G ada yang liat juga.
Lanjut telepon lagi ayahnya.
"Yah g ada, tadi di rumah tetangga, terus g ada. Gimana ya..." (nada panik dan ngos2an)
"Coba cari ke belakang, terus bilang ke Pak RT supaya diumumin di mesjid, Ayah pulang ya..."
Jawab suami dengan nada bersahaja tea.
Sambil naik sepeda berkelebat suara "ini ibunya gimana sih g jagain anaknya".
Tapi juga asa g mungkin anak ini berani jauh kalau g ditemenin atau dilihatin.
Pas lewat di poskamling ada bapak2 yang datang tapi setelah ditanya g lihat juga katanya.
Ya udah deh ke Pak RT, tapi ke rumah dulu, coba ke tetangga lagi, siapa tahu anaknya nyelip.
Sampe depan cluster rumah....
Anak kecil pakai baju pink lagi jalan santai pakai sandal kebesaran.
"Ya Allah Zahira, Bunda nyariin"
Anak tetangga juga lagi ke warung sebelah cluster, pas ditanya katanya dari rumahnya (rumahnya sebelah yang ujung, yang mana tadi pintunya tertutup jadi g nyari ke sana).
Alhamdulillaah...
Langsung pulang, minta tolong Dzikri bawa sepeda. Sementara tangis teriakan Syakira sudah terdengar sampai ujung cluster.
Telepon Ayahnya deh ngabarin takut panik.
Anaknya mah hare haree....
Tak mengerti apa2....
Video Call sama Ayahnya, sementara Bundanya lelaah.
Oke lain kali yaaa...
• Kalau g yakin anaknya diem2 aja lebih baik ajak pulang aja. Bujukin di rumah (mendesak, ada bayi).
• Cari ke tempat terdekat dulu.
• Kalau punya planning olahraga, kerjain. Jangan nunggu dipaksa beginih (minggu lalu g olahraga).
Kamis, 22 Februari 2018
Menghadapi Anak dengan Usia Hampir 2 Tahun
Alhamdulillaah ya merasakan lagi anak mau memasuki usia dua tahun, inSyaAllah.
Usia eksplorasi yang semakin menjadi, semakin ekspresif, menunjukkan otoritasnya sebagai individu (baca: ga mau dilarang atau diatur untuk hal tertentu), paham berbagai instruksi dan suka menguji coba.
Bersyukur, alhamdulillah hampir mencapai dua tahun meski pernah dirawat dua kali karena sakit. Semoga seterusnya sehat selalu ya.
Bundanya harus berusaha sabar dan menguatkan kesabaran tea.
Bagaimana tidak?
Sekarang anak cantik udah bisa buka kulkas sendiri. Stok bahan makanan dibenahin sama doi. Dipindah2 posisi, bahkan ada yang ditaruh di luar kulkas. Sementara 5 butir putih telur harus merelakan dirinya berserakan di lantai (oke, bunda g jadi bikin kue, haha). Sedangkan teko berisi air es sudah pasrah diobok2.
Oleh karena bunda juga ada kesibukan lain, terutama urus adik bayi, terpaksa itu kulkas dilakban bagian atasnya. Alhasil pas buru2 mau buka kulkas, bunda kerepotan sendiri... Hehehe....
Belum lagi, anak batita ini juga seneng nyuci, ya baju, ya piring, ya dirinya sendiri. Jadi, pintu belakang harus terbiasa ditutup. Khawatir nguprek sendiri, licin soalnya.
Kalau makan juga g mau disuapin, maunya makan sendiri namun berakhir dengan remah2 nasi yang bergelimpangan, seolah remah2 itu berteriak "Ahh... Dia menyia2kanku, aku terserak tak mampu bergerak" (apa sih).
Maka, kalau makan harus ditemani. Bundanya siap dan sigap menjaga agar tak ada yang sia2, biarlah masuk ke perut bunda yang pada akhirnya pun untuk anak2 juga, inSyaAllah.
Sekarang, anak nyaris dua tahun ini juga sudah inisiatif ambil kursi plastik dan menaikinya demi menjangkau benda2 yang terletak di atas.
Tentu sajahh...
Yaa...
Tentu saja pemirsa...
Benda2 yang di atas itu juga harus menguatkan diri karena anak cantik ini akan melemparnya ke bawah.
Di usia ini, anak 22 bulan ini juga sedang belajar berkomunikasi dan berinteraksi. Ia suka berteriak sehingga Bunda harus siap sedia berkata "bicara yang baik ya. Zahira mau apa?". Lalu diajarkan untuk mengutarakan maksudnya sehingga ia bisa mengikuti. Kata favoritnya adalah "g mau".
Sebagai Kakak cilik, alhamdulillah sayang sama adik. Adiknya dibacakan buku, meskipun bukunya terbalik dan suara yang keluar dari mulutnya adalah 'Roarrr...', menirukan suara harimau, hihihi....
Terkadang adiknya disuruh gonta ganti baju, dicarikan yang bagus menurutnya. Kalau nangis diberikannya mainan.
Konflik terjadi ketika ia mau menyusu sementara adiknya belum selesai. Maka sang adik akan ditarik sampai lepas lalu ia berkata "Bismillaah..." (baca doa mau nyusu).
Hobinya akhir2 ini adalah 'menaruh' barang2 di selipan belakang kasur, yang mana sulit untuk mengambilnya kembali. Segala pensil warna, huruf2 scrabble, hingga centong nasi sukses berada di sana (semoga betah yaa di sana, tunggu saja, inSyaAllah nanti kalian diselamatkan, setelah ada bala bantuan yang bisa menggeser kasurnya, hehe).
Kalau bundanya udah mulai kesal, protes sama apa yang dilakukannya, biasanya dia nyengir depan muka bundanya. Terus aja nyengir sampai wajah bundanya kondusif lagi. Hahaha...
MaSyaAllah Naak...
Semoga sabar selalu bundamu ini.
Semoga jadi anak yang shalihah.
Aamiin
Langganan:
Postingan (Atom)
