Jumat, 23 Februari 2018

Zahira Ke Mana?

Jumat pagi menjelang siang yang cerah.

Bunda sibuk mengurus adik bayi, rumah tiba2 sepi. Abang dan teteh rupanya main di luar.

"Bun, Zahira di rumah A g mau pulang" Kata Dzikri ketika pulang.

Ya sudah Bunda susul sambil gendong adik. Tapi anaknya memang g mau pulang, malah mau keluar pagar. Lalu balik lagi ikutin anak tetangga ke rumah ujung.

Bunda pulang, susuin adik sebentar lalu susul lagi. Zahira masih anteng di rumah ujung dan g mau pulang.

Sampai 2 kali disusulin g mau pulang juga. Pas ke-3 kali Zahira udah g ada.

Kata anak tetangga Zahira pun g ada di dalam rumah. Kepikiran, pintunya terbuka, jangan2 keluar pagar.
Akhirnya bunda cari sampai ke lapangan.

Di poskamling samping lapangan ada anak sekolahan lagi duduk2 sendirian. Bunda langsung tanya "Kak... Lihat anak kecil g pakai baju pink?"

"Lihat tadi ke sana" kata anak itu sambil nunjuk jalan ke arah luar gang.

Ya Allah...
Bunda langsung lanjut jalan lagi nyariin. Tanya lagi sama orang di pertigaan sebelum keluar gang, katanya g lihat karena baru keluar rumah.

Cari ke jalan raya. G ada...
Sepi...
Ke dalam gang, muter ke lapangan lagi, juga g ada.

Sepi...

Tanya lagi sama anak tadi "Kak, tadi anaknya g pake sendal kan? Terus ke sana ya?" sambil nunjuk jalan.

"Iya, kan tadi aku lagi main hp
 Terus aku lihat, tapi g tau sih balik lagi apa ngga" Kata anak itu.

Bunda memutuskan untuk balik lagi, tengok lagi ke rumah tetangga yang di ujung. Masih g ada kata anak tetangga.

Pulang ke rumah, taruh sendal yang tadi dibawa2 untuk Zahira sekalian ambil hp. Bilang sama Dzikri yang lagi ngepel "Bang, Zahira g ada... Bunda udah cari, tapi g ada. Abang di rumah aja ya jaga Syakira. Bunda cari Zahira dulu".

Kali ini bunda cari pakai sepeda Dzikri yang g cocok banget dah buat emak2, bannya pun kempes. Cari lagi ke depan jalan. Tanya orang warung depan katanya g lihat, tanya toko bangunan dan warung makan juga sama.

Jalanan sepi...


Ya Allah ini anak ke mana ya...
Dulu depok pernah heboh dengan kasus penculikan anak. Ah tapi belum 1x24 jam mah kan belum bisa lapor bukan.

Cari kemana lagi inii...

Oke.. Telpon Ayahnya...

Sambil ngos2an "Assalamu'alaikum Yah... Zahira g ada... Bunda lagi cari"

Eh.. Itu di seberang kayanya ada anak pake baju pink.

Muter nyebrang lapangan, dan ternyata bukan Zahira. Ketemu lagi anak sekolah tadi sama temen2nya. G ada yang liat juga.

Lanjut telepon lagi ayahnya.

"Yah g ada, tadi di rumah tetangga, terus g ada. Gimana ya..." (nada panik dan ngos2an)

"Coba cari ke belakang, terus bilang ke Pak RT supaya diumumin di mesjid, Ayah pulang ya..."
Jawab suami dengan nada bersahaja tea.

Sambil naik sepeda berkelebat suara "ini ibunya gimana sih g jagain anaknya".

Tapi juga asa g  mungkin anak ini berani jauh kalau g ditemenin atau dilihatin.

Pas lewat di poskamling ada bapak2 yang datang tapi setelah ditanya g lihat juga katanya.

Ya udah deh ke Pak RT, tapi ke rumah dulu, coba ke tetangga lagi, siapa tahu anaknya nyelip.

Sampe depan cluster rumah....

Anak kecil pakai baju pink lagi jalan santai pakai sandal kebesaran.

"Ya Allah Zahira, Bunda nyariin"

Anak tetangga juga lagi ke warung sebelah cluster, pas ditanya katanya dari rumahnya (rumahnya sebelah yang ujung, yang mana tadi pintunya tertutup jadi g nyari ke sana).

Alhamdulillaah...
Langsung pulang, minta tolong Dzikri bawa sepeda. Sementara tangis teriakan Syakira sudah terdengar sampai ujung cluster.

Telepon Ayahnya deh ngabarin takut panik.

Anaknya mah hare haree....
Tak mengerti apa2....

Video Call sama Ayahnya, sementara Bundanya lelaah.

Oke lain kali yaaa...
• Kalau g yakin anaknya diem2 aja lebih baik ajak pulang aja. Bujukin di rumah (mendesak, ada bayi).
• Cari ke tempat terdekat dulu.
• Kalau punya planning olahraga, kerjain. Jangan nunggu dipaksa beginih (minggu lalu g olahraga).

Kamis, 22 Februari 2018

Menghadapi Anak dengan Usia Hampir 2 Tahun


Alhamdulillaah ya merasakan lagi anak mau memasuki usia dua tahun, inSyaAllah.

Usia eksplorasi yang semakin menjadi, semakin ekspresif, menunjukkan otoritasnya sebagai individu (baca: ga mau dilarang atau diatur untuk hal tertentu), paham berbagai instruksi dan suka menguji coba.

Bersyukur, alhamdulillah hampir mencapai dua tahun meski pernah dirawat dua kali karena sakit. Semoga seterusnya sehat selalu ya.

Bundanya harus berusaha sabar dan menguatkan kesabaran tea.

Bagaimana tidak?

Sekarang anak cantik udah bisa buka kulkas sendiri. Stok bahan makanan dibenahin sama doi. Dipindah2 posisi, bahkan ada yang ditaruh di luar kulkas. Sementara 5 butir putih telur harus merelakan dirinya berserakan di lantai (oke, bunda g jadi bikin kue, haha). Sedangkan teko berisi air es sudah pasrah diobok2.

Oleh karena bunda juga ada kesibukan lain, terutama urus adik bayi, terpaksa itu kulkas dilakban bagian atasnya. Alhasil pas buru2 mau buka kulkas, bunda kerepotan sendiri... Hehehe....

Belum lagi, anak batita ini juga seneng nyuci, ya baju, ya piring, ya dirinya sendiri. Jadi, pintu belakang harus terbiasa ditutup. Khawatir nguprek sendiri, licin soalnya.

Kalau makan juga g mau disuapin, maunya makan sendiri namun berakhir dengan remah2 nasi yang bergelimpangan, seolah remah2 itu berteriak "Ahh... Dia menyia2kanku, aku terserak tak mampu bergerak" (apa sih).

Maka, kalau makan harus ditemani. Bundanya siap dan sigap menjaga agar tak ada yang sia2, biarlah masuk ke perut bunda yang pada akhirnya pun untuk anak2 juga, inSyaAllah.

Sekarang, anak nyaris dua tahun ini juga sudah inisiatif ambil kursi plastik dan menaikinya demi menjangkau benda2 yang terletak di atas.

Tentu sajahh...
Yaa...
Tentu saja pemirsa...

Benda2 yang di atas itu juga harus menguatkan diri karena anak cantik ini akan melemparnya ke bawah.

Di usia ini, anak 22 bulan ini juga sedang belajar berkomunikasi dan berinteraksi. Ia suka berteriak sehingga Bunda harus siap sedia berkata "bicara yang baik ya. Zahira mau apa?". Lalu diajarkan untuk mengutarakan maksudnya sehingga ia bisa mengikuti. Kata favoritnya adalah "g mau".

Sebagai Kakak cilik, alhamdulillah sayang sama adik. Adiknya dibacakan buku, meskipun bukunya terbalik dan suara yang keluar dari mulutnya adalah 'Roarrr...', menirukan suara harimau, hihihi....

Terkadang adiknya disuruh gonta ganti baju, dicarikan yang bagus menurutnya. Kalau nangis diberikannya mainan.

Konflik terjadi ketika ia mau menyusu sementara adiknya belum selesai. Maka sang adik akan ditarik sampai lepas lalu ia berkata "Bismillaah..." (baca doa mau nyusu).

Hobinya akhir2 ini adalah 'menaruh' barang2 di selipan belakang kasur, yang mana sulit untuk mengambilnya kembali. Segala pensil warna, huruf2 scrabble, hingga centong nasi sukses berada di sana (semoga betah yaa di sana, tunggu saja, inSyaAllah nanti kalian diselamatkan, setelah ada bala bantuan yang bisa menggeser kasurnya, hehe).

Kalau bundanya udah mulai kesal, protes sama apa yang dilakukannya, biasanya dia nyengir depan muka bundanya. Terus aja nyengir sampai wajah bundanya kondusif lagi. Hahaha...

MaSyaAllah Naak...
Semoga sabar selalu bundamu ini.
Semoga jadi anak yang shalihah.

Aamiin