Minggu, 31 Mei 2015

Mengajarkan Anak Tentang Uang (Money Matter for Kids)

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 13 Mei 2015
Tema : Mengajarkan Anak Tentang Uang (Money Matter for Kids)
Narasumber : Ustzh. Poppy Yuditya
Resume by : Annisa Elmiani

Dalam hal ini tidak hanya uang, intinya adalah harta.

Seseorang dikatakan cerdas jika mampu berkata benar. Di dalam al Quran ada 1 ayat yang berbeda dari 133 ayat lainnya yang menyebutkan tentang harta. Bisa jadi yang 1 ini justru adalah parameter dari kehancuran atau kecerdasan kita.

Firman Allah swt dalam QS. An Nisa: 5

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik."

Disebutkan mengenai orang yang telah sempurna akalnya, yaitu cerdas yang dalam hal ini berhubungan dengan harta. Maka "cerdas (sempurna akal)" adalah parameternya untuk bisa mengamanahkan harta kepada anak.

● Peranan Uang Menurut Islam

1. Fadhl Allah: kelebihan dari Allah swt.

Firman Allah swt dalam QS. Al Jumu'ah: 10

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Kadang kita berpikir bahwa uang adalah hasil kerja keras kita. Merasa uang adalah milik pribadi sehingga terserah padanya akan digunakan untuk apa. Kita tentu tidak nyaman jika seseorang memamerkan hartanya. Mengapa? Karena memang tidak sesuai. Ketika hati kita diisi dengan baik, ruhiyah diisi dengan ibadah-ibadah, maka furqan kita hidup. Contohnya rasa tidak nyaman tadi yang menandakan masih ada furqan yang hidup di hati kita. Berhati-hatilah ketika furqan kita mati. Kita beli jilbab harga 1 juta tapi untuk pergi haji terasa berat.

Ingat! Harta itu bukan hasil kerja keras kita, tapi kelebihan dari Allah, amanah dari Allah swt.

Islam juga mengajarkan kita untuk berbagi. Bukan berarti harus sama rata sama rasa seperti paham komunis. Maksudnya adalah yang kaya memberi pada saudaranya. Bukan kemudian yang berpunya jadi tidak punya.

Ingat bahwa Islam mengajarkan bahwa ketika kita berbahagia, tidak lantas membiarkan saudara yang kesusahan. Lihat sekeliling, jangan sampai menumpuk harta untuk diri sendiri. Berbagi lebih mulia.

2. Qiyaman: sarana pokok kehidupan.

Seperti dalam QS. An Nisa: 5. Sarana pokok yaitu supaya kita berdiri, berjalan, sehat, kuat. Jangan sampai sebaliknya, terpana oleh harta.

3. Khair: dimanfaatkan untuk kebaikan.

Firman Allah swt dalam QS. Al-Baqarah: 180

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa."

Harta bukan untuk bermewah-mewahan atau ditumpuk-tumpuk seperti dalam surat At Takatsur.

Periksalah kembali, apakah harta yang Allah titipkan sudah menjadi fadl, qiyaman dan khair?
Kita harus khawatir jika sudah sampai pada titik berlebihan.

● Kebutuhan Manusia

Needs and Wants

Firman Allah swt dalam QS. Thaha: 117-119 (terjemah)

Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ٰ
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,
dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya".

Jika merujuk pada ayat di atas, maka kita harus memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, dan atap untuk tempat berteduh. Itu adalah hal-hal primer. Seringkali yang jadi permasalahannya, haruskah beli atau sewa?
Yang penting jangan sampai kita terikat pada rumah itu. Rumah adalah sarana kehidupan, jangan sampai membuat kita "stuck". Sayang dengan rumah yang sudah dibeli susah-susah, padahal lingkungan buruk, tidak ada sekolah, namun tidak mau hijrah karena rasa sayang tersebut.

Ingatlah kisah Imam Syafii yang hijrah dari palestina ke Baghdad, Irak demi mendapat ilmu dan lingkungan yang lebih baik.

Kalau kita punya kemampuan untuk membawa lingkungan menjadi baik, itu bagus. Tapi kalau anak kita justru malah jadi tidak baik akhlaknya karena pengaruh lingkungan, pindahlah, Hijrah! Ketika kita berniat pindah karena ingin memperbaiki akhlak anak-anak kita, inSyaAllah surga.

Seperti kita tahu, yang membedakan amalan seorang muslim dengan non muslim adalah NIAT, meskipun yang dikerjakan sama.
contoh: puasanya orang hindu/budha berbeda dengan orang Islam, menyusuinya orang non muslim adalah supaya anak sehat, padahal yang memberi kesehatan itu kan Allah. Sedangkan bagi orang Islam menyusui adalah karena Allah. Berkatalah: ayo lancarkan ASI karena ini ibadah Lillaah! Yang lainnya adalah bonus dari Allah swt.

● Janganlah membelanjakan sesuatu melainkan karena mengharap ridha Allah swt. Seperti dalam firman Allah swt berikut.

QS. Al Baqarah: 272

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)."

Berkacalah pada diri sendiri, sudah berapa banyak berbagi pada orang lain?
Berapa banyak jilbab, baju dan sepatu yang dimiliki.

Hindari mengoleksi barang. Ketika mengoleksi, mahal pun menjadi tak masalah. Seringksli kita dibodoh-bodohi oleh tren. Kenapa? Karena tidak punya pegangan: "apakah Allah ridha atau tidak?"
Juga mainan anak, jangan sampai suka mengumpulkan/ mengoleksi sehingga membeli barang tidak sesuai kebutuhan.

Pikirkan! Ketika belanja, belanjakanlah harta karena mengharap ridha Allah swt, bukan karena nafsu. Misalnya, membeli gamis karena ingin tampil syar'i sehingga mendapat ridha Allah.
Ketika membeli 1 baju, maka keluarkan/ sedekahkan 1. Jangan sampai malah beli lemari baru.

● Hemat tapi Tidak Pelit!

QS. Al Furqan: 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."

Ayat di atas adalah petunjuk bagi kita untuk mengatur pembelanjaan harta. Yaitu hemat tapi tidak pelit. Belilah karena kualitas.

● Pertanggungjawaban atas Harta

Sabda Rasulullah saw:

"Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya" (HR at Tirmidzi).

Terapkanlah hadits dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum mengajarkan tentang harta atau uang kepada anak-anak kita, maka orang tua harus lulus dulu belajar tentang harta. Biasakan anak taat, sederhana, dan disiplin.

● AR RUSYD

Konsep Ar Rusyd

Mari kita pahami dari QS. An Nisa: 5-6 berikut.

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik."

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ َ

"Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya...."

Dalam ayat tersebut terdapat kata ar rusyd yaitu cerdas dalam memelihara dan mengelola harta. Sekaligus ayat tersebut juga menyebutkan lawannya yaitu as sufaha yg artinya orang yang belum sempurna akalnya.

Harta itu bukan untuk ditumpuk tapi dikelola. Menabung itu bukan mengelola tapi menyimpan harta. Sedangkan Allah menghendaki kita mengelola harta. Harta yang ada sebaiknya dikelola, uang diputar misalnya untuk usaha.
Inilah yang diharapkan ada pada anak-anak kita, cerdas mengelola harta. Ar Rusyd diharapkan tampak sesaat setelah baligh. Jadi, anak-anak sebaiknya diamanahi harta setelah mencapai Ar Rusyd.

Islam tidak menghendaki generasi As Safih (memiliki sifat As Safahah) yang tidak kunjung matang akalnya. Tak memiliki pertimbangan matang dalam hidupnya karena tak ada ilmu yang melandasi mereka. Kalaupun hapal teori, syahwat mengalahkan akal sehat mereka.

Islam mengenalkan generasinya yang hebat yaitu para pemuda Ar Rasyid (memiliki sifat Ar Rusyd). Merekalah generasi yang layak mendapatkan amanah besar bumi ini. Mereka yang telah baik dalam mengendalikan harta; menyimpan, memperbaiki, membelanjakan, dan mengembangkan, pasti telah tersusun dengan baik akal dan hati mereka. Mereka telah mampu membedakan yang manfaat dan yang membahayakan. Mereka visioner, memandang jauh ke depan bukan kesenangan sesaat. Mereka mampu merencanakan dengan baik, mampu menahan gejolak syahwat. Akal mereka sehat dan hati mereka jernih.

● KESALAHAN ORANG TUA

1. Memberi uang tanpa alasan.

Anak-anak terbiasa mendapatkan harta dengan mudah tanpa diajarkan bertanggungjawab, untuk apa hartanya. Ajarkan pada anak bahwa "harta adalah kelebihan dari Allah melalui ayahmu, dipindahkan ke tangan ibumu, lalu diserahkan kepadamu untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt."

2. Mengajarkan belanja barang yang tidak jelas manfaatnya.

3. Menyenangkan anak selalu dengan uang.

Anak rewel sedikit dibujuk dengan es krim, atau main di tempat game. Jadi orang tua yang mengajarkan anak tidak menghargai uang. Tidak terbentuk pemahaman bahwa uang sebagai sarana kemuliaan.

● Setelah baligh, anak bertanggung jawab atas harta. Jadi, sebelumnya orang tua benar-benar harus memberikan pemahaman yang lurus, niat yang lurus ketika anak mengelola harta maupun ketika ingin mencapai sesuatu.

● BELAJAR DARI SHIROH

◆ Usia 8/ 10 tahun Rasulullah mulai menggembalakan kambing. Pada masa itu beliau tinggal dengan Abu Thalib yang dalam keadaan kurang mampu.
Ambil pelajarannya, jika punya kelebihan, coba ternak kambing, sesekali ajarkan anak menggembalakannya.
Rasulullah pernah berkata bahwa "tidak ada nabi yang tidak menggembalakan kambing". Yakinlah, ada hikmah yang terkandung di dalamnya.

Kenapa tidak berdagang?

Jika menggembala kambing, upahnya paling hanya beberapa dirham. Tapi kalau berdagang, anak kecil pun bisa saja sukses sedangkan pada usia 10 tahun anak belum bisa kelola harta dalam jumlah besar.

¤ Usia 12 tahun, Rasul baru sebatas menemani berdagang. Melihat dan mengamati dulu bagaimana proses perdagangan, fiqihnya, dan lain-lain.
Dalam siroh, anak tidak dianjurkan berdagang di usia dini.

Pada kenyataannya, seringkali ada kegiatan market day untuk anak. Peristiwa yang terjadi ternyata anak hanya dapat sedikit hasil, sementara barang-barang dagangannya habis dibagi-bagikan. Sehingga yang terjadi adalah ketidakkonsistenan. Anak belum mampu menerima amanah. Seharusnya orang tua dan guru ajarkan dulu pada anak mengenai amanah, fiqih jual beli, menimbang, dan sebagainya.

¤ Usia 17 tahun, Rasulullah saw mulai membawa sendiri dagangan ke Syam.

● Nasihat Khalid Asy Syantut

1. Jangan memberi uang pada anak tanpa sebab.

2. Orang tua memberikan uang Ied (THR) sebagai bentuk cinta dan menyenangkan di hari Ied. Katakan bahwa ini Fadhl bukan uangmu. Ingat bahwa sebelum sampai Ar Rusyd ia masih tanggung jawab kita.

3. Biasakan anak menabung dari kecil. Ajarkan agar tabungan tersebut juga diniatkan untuk berbagi. Jangan sampai mengatakan "terserah, kalau mau beli sesuatu nabung sendiri".

4. SMP baru mulai diberi uang saku. Beri pemahaman bahwa dia bertanggung jawab atas apa yang dibelinya setelah bermusyawarah dengan orang tua sebelumnya.

5. SMA: lanjutkan beri tambahan jumlah dari sebelumnya dengan tambahan tugas di rumah atau di luar rumah. Contoh: mulai mencuci baju, tugas mengepel, dll. SMA tinggal kontrol keuangan dan minta buat laporan mingguan/ bulanan.

6. Sejak dari akhir masa SD, sepanjang SMP dan SMA, anak-anak menuliskan rencana dan laporan pertanggungjawaban pemakaian uang untuk mereka dengan dikontrol oleh orang tua. Beri penghargaan bila perencanaan mereka baik, dan beri hukuman bila buruk.

Untuk SD, uang yang diberikan orang tua beritahu terlebih dahulu untuk apa uangnya. Misalnya, ini uang 5000. 3000 untuk beli air mineral, 2000 boleh untuk beli es lilin.
Musyawarah di awal dan controlling harus konsisten.

7. Biasakan anak berinfaq.

___________________________

🔸Bagaimana mengajarkan anak sedekah?

Hati anak itu lembut, biasanya melihat dari contoh. Tak perlu banyak bicara, ia melihat maka ia akan mencontoh. Usia 0-5 tahun itu amat perlu keteladanan.

◆ Contohnya kalau ada tamu kita hidangkan makanan terbaik yang kita punya, kita jelaskan bahwa begitulah islam mengajarkan berbagi, bersedekah.

◆ Ajak anak misalnya ke pinggiran rel dengan sebelumnya membeli madu lalu diberikan pada mereka yang tinggal di sana.

◆ Kalau anak punya uang yang disimpan oleh kita, ajak untuk bersedekah karena Allah.

◆ Anak juga belajar dari cerita kita. Makanya berkisah itu penting.
Ketika anak melihat berita tentang anak-anak di Palestina, pancing empatinya dengan mengajaknya bicara, misalnya "bagaimana makannya ya?", "bajunya terbakar semua, dari mana ya dapat baju?". Sampai akhirnya anak dengan sendirinya bilang ingin bersedekah.

🔸Bagaimana mengajarkan privasi pada anak?

Itu menjadi PR kita. Untuk anak remaja yang mulai memakai password untuk hp nya sehingga kita sulit memantau, cobalah tanya dari hati ke hati. Sempatkan minimal dua bulan sekali (untuk usia SMP-SMA), anak laki-laki dengan ayahnya, anak perempuan dengan ibunya, pergi berdua saja. Bicara dari hati ke hati. Belajar dari Rasulullah yang menggunakan cara berdialog ketika menasihati seorang pemuda.

🔸Apakah batas antara kebutuhan dan keinginan?

Jika sampai berhutang untuk sesuatu karena keinginan, itu berarti melewati batas kebutuhan kita. Karena yakinlah Allah swt mencukupkan kebutuhan kita.

🔸Kapan anak perempuan baligh?

Saat haid, jika tidak haid pada usia 17 tahun.
Namun anak-anak yang sudah banyak terkontaminasi pikirannya dengan romantisme juga yang akses internetnya mudah di rumah, biasanya lebih cepat baligh.

🔸Apakah boros jika membeli suplemen kesehatan yang harganya mahal?

Kuncinya: hemat tidak kikir.

Jika merasa kemahalan maka kita tidak butuh.
kita juga tidak bisa menjudge orang lain boros karena kebutuhannya berbeda. Kecuali kalau memang sudah berlebihan, namanya boros.
Untuk kesehatan kita bisa ikuti sunnah Rasul misalnya dengan mengkonsumsi madu, zaitun dan berbekam.

Ketika membeli buku pun harus dibaca. Beli 1 lalu baca, setelah selesai beli lagi. Jangan sampai jadi kolektor buku yang bukunya banyak tapi tak terpakai. Jangan juga menjudge orang yang tidak membeli buku tertentu sebagai tidak peduli dengan ilmu. Bisa saja yang tidak punya ensiklopedia karena mahal justru jadi lebih kreatif karena harus memanfaatkan buku bacaan yang ada.

Jangan beli sesuatu yang bukan budgetnya, sesuatu yang dipaksa itu tidak baik.

🔸Bagaimana dengan MLM?

Menurut Ust. Budi Ashari harus hati-hati dengan MLM. Orang yang awam dengan fiqih syariah jual beli dan tidak memahaminya, sebaiknya jauhi MLM.

_____________________________

KESIMPULAN PEMBAHASAN AR RUSYD

1. Pemuda hasil pendidikan Islam adalah pemuda yang bukan saja Baligh, tapi juga Rasyid.

2. Biasanya sifat Ar Rusyd hadir setelah usia baligh.

3. Lawan dari Ar Rusyd adalah As Safahah (belum matang akalnya). Generasi As Safih tidak layak mengendalikan hartanya sendiri.

4. Parameter seorang anak muda telah memiliki sifat Ar Rusyd adalah: harta.

5. Pemuda Ar Rasyid adalah mereka yang mampu mengatur harta, mengembangkannya, menjaganya dan memperbaikinya, juga baik dalam membelanjakannya serta mampu membedakan antara yang manfaat dan membahayakan.

6. Baiknya agama pemuda memudahkan ia memiliki sifat Ar Rusyd. Sebagaimana kata Ar Rusyd dalam al Quran yang memiliki beberapa arti lain selain arti baik dalam mengatur harta: iman dan tauhid, hidayah dan istiqomah, baik dan manfaat, dan kebenaran.

7. Orang tua harua melatih anak-anaknya sebelum baligh untuk mengendalikan harta dalam jumlah kecil.

8. Jika telah memasuki usia baligh, orang tua harus mulai meningkatkan latihan mengendalikan harta dalam jumlah yang lebih besar untuk dianalisa apakah ia telah mampu menjaga harta dengan baik dan mengembangkannya.

9. Jika mereka dinilai telah baik dalam mengendalikan dan mengembangkan harta, maka mereka telah lulus dari sifat As Safahah dan telah memiliki sifat Ar Rusyd. Dengan demikian mereka telah layak mengendalikan hartanya sendiri.

10. Mereka yang tak kunjung memiliki sifat Ar Rusyd, sampai usia berapa pun, tidak diizinkan Islam untuk diserahi amanah harta besar.

Rabu, 20 Mei 2015

Finansial Keluarga Muslim

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤

PARENTING NABAWIYAH

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 29 April 2015
Tema : Finansial Keluarga Muslim
Narasumber : Ust. Budi Ashari
Resume by : Annisa Elmiani

● Umat Islam sesungguhnya terdiri dari keluarga-keluarga yang istimewa dan mempunyai aturan yang berbeda dari lainnya. Namun, mengapa muslim tidak maju? Jawabnya adalah karena jauh dari al Quran dan sunnah.

● Ada hal-hal tertentu yang diatur langsung oleh syariat. Contohnya zakat. Namun, ada juga yang diserahkan kepada kita. Ketika al Quran dan hadits tidak menentukan prosentasi untuk sedekah, misalnya mengenai seberapa banyak suami memberikan penghasilan ke istri, maka percayalah bahwa Allah swt Maha Tahu kemampuan hambaNya. Masing-masing berbeda, jadi yang tidak ditentukan syariat, kita dibebaskan untuk menentukan sendiri sesuai kemampuan.

● Allah swt menyebut harta dengan beberapa istilah seperti dalam ayat berikut:

◆ QS. Al-Baqarah: 180

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa."

》Dalam ayat di atas, harta diistilahkan dengan "khaira" (kebaikan).
Artinya, Allah swt ingin di dalam rumah kita harta menjadi kebaikan, diperoleh dari kebaikan, dan bernilai kebaikan. Maka nantinya kita juga berharap harta yang kita tinggalkan pun akan menjadi kebaikan.
Banyak kasus dimana ketika orang tua yang bekerja keras selama hidupnya lalu ketika meningg ternyata hartanya menjadi bahan pertengkaran anak-anaknya.

◆ QS. An Nisa: 5

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik."

》Dalam ayat tersebut, harta diistilahkan dengan "Qiyama" (berdiri).
Harta itu Allah swt jadikan Qiyama, kokoh, berdiri. Artinya, jika salah kelola dan salah mencari harta, maka robohlah kehidupan rumah tangga. Terpenting adalah bukan banyak atau sedikitnya harta, tapi keberkahannya.

Berbagai istilah mengenai harta yang disampaikan Allah swt pasti banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

● QS. An Nisa: 5-6 jika dikaitkan dengan surat lain dan hadits, akan menjadi panduan yang luar biasa untuk menentukan kapan anak mulai diberikan harta. Dalam ayat ini jelas bahwa kata "jangan" berarti haram hukumnya untuk memberikan harta kepada "sufaha" (orang yang belum sempurna akalnya).

💰 PEMASUKAN KEUANGAN KELUARGA

🔸Panduan Pertama; Perhatikan Rizki/ Pemasukan Kita.

● Jangan membawa pulang rizki yang haram, bahkan yang syubhat.

Para istri shalafus shalih dulu berkata kepada suaminya setiap hendak keluar mencari nafkah:

"Takutlah kepada Allah pada urusan kami, jangan kau beri kami makanan yang haram, kami mampu bersabar dengan kelaparan, tapi kami tidak sabar dengan Neraka Jahannam".

Istri punya peran yang luar biasa untuk mengingatkan suaminya agar meraih rizki yang halal. Jangan malah mendorong untuk mengambil yang haram. Suami mengambil yang haram bisa jadi karena memang rusak hatinya (sudah sifatnya), tapi bisa juga karena bisikan istrinya.

● Harta yang haram itu membuat ibadah dan doa kita tidak diterima, mendidik anak tidak berhasil, bahkan membuat putusnya silaturrahim.

● Pelajarilah halal dan haram di setiap pekerjaan! Karena di setiap pekerjaan ada yang halal dan ada yang haram.

● Jangan sekadar banyak, tapi harus halal! Jika haram, meski banyak namun tidak ada kebaikannya sedikit pun. Jangan sampai juga istri menuntut yang halal, tapi juga menuntut yang banyak.

🔸Panduan Kedua; Suami Harus Menafkahi.

Firman Allah swt dalam QS. An Nisa: 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."

● Suami layak menjadi qawwam kalau memberi nafkah. Zaman sekarang ada suami yang tidak menafkahi. Jika karena malas, maka itu adalah suatu kesalahan. Ada pula yang istrinya bekerja dan berpenghasilan besar sehingga tidak memerlukan uang suaminya dan suami pun tidak memberikan hasil bekerjanya kepada istri. Maka, hal tersebut pun salah karena suami harus menafkahkan sebagian penghasilannya.

Hati-hati dengan setan yang masuk ketika suami istri sama-sama berpenghasilan sehingga istri berpikir sudah tidak membutuhkan lagi suami karena hanya membawa kerepotan dengan harus melayani.

● Pengikat suami dan istri salah satunya adalah nafkah.

● Istri boleh saja berpenghasilan, bahkan bisa jadi amal shalih dengan sedekahnya. Tapi tetap harus sesuai syariat.

● Jika punya anak laki-laki, maka lahirkanlah anak yang kokoh, yang pundaknya kuat dan memiliki kebaikan karena kelak ia akan menafkahi keluarganya.

● Laki-laki yang kokoh adalah qawwam. Jangan libatkan istri untuk menafkahi. Kecuali Allah swt beri kecukupan pada istri sehingga membantu suami dengan penuh ketulusan. Maka itu jadi sedekah dan amal shalih baginya.

● Islam melarang suami mengambil harta istri tanpa seizin dan seridha istrinya (QS. An Nisa:4).

🔸Panduan Ketiga; Perempuan di Rumah untuk Mendidik Generasi.

Allah berfirman dalam QS. Al Ahzab: 33

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

"dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya......"

● Perempuan ditempatkan di rumah agar bisa berbagi tugas besar dan agung dalam mendidik generasi.

● Jika suami pulang ke rumah, ia juga berkewajiban mendidik anak-anaknya di rumah dan dianjurkan membantu pekerjaan istri.

● Perempuan boleh keluar rumah, asal sesuai syariat.

● Bagaimana generasi akan hebat jika dalam rumah tangga, ayah pergi, ibu pergi?

🔸Panduan Keempat; Qanaah.

Qanaah yaitu ridha dengan pemberian Allah. Qanaah bukan berarti tidak berusaha, tetap berusaha dan terima ketetapan Allah swt.

Firman Allah swt dalam QS. Ath Thalaq: 7

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan."

● Jatah rizki kita tidaklah sama. Namun, jika kita qanaah, maka akan seperti yang disampaikan Imam Syafi'i:
"Jika anda memiliki hati yang qanaah, maka anda dan raja dunia ini sama".

● Jika tidak qanaah, dunia seluas apapun, rizki sebanyak apa pun tidak akan terasa nikmat.

💰 PENGELUARAN KEUANGAN KELUARGA

🔸Panduan Pertama; Islam Mengajarkan Ukuran "sedang".

Firman Allah swt dalam QS. Al Isra': 29

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal."

● Penjelasan tafsir Ibnu Katsir:

"Allah ta'ala memerintahkan untuk hemat dalam kehidupan. Mencela sifat pelit dan melarang berlebih-lebihan.....kamu jangan menjadi orang pelit yang tidak memberi apapun kepada orang lain.....dan jangan berlebih-lebihan dalam pembelanjaan, sehingga kamu memberi di luar kemampuanmu, mengeluarkan lebih banyak dari pemasukanmu. Maka kamu akan tercela dan menyesal.

● Dalam ayat lain (QS. Al Furqon: 67), Allah berfirman

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."

● Pelit dan bakhil tidak ada dalam konsep islam, tapi islam juga mengajari kita untuk tidak menghambur-hamburkan uang.

● Kita yang bisa mengukur sendiri sesuai kemampuan kita. Kondisi keuangan setiap keluarga berbeda-beda, jadi jangan membandingkan dengan ukuran belanja orang lain.

🔸Panduan Kedua; Keluarga yang Diberikan Kelapangan Hendaknya Melapangkan Keadaan Anggota Keluarganya.

Seperti yang tertera dalam QS. Ath Thalaq: 7, jika Allah swt memberikan kelapangan keuangan bagi suatu keluarga, hendaknya tidak menjadikan kepala rumah tangganya pelit.

Namun, untuk keluarga yang ditakdirkan memiliki rizki yang sempit, maka pengeluarannya pun sebatas kemampuannya.

Jadi, bagi yang lapang hendaknya melapangkan anggaran belanjanya dengan jalan tengah (tidak pelit atau boros). Sedangkan bagi yang sempit keuangannya tidak boleh membebani dengan berbagai tuntutan pembelanjaan yang hanya berdasar tren, gengsi dan mode.

🔸Panduan Ketiga; Berbagi dan Berhati-hati dengan Pengeluaran yang Sifatnya Berlebihan.

QS. Al Isra: 26-27

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

● Berbagi kepada yang memerlukan bukanlah sesuatu yang mubadzir ataupun suatu keborosan.

● Dalam ayat lain (QS. Al A'raf: 31), Allah juga memerintahkan untuk mengenakan pakaian yang indah setiap shalat ke mesjid. Juga diperbolehkan menikmati makanan dan minuman, namun tetap tidak boleh berlebihan.

● Rasulullah menguatkan ayat-ayat tersebut dengan hadits berikut:

"Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan sombong". (HR. Nasa'i dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).

"Sesungguhnya Allah membenci pada kalian tiga hal: sibuk dengan perkataan tak berguna, membuang-buang harta dan banyak bertanya". (HR. Bukhari dan Muslim).

● Artinya, keuangan rumah tangga boleh digunakan untuk membeli makanan, minuman, pakaian dan berbagi. Namun tetap tidak boleh berlebihan, dengan tujuan berbangga-bangga, sombong dan membuang-buang harta.

● Bicara pengeluaran, ukurannya adalah kemanfaatan.

● Tengoklah ke bawah dalam urusan harta agar terus bersyukur dan mengukur cara kita membelanjakan harta.

● Perhatikan lemari kita, jika ada barang-barang yang lama tidak keluar dari sana itu artinya tidak manfaat.

● Jangan kenalkan anak pada merk, tapi kenalkan dengan kualitas. Merk tidak selalu bersesuaian dengan kualitas.

🔸Panduan Keempat; Mulai dari Orang Terdekat (Orang yang Ditanggung)

Sabda Rasulullah saw:

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau memberikan keutamaan lebih baik bagimu dan engkau menahannya itu buruk bagimu, engkau tak ditegur karena kekurangan, mulailah dari yang engkau tanggung. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, selamanya." (HR Muslim).

● Kepala rumah tangga hendaknya memulai pembiayaan dari yang ditanggung.

● Hadits di atas juga menjadi motivasi agar kita selalu menjadi tangan yang di atas (memberi).

● Pembiayaan mulai dari yang ditanggung dan yang dekat bisa merujuk pada ayat tentang waris (QS. An Nisa:11).

》 Ring 1: Mulai dari ahli waris utama yaitu pasangan dan anak-anak, bapak dan ibu.

》Ring 2: Kerabat, saudara, teman dekat, orang miskin, dan sebagainya.

● Jadi, tidak benar jika seseorang dermawan, banyak memberi pada orang lain namun pelit pada keluarga, terutama istri, anak dan orang tua.

Jangan juga sebaliknya, berbagi banyak dengan keluarga sehingga melupakan yang wajib, seperti zakat dan yang sunnah, seperti infaq.

● Shodaqoh tidak akan mengurangi harta kita, justru Allah swt akan mengembangkan harta kita dengan penuh keberkahan.

💰 PENYIMPANAN/ TABUNGAN KEUANGAN KELUARGA

Manusia diajarkan oleh al Quran untuk memikirkan masa depannya dengan cara menabung sebagian hartanya.

Firman Allah swt dalam QS. Yusuf: 47

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

"Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan."

Islam mengajarkan menabung, Nabi Yusuf bahkan memberi petunjuk kepada negara agar menabung hasil panen untuk menghadapi hari paceklik.

● Simpan harta di tempat yang aman dan baik. Jaga semampu kita dari ribawi.

● Simpan harta yang halal. Jadi coba cek kembali harta kita, tinggalkan harta yang haram sebelum kita meninggal.

Allah swt berfirman dalam QS. At Taubah: 34

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,"

● Tabungan yang tidak dinafkahkan di jalan Allah swt akan menyuguhkan hukuman yang mengerikan di akhirat.

💰 PENGEMBANGAN KEUANGAN KELUARGA

Islam mengajarkan kita untuk mengembangkan harta yang kita miliki.

🔸 Panduan Pertama

QS. Al Hasyr: 7

... كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ

".......supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu......"

● Islam melarang harta hanya berputar-putar saja di orang kaya.

● Kondisi saat ini, uang banyak disimpan di deposito sehingga hanya berputar di orang kaya.

● Seharusnya uang digunakan untuk menggerakkan sektor riil dan ekonomi mikro. Inilah semangat Islam tertinggi dalam hal pengembangan harta.

● Buat anggaran untuk menabung sebagian uang kita. Sebagian lainnya dikembangkan. Jika jadi usaha maka akan membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan perekonomian rakyat kecil.

● Dianjurkan untuk menyimpan emas dan perak (dinar dan dirham) untuk menjaga keuangan agar tidak tergerus inflasi.

🔸 Panduan Kedua

Asuransi Terbaik

● Kisah Hisyam bin Abdul Malik yang meninggalkan jatah warisan bagi anak laki-lakinya masing-masing 1 juta dinar. Sedangkan anak-anak Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan warisan setengah dinar. Ternyata dengan peninggalan yang melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik, semua anaknya tidak membawa kebaikan dan hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz semua hidup dalam keadaan kaya, bahkan di antara mereka ada yang menyumbang di jalan Allah 1000 pasukan penunggang kuda.

Apa perbedaan keduanya? Keberkahan!

● Simak ayat-ayat berikut ini:

QS. Al Kahfi: 82

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;..."

QS. Al A'raf: 196

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

"Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh."

● Ayat-ayat di atas mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah Yang Maha Kuasa akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

● Kisah Umar bin Abdul Aziz seorang Khalifah besar yang memakmurkan masyarakat besarnya. Ia tidak meninggalkan banyak harta, tabungan yang cukup, maupun usaha yang mapan. Namun tidak ada sedikitpun kekhawatiran ataupun rasa takut ketika telah dekat dengan kematiannya dan harus meninggalkan anak-anaknya karena yang disyaratkan ayat telah dipenuhi. Yaitu anak-anak yang shalih hasil didikannya.

》Kesimpulannya...

1. Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan dari harta yang tidak diragukan kehalalannya. Jauhkan dari sistem ribawi.

2. Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

3. JAMINAN yang paling berharga untuk masa depan anak -bagi yang berharta maupun tidak- adalah KESHALIHAN AYAH DAN ANAK-ANAK.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga. Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan dijaga, diurusi, dan ditolong Allah swt.

💰 SALAH KAPRAH KEUANGAN KELUARGA

1. Hutang

Hutang dalam islam diizinkan, namun tidak dianjurkan. Bahkan Nabi mendorong kita untuk berdoa agar terlepas dari jeratan hutang.

Orang yang syahid saja akan terganjal dengan utangnya di dunia yang belum ditunaikan.

Hutang boleh, tapi jangan sampai dijadikan sistem dalam kehidupan kita. Hari ini kita didorong untuk berhutang. Kredit motor, mobil, modal usaha. Padahal Rasulullah saw selalu mendorong transaksi secara cash/tunai, kalau tidak bisa maka boleh berhutang dengan syarat tertentu. Ketika hutang sudah jadi sistemik, maka itulah yang menimbulkan masalah. Kita bisa lihat banyaknya kredit macet sehingga menyebabkan perekonomian macet.

2. Harta Gono Gini

Istilah ini tidak ada dalam syariat. Peraturan seperti ini, dimana harta suami istri digabungkan sehingga ketika mereka berpisah dibagi menjadi 50-50, seharusnya tidak ada jika taat dengan syariat.

Islam mengajarkan untuk memperjelas harta suami dan istri sejak awal. Mereka akan hidup bahagia dengan bersama-sama menikmati harta yang dimiliki dengan ridha. Saat salah satu meninggal, sangat jelas mana dan berapa harta yang harus dibagi sebagai warisan.

Jadi, perjelaslah status kepemilikan harta suami dan istri.

3. Suami Memberikan Seluruh Hartanya

QS. An Nisa: 34 sudah jelas menyatakan bahwa suami memberikan sebagian dari hartanya.

Jika suami punya penghasilan yang kurang atau pas, tentu ia akan memberikan seluruhnya. Namun, jika penghasilannya melebihi kebutuhan rumah tangga, maka janganlah melanggar ayat ini.

Tidak benar konsep saling percaya dengan melanggar ayat. Suami istri tinggal mendialogkan kebutuhannya. Suami yang akan memenuhi kebutuhan tersebut. Sisa harta yang ada pada suami tidak perlu diketahui oleh istri, kecuali jika suami mau membuka informasi. Istri tidak perlu khawatir pada suami yang taat pada Allah swt dan RasulNya. Istri harus memahami bahwa kewajiban suami pada hartanya ada banyak. Setelah keluarga inti, masih ada kewajiban dan amal sosial lainnya.

Jangan sampai semua harta suami diatasnamakan istri, sehingga ketika ada perpisahan, suami tidak memiliki apa pun.

Jika kita yakin akan dan melaksanakan ketentuan Allah swt maka akan ada keberkahan pada keluarga kita.

4. Hati-hati dengan Kata Investasi

Pelajarilah fiqih dalam islam. Jika kita berinvestasi tanah, maka harus produktif, jangan sampai diterlantarkan karena Allah swt tidak menghendaki bumiNya sia-sia.
Harus dimakmurkan atau disewakan atau dijual atau dihibahkan.
Menelantarkan bumi Allah berat pertanggungjawabannya kelak.
_________________________

🔹Mengenai anjuran wanita untuk di rumah, bagaimana mengenai IRT yang juga merasa memiliki kewajiban untuk memperbaiki umat?

》Kembalikanlah aturan kepads syariat, tidak dengan kira-kira atau logika kita. Kalau tidak berpedoman pada syariat, maka akan ada saja kerusakan. Lalu dimana peran wanita? Carilah dalil dan panduannya, shiroh dan aplikasinya.

Tetap laki-laki dan wanita diberi kesempatan yang sama untuk beramal shalih.

Ada kisah yang amat menarik...

Pada suatu hari Rasulullah sedang mengajarkan al Quran dan as Sunah kepada para Sahabatnya. Di tengah keasyikan mengajar, beliau dan para sahabat dikejutkan dengan datangnya seorang shahabiyah. Dia bernama Asma' binti Yazid bin Sakan رضي الله عنها yang menjadi duta dari para shahabiyah di belakangnya.

Di tengah keterjutan Rasulullah dan para sahabat, Asma’ bertanya kepada beliau , " Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, dan semuanya berpendapat sebagaimana yang aku utarakan.”

Kemudian ia melanjutkan, “Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada semua kaum laki-laki dan kaum wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan kepada Rabb mu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat mereka menyalurkan syahwatnya. Kami pula yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami lah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka.”

Setelah mengutarakan semua hal yang mengganjal dalam benak semua shahabiyah, ia kemudian bertanya, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka ?”

Dengan wajah tersenyum karena mendapatkan pertanyaan yang sedemikian indahnya, Rasulullah menoleh kepada para sahabat dengan menghadapkan seluruh tubuhnya dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan tentang agama dari seorang wanita yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”

Para sahabat yang belum hilang keterkejutannya dengan pertanyaan Asma’, sekarang juga terkejut lagi dengan pertanyaan Rasulullah. Pada saat itu para sahabat hanya bisa menjawab, “Belum, belum wahai Rasulullah. Bahkan, belum pernah terdetik dalam benak kami bahwa dia akan bertanya sedemikian bagusnya, wahai Rasulullah !”

Rasulullah dan para sahabat sangat terkagum dan terpesona dengan pertanyaan yang demikian indahnya.

Kemudian Rasulullah bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu; bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami; itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Mendengar jawaban Rasulullah, Asma’ berlalu dengan wajah berseri-seri dan mengucapkan tahlil sebagai tanda kemenangan karena mendapatkan apa yang mereka impikan sebagai kaum wanita. Tak lama setelah itu, para shahabiyah yang mendengar kabar Asma’ selaku duta mereka pun mengumandangkan takbir setelah mendengar jawaban Rasululloh.

● Wanita punya kelebihan yang luar biasa istimewa. Wanita juga boleh keluar rumah asalkan sesuai syariat. Wanita boleh berpenghasilan bahkan lebih kaya dari suami dengan tetap memperhatikan syariat.

🔹Apakah boleh menyimpan dollar lalu ketika nilai tukarnya naik ditukar?

Boleh kalau menyimpan. Tapi hati-hati dengan valas. Uang itu untuk transaksi bukan untuk permainan sehingga jadi gambling. Uang sudah berubah fungsi yang tadinya alat tukar sekarang sudah menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Itulah awal mula jadi riba.

● Uang haram harus dicari jika ada yang punya. Misalnya pernah menzalimi orang lain dengan hartanya. Ketika kita sadar, maka kembalikan uangnya. Jika tidak bertemu lagi dengan orangnya, maka jalan keluarnya keluarkan untuk kepentingan umat. Ketika suatu saat orang itu datang dan meminta haknya maka harus dikembalikan.

🔹Bagaimana jika suami bekerja di perusahaan yang mengelola sesuatu yang haram?

Solusi utama adalah mencari pekerjaan pengganti yang baik. Hijrah pahalanya besar. Perjuangkan yang halal, InSyaAllah dimudahkan.

● Sistem bisa diubah, tapi lihat dulu sekuat apa posisi kita. Perlu posisi yang penting. Namun jika berkaitan dengan barang yang diproduksinya, misalnya memproduksi khamr, maka tidak mungkin diubah.

🔹Sekolah bisa di mana saja, tapi buat satu hari dalam seminggu dengan kurikulum dan guru yang berkualitas.

Jumat, 08 Mei 2015

Mengajarkan Halal dan Haram Kepada Anak

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤

PARENTING NABAWIYAH

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 22 April 2015
Tema : Mengajarkan Halal dan Haram Kepada Anak
Narasumber : Ust. Iwan Setiawan
Resume by : Annisa Elmiani


Orang tua maupun guru biasanya mengajak anak berwisata ke taman lalu lintas. Di sana anak diajarkan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Apakah anak-anak sudah menyetir mobil atau motor sendiri sehingga mereka diajarkan mengenai rambu-rambu lalu lintas? Jawabnya tentu saja belum, namun kita merasa perlu untuk mempersiapkannya.

Hal-hal seperti itu orang tua sudah ada perhatian untuk mengajarkannya, lalu bagaimana dengan halal dan haram? Ternyata banyak yang masih mengabaikannya.
Padahal seharusnya paling utama orang tua memiliki kesadaran untuk mengajarkan Rambu-rambu Allah. Bagaimana halal dan haram sebagai rambu-rambu Allah?

Menurut Para Ulama, mempelajari Islam utamanya cukup dengan 3 hadits:

1| Niat yang Ikhlas

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

2| Landasan dalam Beribadah

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak.
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim), dan dalam riwayat Muslim disebutkan: Barangsiapa yang melakukan suatu amal (ibadah) yang tidak sesuai dengan urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak.

3| Halal & Haram

Dari Abi Abdillah An Nu’man bin Basyirradhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya.
Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.  (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Jadi, Halal dan Haram itu dilandasi dua syarat, yaitu Ikhlas dan sesuai ajaran Rasulullah saw.

● Mengajarkan halal dan haram pada anak berarti mengajarkan sepertiga agama pada anak.

》PENGARUH MAKANAN DAN MINUMAN HARAM BAGI INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT MUSLIM

1] Bersih atau Kotornya Hati

● "Jika yang syubhat dapat merusak hati apalagi yang haram". (Hadits Nu'man bin Basyir).

● “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging tersebut buruk, buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati".
(Hadits Riwayat Muslim).

Jika hati banyak mengkonsumsi makanan yang haram, maka ia akan menjadi buruk sehingga anggota tubuhnya pun menjadi buruk.

2] Baik atau Buruknya Perilaku

● QS. Al-Baqarah: 168-169

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu".

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".

● QS. Thaha: 121

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

"Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia".

● Dari ayat-ayat di atas kita dapat lihat bagaimana setan selalu berusaha memperdaya manusia. Bahkan akhirnya berhasil mempengaruhi istri Nabi Adam untuk memakan buah yang Allah larang untuk Nabi Adam dan Istrinya. Akibatnya Allah menanggalkan pakaian mereka sehingga tampak auratnya. Kenapa hukumannya dengan ditampakkan aurat? Karena keduanya memakan makanan yang diharamkan Allah swt.

Ternyata dari kisah tersebut menunjukkan adanya hubungan antara makanan dengan menutup aurat. Jadi, seandainya kita atau anak kita susah untuk menutup aurat, coba evaluasi apakah ada sesuatu yang haram yang kita makan?.
Semakin banyak makanan haram yang masuk, semakin mudah tergoda oleh setan.

Makanan yang haram tidak hanya berpengaruh pada hati tapi juga kepada perilaku. Jika kita, anak-anak kita melanggar syariat, coba evaluasi kembali makanan yang masuk ke tubuh kita.

3] Semangat Berbuat Baik atau Buruk

● QS. Al-Mu'minun: 51

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Ibnu Katsir menyatakan: "Allah Ta'ala pada ayat ini memerintahkan para rasul'alaihimussalaam agar makan makanan halal, dan beramal shaleh. Disandingkannya dua perintah ini mengisyaratkan bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Dan sungguh mereka benar-benar telah mentaati kedua perintah ini." (Tafsir Ibnu Katsir 5/477, baca juga: Adwaa'ul Bayan 5/339).

Sebaliknya, makanan yang haram bisa menjadi penopang amalan-amalan yang tidak baik, semangat ibadah pun menjadi lemah.

4] Terkabul atau Tidak Terkabulnya Doa

Tidak ada daya kecuali dari Allah swt, maka kita harus memohon kepada Allah swt satu-satunya tempat bergantung. Doa adalah cara kita memohon kepada Allah swt. Orang yang memakan makanan yang haram akan menjadi sebab tidak terkabulnya doa.

● Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul. Allah ta’ala berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih” (QS. Al-Mu’minuun : 51). Dan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah : 172). Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb..ya Rabb…”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015).

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran, meski faktor-faktor diijabahnya doa terpenuhi seperti: dalam keadaan safar (waktu mustajab), menengadahkan tangan, dan gilhah (merengek, memelas). Namun, ternyata doanya tetap tidak dikabulkan karena hal-hal haram yang ada pada dirinya.

● Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa'ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah". Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa'ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya."
(HR At-Thabrani).

5] Sehat atau Sakit Fisik

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa makanan yang haram berpengaruh buruk pada tubuh kita.

6] Kuat atau Lemahnya Generasi

● Imam Bukhari

Adalah seorang ulama yang dijuluki amirul mukminin para hadits, kedudukannya sangat tinggi. Beliau telah hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih (bukan hanya isinya, tapi juga sanadnya, perawi sampai kepada Nabi beliau hafal). Ketika ayahnya ditanyakan perihal bagaimana beliau bisa demikian, ayahnya menjelaskan bahwa ia tidak pernah memasukkan makanan yang haram kepada mulut anaknya, Imam Bukhari.

● Imam Juani

Adalah salah seorang ulama di Tanah Haram yang dikenal sebagai Imam Muharramain. Ketika di majelis, beliau suka tiba-tiba pingsan. Ketika ditanya kenapa, ia menceritakan tentang masa lalunya. Ketika kecil ia pernah disusui oleh tetangganya. Ayahnya yang mengetahui hal itu lalu memaksa agar asi itu dikeluarkan, sampai ia pingsan. Kejadian pingsan itu pun masih berulang hingga ia dewasa. Ayahnya saat itu mengatakan "jika ia minum dari rumahku, saya tahu dari mana asalnya, sedangkan jika dari orang lain saya tidak tahu apakah berasal dari harta yang halal atau haram".

7] Surga atau Neraka

Ka'ab bin 'Ajrah berkata, Rasulullah saw bersabda: "Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka lebih berhak baginya".
(Hadits Riwayat At Tirmidzi).

8] Baik atau Rusaknya Masyarakat

Kita bisa bayangkan, jika individu-individu dalam masyarakat (termasuk anak-anak) mengkonsumsi yang haram, maka akan menjadi masyarakat yang hatinya rusak, buruk perilakunya, tidak bersemangat dalan kebaikan, tidak diijabah doanya, fisiknya lemah, generasi mudanya lemah, dan bahkan calon penghuni neraka.

》BAGAIMANA CARA NABI MENGAJARKAN HALAL DAN HARAM PADA ANAK?

● Anak-anak bukanlah lembaran kertas kosong!!

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذَلِكَ؟ قَالَ “اَللهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ.

Hadist riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan".

¤ Jagalah fitrah anak!
Salah satunya dengan memberikan yang halal. Allah swt menciptakan manusia itu sejatinya hanya untuk memakan makanan yang halal.

Salah satu peristiwa dalam Isra Mi'raj yaitu seperti dijelaskan berikut ini:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku pun bertemu Ibrahim -shalawatullah ‘alaih- dan aku adalah keturunan Ibrahim yang paling mirip dengannya. Aku pun datang dengan membawa dua wadah. Salah satunya berisi susu dan yang lainnya khomr (arak). Lantas ada yang mengatakan padaku, “Ambillah mana yang engkau suka.” Aku pun memilih susu, lalu aku meminumnya.” Ia pun berkata, “Engkau benar-benar berada dalam fithrah. Seandainya yang kau ambil adalah khomr, tentu umatmu pun akan ikut sesat.” (HR. Muslim no. 168).

● Anak pada masa pembebanan akan memasuki tahapan taklif (pembebanan saat baligh, mulai dihitung amal perbuatannya). Sebelum taklif, anak berada pada usia tamyiz yaitu sudah bisa membedakan baik dan buruk, bisa diajak berdialog dengan bernalar, menimbang-nimbang dan memilih di antara dua hal. Fase sebelum tamyiz yaitu golden age, dimana anak benar-benar melihat keteladanan karena daya rekam dan daya tirunya yang amat tinggi.

Ketika belum taklif, maka orang tua lah yang memiliki beban tanggung jawab terhadap anaknya. Misalnya orang tua memberikan yang haram kepada anak, maka orang tua yang berdosa.

Orang tua harus menjaga agar pada masa taklif anak jadi mandiri untuk tidak melangkahkan kaki kepada yang haram. Saat taklif pun orang tua harus terus menjaga anak agar menginjakkan kaki pada yang halal.

Ajarkan pada anak bahwa yang halal itu baik dan berpahala sedangkan yang haram itu buruk dan mendatangkan dosa.

¤ Catatan Untuk Orang tua:

1) Harus paham ilmu tentang halal dan haram, pelajari lagi fikihnya dan belajar dari Ustadz.

Contohnya suike itu haram karena termasuk binatang yang tidak boleh dibunuh.

2) Hendaknya menafkahi anak (makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dll) dari yang halal.

3) Hendaklah memberikan keteladanan.

● Tanamkan keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya di hati mereka.

¤ Ayat-ayat yang turun di awal adalah mengenai keimanan. Setelah keyakinan pada keimanan dan hari kiamat kokoh, barulah turun ayat-ayat mengenai halal dan haram.
Inspirasinya adalah bagaimana kita menjaga dan menumbuhkan keimanan anak. Ketika keyakinannya sudah kuat, muncul pula keyakinan bahwa apa yang diperintahkan Allah swt pasti baik.

¤ Nyalakan keimanan anak, kenalkan kasih sayang Allah swt dan Rasul-Nya.


(إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِى الأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ). متفق عليه

"Sesungguhnya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan seratus kasih sayang (kerahmatan). Masing-masing kerahmatan sebesar langit dan bumi. Selanjutnya Ia menurunkan satu kasih sayang (kerahmatan) saja ke muka bumi. Dengan satu kasih sayang inilah seorang ibu menyayangi putranya, binatang buas dan burung-burung menyayangi sesama mereka. Dan bila kiamat telah tiba, maka Allah akan mengenapkan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang tersisa di sisi-Nya dengan satu kerahmatan yang telah Ia turunkan ke bumi". (Muttafaqun 'alaih).

¤ Tanamkan di hati anak bahwa setiap perintah Allah dan Rasul-Nya apabila dikerjakan pasti terdapat banyak kebaikan padanya. Juga sebaliknya, setiap larangan Allah dan Rasul-Nya apabila dilanggar pasti terdapat banyak keburukan padanya.

● Memupuk sifat Muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah).

¤ Mengenalkan Allah. Contoh: Allah Maha Mendengar dan Mengetahui (QS. Thaha: 52, Al An'am: 59).

¤ Mengajarkan bahwa semua anggota badan akan bersaksi di hadapan Allah pada hari kiamat (QS. Yasin: 65).

¤ Memahamkan bahwa bumi akan bersaksi atas apa yang dilakukan (QS. Al Jalzalah: 4).

¤ Membacakan kisah muraqabatullah orang-orang shalih.

● Cegah mereka dari apa yang diharamkan dan jelaskan sebab pelarangannya agar mereka tumbuh di atas ilmu.

¤ Abu Hurairah bercerita,“Dulu kami di hadapan Rasulullah saw ketika beliau sedang membagi kurma sedekah, sedangkan Hasan bin ‘Ali di pangkuan beliau. Tatkala telah selesai, Nabi saw menggendongnya di atas pundaknya, lalu mengalirlah liurnya mengenai Nabi saw, maka Nabi saw mengangkat kepala beliau, ternyata terdapat sebutir kurma dalam mulutnya, maka Nabi saw memasukkan tangan beliau lalu mencabutnya dari mulutnya kemudian bersabda, “Tidak tahukah engkau bahwa harta sedekah itu tidak halal bagi keluarga Muhammad?”. (HR Ahmad).

● Ajarkan mereka untuk hormati hak orang lain. Sehingga di kemudian hari mereka tidak akan melanggar hak-hak orang lain.

¤ "Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata; Disodorkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam segelas minuman, lalu Beliau meminumnya sementara disamping kanan Beliau ada seorang anak kecil yang paling muda diantara kaum yang hadir sedangkan para orang-orang tua ada di sebelah kiri Beliau. Beliau berkata: "Wahai anak kecil, apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi minuman ini kepada para orang tua?" Anak kecil itu berkata: "aku tidak akan mendahulukan seorangpun daripada diriku karena keutamaanku selain anda wahai Rasulullah". Maka Beliau memberikan kepadanya."
(Hadits Riwayat Bukhari).


● Berikanlah mereka teguran jika melanggar

¤ Dari Abdullah bin Busr Al Mazini radhiallahu anhu berkata: "Ibuku mengutusku kepada Rasulullah untuk membawa setangkai anggur, tapi aku makan sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku datang, beliau menjewer telingaku dan berkata: "Hai pelanggar amanah".

Hadits di atas dilemahkan para ulama namun karena tidak bertentangan dengan syariat, banyak pendidik islam menggunakan hadits ini untuk masalah teguran.
( Baca: Kisah Setangkai Anggur untuk Pendidikan
http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/guru-parenting-nabawiyah/241-kisah-setangkai-anggur-untuk-pendidikan ).

¤ Kenalkan anak dengan konsekuensi. Pahamkan bahwa jika melanggar syariat akan ada hukuman. Hingga akhirnya nanti mereka pun paham bahwa hukuman tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat bagi pelanggar syariat.

● Motivasi mereka untuk selalu berdoa.


اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

(Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal, terhindar dari yang haram dan beri aku kekayaan dengan karunia-Mu terhindar dari karunia selain-Mu)”.
(HR. Ahmad dan Tarmizi).

----------------------------------

🔹Menjelaskan pada anak kisah Nabi Adam yang dibisiki Hawa dan Hawa yang dibisiki setan.

¤ Ajarkan bagaimana pengaruh setan, kisahkan tentang Nabi Adam bahwa memang sudah takdir Allah tapi iti disebabkan karena menuruti bisikan setan. Jadi, harus hati-hati dengan bisikan setan, rajin-rajin berdoa, dan baca surat An-Nas.

¤ Kisah Nabi Adam jadi kesempatan untuk menjelaskan bahwa rumah asal kita itu di surga, sebagaimana Nabi Adam dulu tinggal di surga. Jadi, kalau mau kembali ke surga, jalankan perintah Allah dan jangan turuti perkataan setan.

¤ Allah swt mengingatkan kita dengan beberapa kali menyebut kisah Nabi Adam dalam Al Qur'an.

🔹 Menuntut ilmu itu wajib bagi individu, ada yang fardhu kifayah (harus dipelajari untuk mengangkat umat, contohnya bidan, dokter kandungan wanita) dan fardhu 'ain, yaitu wajib bagi individu muslim (misalnya ilmu tentang shalat, perdagangan agar tidak terjebak dalam yang haram).

🔹 Fatwa MUI tidak boleh menabung di bank konvensional jika ada bank syariah di sekitar kita.

🔹Tentang Syubhat

Banyak orang beranggapan susah mencari yang halal. Padahal yang halal itu lebih banyak daripada yang haram. Allah sudah menjamin rezeki semua makhluk-Nya. Di antara yang halal dan haram ada perkara syubhat yang harus kita tinggalkan. Jauhilah syubhat karena bisa menjerumuskan kita kepada yang haram.

🔹Bolehkah memelihara anjing?

¤ Seorang muslim tidak boleh memelihara anjing. Selain najis, pahala akan berkurang setiap hari sebesar 1 qirad (1 gunung uhud), dan malaikat tidak bisa masuk ke rumahnya.

¤ ‘Aisyah menyatakan bahawa Jibril (‘alaihis salam) berjanji dengan Rasulullah SAW untuk menemuinya pada masa yang telah ditetapkan, namun pada masa yang tersebut, dia (Jibril) tidak datang. Kemudiannya Nabi mencampakkan tongkat di tangannya dan berkata, “Tidak pernah Allah dan utusannya (Malaikat Jibril) memungkiri janji”. Kemudian Nabi terlihat dan menemui anak anjing di bawah katil dan berkata, “Aisyah, bila anjing ini masuk ke sini?” Dan beliau (‘Aisyah) menjawab, “Demi Allah, saya tidak tahu.” Kemudiannya Nabi mengarahkan dan anjing itu pun dikeluarkan. Tidak lama selepas itu, Jibril pun datang dan Rasulullah berkata kepadanya, “Engkau berjanji kepada saya dan saya menantikan engkau, tetapi engkau tidak datang-datang. Jibril pun menyatakan, “Di dalam rumah-mu ada anjing, di mana ia menghalang (saya untuk masuk), untuk kami (malaikat) tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar”.” (Hadist Riwayat Muslim).

¤ Yang boleh adalah jika anjing itu sebagai pemburu, penjaga ternak, penjaga kebun, dan untuk keamanan rumah jika rumah terpencil.

🔹Cara mengajari anak seperti apa?

Selama tidak melanggar syariat, kita boleh menggunakan cara kita. Namun teruslah mencari dan menggali ilmu mengenai bagaimana Rasulullah saw dan para sahabat mengajari anak-anaknya tentang halal dan haram karena cara mereka pasti baik.

Panduan Calistung di Kuttab Al Fatih

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤

PARENTING NABAWIYAH

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 15 April 2015
Tema : Panduan Calistung di Kuttab Al Fatih
Narasumber : Ustzh. Nurliani R. D
Resume by : Annisa Elmiani


Orang tua biasanya akan memberikan pesan-pesan kepada anak ketika ia akan pergi sekolah. Misalnya, 'jangan nakal', 'makannya dihabiskan', 'jangan main kotor-kotoran', dsb. Seharusnya kita tidak lupa sampaikan pesan penting, seperti: 'perhatikan adabmu', 'ucapkan salam pada guru dan teman-teman', dsb. Jadi yang terpenting adalah adab.

● Calistung kaitannya dengan keimanan adalah aplikasinya. Kurikulum Kuttab adalah Iman dan Al-Qur'an. Dalam hal ini, iman tidak hanya sebatas materi. Iman memang diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati, dan dilaksanakan dalam perbuatan. Namun, iman itu utamanya adalah aplikasinya, wujud nyatanya dalam perbuatan.

● PROLOG ●

Coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

》Baca tulis untuk apa dan siapa?

》Apa yang dibaca?

》Sejauh apa pengaruh membaca?

》Baca, tulis lebih sering mana?

》Baca, tulis, dan bahasa sama kah?

● Harus diingat bahwa anak-anak bisa meniru apa yang ia baca. Hati-hati dengan bacaan anak meskipun bukunya berlabel islam. Orang tua harus memilihkan bacaan dengan cara ketika akan membelikan sebuah buku coba bayangkan kira-kira apa yang ada dalam pikiran anak ketika membaca buku ini.

● Kuttab merupakan sekolah milik umat islam yang berkembang di Jazirah Arab. Kuttab Al Fatih memang memiliki metode tersendiri, namun ada beberapa kesamaan dengan ragam sekolah Kuttab tersebut yaitu:

》Kurikulum dasarnya sama-sama Al-Qur'an
Kuttab Al Fatih targetnya anak hafal 7 Juz selama 7 tahun (aslinya yang di Arab itu 30 Juz).

》Kemampuan dasar calistung dan kemampuan dasar agama diajarkan pada anak.
Kuttab Al Fatih mencoba mengadopsi dan menyesuaikan menggunakan Bahasa Indonesia. Kaidah-kaidah Bahasa Indonesia dipelajari meskipun belajar dengan berpedoman Al-Qur'an yang berbahasa Arab.

》Kuttab di Arab, sebelum hafal dan talaqqi, anak-anak menulis dulu sebelum hafalan. Jadi kemampuan menulis itu sangat penting untuk hafalannya. Anak menulis lalu menghafalkannya. Jadi konsep menulis diajarkan terlebih dahulu.

● KERANGKA

Dalam konsep islam, urutan itu penting dan berkesinambungan. Contohnya, dalam fiqih thaharah dulu yang dipelajari baru shalat. Padahal shalat adalah hal pertama yang dihisab. Itu karena sebelum shalat kita harus thaharah dulu.

》Kerangka dalam Pengajaran Calistung di Kuttab Al Fatih yaitu:

1| Bersumber pada Al-Qur'an Juz 30 yang dibuat modul-modul bertemakan Alam, Manusia, Kisah, dan Tadabbur.

2| Contoh modul:

¤ Alam; pagi, siang, malam, tata surya, musim, dll.
¤ Manusia; sifat-sifat manusia (lebih dari 18 sifat buruk manusia dan 3 sifat baiknya), interaksi dengan Allah, keluarga, saudara, dan sesama muslim.
¤ Kisah; penggalan kisah-kisah hikmah
¤ Tadabur; mengupas isi satu ayat, temanya, kaitannya dengan ayat lain di surat lain, sebab turunnya ayat tersebut, dll.

3| Modul tersebut menjadi landasan untuk pengajaran calistung yang diberikan secara terintegrasi.

4| Teknis pengajaran terdiri dari dua level, yaitu Awal dan Qonuni:

¤ Level Awal 1-2; Alam
   Level Awal 3; Manusia
   Untuk usia 5-7 tahun.
¤ Level Qonuni; Tadabur.
   Untuk usia 8 atau 9 tahun-12 tahun.

》Misalnya setelah hafalan Qur'an, kemudian mengkaji ayat-ayat yang telah dihafalkan tersebut. Guru merangkumnya menjadi sebuah kegiatan yang akan menguatkan keimanan.

● Kenapa di Kuttab mengajarkan calistung harus berpedoman Al-Qur'an dan teraplikasikan keimanannya?

Sebagai seorang muslim kita harus bercita-cita besar, punya tujuan yang mulia karena Allah swt sudah memuliakan kita.

● QS. Al-'Alaq: 1-5

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

◆ Dalam surat ini ada perintah untuk membaca. Siapa yang diperintahkan? Nabi Muhammad saw yang mana beliau diutus untuk umat islam hingga akhir zaman. Jadi, sebagai umat islam tentunya kita pun harus melaksanakannya.

   Biasanya membaca adalah materi yang disiapkan orang tua untuk anak-anaknya yang akan masuk Sekolah Dasar. Sehingga orang tua berlomba-lomba mengajari anak, bahkan memasukkan mereka ke sekolah membaca.

Sebagai umat muslim, PERBAIKI TUJUAN KITA.
Kita harus punya TUJUAN BESAR.

Membaca adalah perintah Allah swt. Bisa kita lihat bahwa kata Iqra! dalam surat Al-'Alaq diulang dengan makna yang berbeda.

¤ Pada ayat pertama
yaitu perintah membaca.
¤ Ayat 3 adalah mengenai apa yang dibaca? Tentunya syariat yang ada dalam Al-Qur'an.

Membaca adalah syariat untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah swt. Itulah yang disebut iqra sebagai keseimbangan dalam ilmu.

Jadi...

Jika kita sudah bisa membaca tapi belum membaca syariat berarti ilmu kita belum seimbang.


◆ Dalam surat Al-'Alaq ada perintah untuk berilmu. Begitulah Allah swt memuliakan kita dengan perintahNya agar kita menjadi umat yang paling cerdas, berilmu dan berpengetahuan.
Kita diberikan pedoman yang paling lengkap yaitu Al-Qur'an, kitab paling sempurna yang melengkapi kitab-kitab sebelumnya. Jadi, umat islam harus unggul !.

◆ Surat Al-'Alaq juga menjelaskan tentang pembalasan. Kaitannya yaitu bahwa apa yang dibaca akan berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku kita. Perilaku kita akan menentukan balasan apa yang akan didapat di yaumil akhir.

Contoh: terlalu banyak membaca majalah gosip misalnya, bisa membawa kita pada perilaku ghibah bahkan menyebar fitnah. Tentu akan mendapat balasan yang sesuai dengan perilaku tersebut.

● APA TUJUAN BESAR ITU?

Kembali ke pengertian Iqra' sebagai perintah Allah swt. TUJUAN BESARnya adalah SURGA. Surga didapat karena keridhaan Allah swt. Keridhaan Allah swt didapat dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

》Pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab sudah. Merujuk pada surat Al-'Alaq bahwa baca dan tulis untuk seluruh umat muslim sebagai wujud melaksanakan perintah Allah swt yang merupakan salah satu bentuk aplikasi keimanan. Agar ilmu menjadi seimbang, maka kita harus membaca syariatNya. Pengaruh bacaan itu sendiri amat luas bahkan bisa sampai ke balasan apa yang kita dapat di akhirat akibat dari apa yang kita baca.

● BRRHITUNG

Islam mengharuskan umatnya agar pandai. Belajar berhitung kembali lagi kepada alasan agama. Simak ayat-ayat berikut.

◆ QS. Yunus: 5

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui".

◆ QS. Al-Muddatsir: 31

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ

"Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia".

◆ QS. An-Nisa: 11

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".

》Dari ayat-ayat di atas kita bisa lihat bahwa ada ilmu astronomi (QS. Yunus: 5) yang tentu saja boleh dipelajari oleh umat islam, asalkan tetap dibingkai syariat.
Berhitung juga bisa menambah keimanan dan keyakinan seorang muslim sedangkan bagi orang kafir akan menjadi cobaan (QS. Al-Muddatsir: 31). Dalam Islam, ilmu berhitung amat penting untuk mempelajari syariat dan menegakkan syariat Allah swt. Kita bisa lihat berapa banyak orang Islam yang pandai namun tidak mengerti hukum warits seperti yang tertera dalam QS. An-Nisa: 11.

----------------------------
(Ada di hand out)

● PANDUAN CALISTUNG KUTTAB AL-FATIH ●

¤ Membaca

》Landasan

a. Membaca Kitabullah al Masthur/ tertulis (Al-Qur'an)
b. Membaca Kitabullah al Mandzur/ terlihat (aturan di semesta, ayat-ayat semesta)
c. Membaca Kitabullah al Mansyur/ tersebar (aturan di masyarakat, ayat-ayat jiwa).

》Sumber Pengajaran: modul alam, kisah (fase makiyah), manusia di juz 30.

》Metode: talaqqi, mandiri.

》Teknis Pengajaran

● Level Kuttab Awal:

Mulai dari mengenal dan membaca nama-nama benda yang terdapat dalam terjemah ayat yang dikaji atau kisah yang disampaikan.

Tahapannya:
1. Mengenal huruf dari sebuah kata
2. Membaca suku kata
3. Membaca Kata
4. Mengaitkan kata dengan kata
5. Membaca kalimat sederhana

● Level Kuttab Qonuni

1. Membaca terjemahan dan tafsir dari ayat yang dikaji.
2. Membaca kalimat, paragraf sampai artikel dari kisah atau materi yang berkaitan dengan ayat, dengan panduan EYD yang disesuaikan dan diajarkan yang perlu saja (mendasar).
3. Membaca buku dan memahaminya.

¤ Menulis

Ilmu dari Al-Qur'an harus dibaca, dipahami, digali dan ditadaburi untuk kemudian dituangkan kembali dalam bentuk tulisan. Sehingga ilmu itu bisa menyebar dan dinikmati oleh banyak orang. Semuanya membutuhkan proses. Oleh karena itu, anak-anak perlu diajarkan bagaimana menulis yang baik dan benar mulai dari hal-hal sederhana. Berikut tahapannya:

● Pra menulis; melatih motorik anak dengan berbagai kegiatan.

● Menulis

a. Menulis huruf, angka dengan urutan yang benar.
b. Menulis kata dari nama-nama benda yang sudah dipelajari dari ayat yang dikaji.
c. Menulis kalimat, alinea, sampai menuju tulisan utuh (mulai dari menyalin, menuliskan apa yang dihafalkan, dan menulis ide yang muncul setelah proses membaca ilmu).
d. Menghasilkan sebuah karya.

¤ Berhitung

Belajar berhitung pun harus berlandaskan agama. Berhitung merupakan kemampuan yang harus dimiliki seorang muslim.

● Pengajaran Berhitung: turunan dari kurikulum Iman (Kisah, Alam dan Manusia). Ada saatnya berhitung diintegrasikan dengan murofaqot/ pelajaran seperti Bahasa Indonesia, IPA dan IPS.

● Karakter Iman dalam Ilmu Hisab/ Hitung (Internal dan Eksternal Value).

Ini poin utamanya dimana apa yang diajarkan pada anak tak sekadar bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, namun menjadi modal untuk menanamkan nilai-nilai tauhid serta memperkuat iman dan takwa.

◆ Orientasi: taat pada Allah swt dan Rasulullah (contoh: QS. Al-Baqarah Ayat 261).
◆ Unsur sosial: berbagi, sabar, toleransi, empati.
◆ Pemenuhan kebutuhan diri.

● Contoh Aplikasi Pengajaran Berhitung terkait Murofaqot:

◆ Berhitung dalam Murafaqot Bahasa Indonesia: soal cerita (tertulis dan lisan)
◆ Berhitung dalam Murafaqat IPA: menghitung jenis buah yang tumbuh di sekitar rumah, pengamatan siklus waktu.
◆ Berhitung dalam Murofaqot IPS: jika sedang belajar angka 3, maka tugasnya mengumpulkan 3 nasihat, bersilaturrahim ke 3 tetangga, dll.

● Tahapan Berhitung per level:

◆ Kuttab Level Awal

1. Mulai dari mengenal banyak benda, dan menghitung banyak benda.
2. Mengenal angka (nama bilangan dan lambang bilangan).
3. Mengenal operasi hitung (penjumlahan, pengurangan).
4. Jika sudah mahir lanjutkan dengan perkalian.
5. Mengenal geometri.
6. Soal cerita sederhana.

◆ Kuttab Level Qonuni

1. Perkuat operasi hitung (dasar penjumlahan, pengurangan dan perkalian).
2. Problem solving
3. Geometri
4. Soal cerita

----------------------------

🔹 Usia berapa mengajarkan membaca?

Tidak ada patokan khusus mengenai usianya. Untuk syariat seperti shalat, jelas dikatakan di usia 7 tahun sudah mulai diperintahkan. Jadi, kita bisa mengambil kaidahnya. Beri toleransi hingga 10 tahun.
Contoh lain, mengenai berhijab bagi anak perempuan apakah sebelum baligh?
Ternyata lebih baik ketika anak perempuan sudah terlihat menarik, mulai biasakan untuk menutup auratnya.

Untuk membaca ada yang usia 4 tahun sudah bisa diajari. Bisa ajarkan katanya lalu maknanya.

🔹 Usia 0-5 tahun persiapkan/ didik anak seoptimal mungkin dalam keluarga sebelum dibantu oleh lembaga. 0-3 tahun tanamkan tauhid, disiplin. Mengenai disiplin bahkan ketika sedang hamil, jadwal makan dan tidur seorang ibu dapat berpengaruh pada kedisiplinan anak.

🔹Bolehkah belajar bahasa asing?

Ada dalam siroh dimana Rasulullah pada masa itu memerintahkan untuk berkorespondensi dengan kerajaan lain. Para tawanan pun dikurangi hukumannya jika mengajarkan bahasa asing pada 10 orang muslim. Jadi, belajar bahasa asing itu boleh asalkan diluruskan tujuannya.

🔹Apakah Bahasa Arab dulu (karena mempelajari Al-Qur'an) atau Bahasa Indonesia/ tulisan latin dulu?

Karena lingkungan berbahasa Indonesia dan komunikasi sehari-hari dengan Bahasa Indonesia, maka sebaiknya diajarkan bahasa di mana kita tinggal supaya anak bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

Untuk pengajaran Qur'an lihat dulu sejauh mana kebutuhannya, kalau menghafal silakan ajarkan karena anak pada tahap tidak harus memahami apa yang dihafalnya.

Mengajarkan al Quran dan Dzikir

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤

PARENTING NABAWIYAH

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 8 April 2015
Tema : Mengajarkan Qur'an dan Dzikir
Narasumber : Ust. Ja'far Abu Shofiya
Resume by : Annisa Elmiani

🔵 Memulai dengan surat Ad-Dhuha dan mentadabburinya. Hal yang selalu ingin dilakukan agar kita hamba Allah selalu bersyukur.

Dalam surat Ad-Dhuha menyimpan banyak hal berkenaan kewajiban untuk bersyukur.

◆ Ayat 1 dan 2

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالضُّحَىٰ

Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ

dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),

》Allah swt bersumpah dengan nama makhlukNya, maka seorang hamba tidak boleh mengatakan demi malaikat, demi nabi, dsb.

◆ Ayat 3

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

》Rasul ketika ditanyakan suatu perkara, berkata bahwa beliau akan menjawabnya setelah diturunkan wahyu. Allah menguji dengan tidak diturunkan wahyu beberapa waktu lamanya, sehingga Rasulullah saw mendapat ejekan. Dengan ayat ini, Allah menenangkan beliau.

◆ Ayat 4 dan 5

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

》Menjelaskan bahwa akhirat adalah lebih utama.

◆ Ayat 6-8

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

》Allah telah banyak memberi kenikmatan kepada Rasulullah. Dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan Allah swt ingin berkata pada makhlukNya "bukankah Kami yang mencukupkan rezeqi, menitipkan anak-anak kepadamu?". Ini pertanyaan yang jawabannya tidak cukup hanya "iya" atau "tidak", tapi lebih jauh lagi adalah apa yang bisa kita berikan kepada Allah swt.

◆ Ayat 9 dan 10

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

》Bersyukur dengan melindungi anak yatim, berbuat baik dan tidak berlaku sewenang-wenang.

◆ Ayat 11

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.

》Muhadatsah adalah percakapan. Dalam hal ini, fahaddits artinya dituntut untuk bercakap-cakap atas nikmat Allah swt. Teruslah sampai tidak cukup lagi untuk membicarakan nikmat Allah.

◆ Surat Ad-Dhuha dikorelasikan dengan Surat Ibrahim: 34

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

● Allah swt menciptakan kita dari keadaan tiada menjadi ada, dari air yang najis. Lalu apa yang kita berikan kepada Allah?.

● Contoh:
Ada dua orang bersahabat. Yang seorang diberi kecukupan sedangkan yang lain diberi kekurangan. Yang seorang tadi suka membantu kesulitan sahabatnya. Sehingga ada perasaan sang sahabat ingin membalas kebaikannya, ada rasa tidak nyaman, rasa ingin membalas bagaimanapun keadaannya.
Terhadap kebaikan sesama saja kita merasa tidak enak, lalu bagaimana kita sebagai hamba Allah swt?

🔵 Jika kita memiliki anak dan berharap agar menjadi anak yang taat kepada Allah swt. Niatkanlah ini sebagai upaya untuk membayar hutang-hutang kita atas kebaikan Allah swt, meskipun Allah tidak pernah menuntutnya.
Jika amanah, maka surga tempatnya. Jika tidak amanah, maka termasuk hamba yang kufur dan neraka tempatnya.

● Cium dan peluk anak kita, katakan "Nak, berbaktilah kepada Allah swt".

● Ada video via youtube dari Kizikistan (pecahan Rusia) yang menggambarkan kehidupan anak-anak penghafal Al-Qur'an.
Ada guru yang mengajarkan dan membetulkan bacaan anak-anak tersebut. Ada anak yang baru berusia 11 tahun sudah menjadi ustadz. Anak-anak tersebut meskipun menghafalkan Al-Quran tapi tetap punya waktu bermain dan masa kanak-kanaknya tetap ceria.

● Sampai saat ini kita tidak tahu mengapa anak-anak bisa menghafal Al-Qur'an dengan bacaan yang bagus. Dikatakan bahwa "sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an sebagai peringatan dan Kami akan menjaganya ada dalam hati orang-orang beriman".

● Mengajarkan Al-Qur'an dan Dzikir dengan Talaqqi

Awal mula talaqqi ialah ketika Jibril mendatangi Rasulullah saw untuk mengajarkan kepada beliau tentang Islam, Iman, dan Ihsan.

Dari Umar ra, ia berkata, “Suatu hari ketika kami duduk-duduk di dekat Rasulullah saw tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk di hadapan Nabi saw lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau saw dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha Beliau saw, sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah saw menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“ kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ … dst” (HR. Muslim).

》Talaqqi, yaitu:

◆ Duduk berhadap-hadapan.
◆ Bacakan Al-Qur'an per ayat berulang-ulang dan minta anak menirukan.
◆ Jika anak sudah mahir membaca Al-Qur'an, perintahkan ia menghafal mandiri dan anda menyimaknya.
◆ Simak hafalannya sampai hafalan anak menguat.

》Dalam talaqqi ada 5 unsur, yaitu:

1| Tahsin Tilawah; sebelum mengajarkan Al-Qur'an pada anak, orang tua harus terlebih dahulu membetulkan bacaannya.

2| Qiraah Mitsaliyah; memberikan contoh bacaan yang benar kepada anak.

3| Murajaah; mendampingi anak mengulang hafalan.

4| Tasmi; anak memperdengarkan hafalan di hadapan orang lain.

5| Musabaqah; mengikutsertakan anak dalam lomba hafalan qur'an agar termotivasi.

● Jadi, sebelum memperbaiki bacaan anak, perbaiki dulu bacaan Al-Qur'an kita.
Ulama-ulama terdahulu bisa begitu luar biasa karena belajar dari ayah bundanya, dari keluarganya. Tradisi ini masih sangat kuat di suatu negeri. Jika ditanya darimana menghafal Qur'an? Dari ummi/abi. Dari mana belajar hadits? Dari paman, dll.

● Talaqqi amat penting, anak-anak yang belum bisa membaca tetap bisa menghafal sambil mendengar dan melihat bundanya.

● Anak itu mengikuti siapa yang mentalaqqinya. Jadi, terlebih dahulu kita harus belajar tahsin.

● Di dalam islam, untuk mendidik anak menjadi orang hebat, anak sudah diajari batasan-batasan. Hafalan sendiri mengajarkan anak untuk:

¤ tahsin tilawah melatih untuk sabar.
¤ qiraah mitsaliyah melatih untuk bisa taat dengan apa yang diajari gurunya.
¤ Setelah itu murojaah, mengajari untuk bertanggung jawab dalam menjaga hafalannya.
¤ Tasmi' melatih anak untuk berani.


● MARI KITA BANDINGKAN!

》Terjemahan QS. An Naml: 40

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia“. (QS. An Naml: 40)

Nabi Sulaiman as. Allah anugerahi kerajaan yang begitu luar biasa. Bahkan salah satu pengikutnya mampu mengirimkan singgasana Ratu Balqis hanya dalam satu kedipan mata atau bahkan lebih singkat lagi! Padahal jarak yang harus ditempuh ialah dari Yaman ke Palestina.

》Terjemahan QS. Al-Fajr: 6-13

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,​ ​dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah,
dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),
yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab," (QS. Al-Fajr: 6-13).

Dikisahkan tentang Kaum ‘Aad yang mampu membuat istana-istana dari lembah-lembah pegunungan. Juga Fir'aun yang mempunyai pasukan yang banyak. Namun, Allah hancurkan mereka disebabkan keingkarannya terhadap ayat-ayatNya.

Bagaimanalah kondisi kita dengan keadaan mereka yang begitu maju. Maka sudah seharusnyalah kita mempelajari Al-Qur'an sebagai pegangan kehidupan.

● MARI KITA BANDINGKAN!

A. Para Ulama Rabbani
   
● Imam Asy Syafi'I (150 H-204 H) hafal Qur'an usia 7 tahun.
● Imam Ath-Thabari (224 H-310 H) hafal Qur'an usia 7 tahun.
● Ibnu Qudamah (541 H-620 H) hafal Qur'an usia 10 tahun.
● Ibnu Hajar Atsaqalani (852 H) hafal Qur'an usia 9 tahun.

B. Para Ilmuwan Muslim

● Ibnu Sina (370 H-482 H) hafal Quran usia 10 tahun.
● Ibnu Khaldun (732 H-808 H) hafal Quran usia 7 tahun.
● Al Biruni (362 H-440 H) hafal Quran usia kecil.

C. Para Pemimpin Besar Dunia

● Umar bin Abdul Azis (61 H-101 H) hafal Quran saat masih kecil.
● Muhammad Al Fatih (833 H-886 H) penakluk Konstantinopel hafal Quran di usia kecil.

Jika dibandingkan dengan kita amatlah jauh perbedaannya. Bagaimana selama 16 tahun (SD hingga Universitas) kita mengenyam pendidikan formal dan mengesampingkan Al Quran. Usia sekitar 23 tahun baru keluar universitas dan berpikir untuk berkarya.

Kita bisa lihat tokoh-tokoh islam tersebut di atas telah menghafal Al Quran di usia dini. Ternyata itu sudah merupakan sistem. Bahwa ternyata para penghafal Al Quran itu adalah standar yang harus dilalui, apapun keahliannya (bukan hanya untuk menjadi ahli agama).

》Jika dirata-rata urutan perjalanan para generasi awal di masa itu:

● 8-10 tahun : Hafal Al Quran 30 Juz.
● Belasan tahun: Hafal kitab hadits, belajar fiqh, bahasa dan ilmu lainnya.
● 20an tahun : Menjadi orang besar di masyarakatnya dengan prestasi gemilang.

Orang-orang besar seperti Muhammad Al-Fatih di usia 25 tahun sudah menjadi seorang sultan karena sudah ditanamkan sejak kecil.
Juga karena sistem tersebut yg pernah dibuat umat islam selama memakmurkan bumi dengan prestasi-prestasi yang sesungguhnya karyanya lebih hebat dari karya ilmuwan barat hari ini.

● Mengapa Harus Hafalkan Al-Qur'an?

》Allah swt menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang menjaga Al-Qur'an.

"Sesungguhnya Allah swt mengangkat derajat beberapa kaum dengan adanya kitab Al-Qur'an ini -yakni orang-orang yang beriman- serta menurunkan derajatnya kaum yang lain-lain dengan sebab Al-Qur'an itu pula -yakni menghalang-halangi pesatnya islam dan tersebarnya ajaran-ajaran Al-Qur'an itu". (HR. Muslim).

》 Rasulullaah saw bersabda, “Aku telah tinggalkan dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang teguh pada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnahku” (Hadist Shahih Lighairihi, HR. Malik

● Masihkah Kita Menunda Anak Kita untuk Menghafal Al-Qur'an?

◆ Perbaiki Niat!

◆ Berdoa agar Allah swt meridhai perjuangan yang kita lakukan.
Setelah meninggal terputus semua perkara kecuali 3 hal, yaitu amal jariyah, ilmu yg diamalkan, dan anak shalih yang mendoakan.

◆ Kita perjuangkan agar anak menjadi shalih. Shalih dulu, sehingga dengan keshalihannya ia akan mendoakan kita.

◆ Anak ketika sudah punya teman akan lebih memilih main bersama teman daripada menemani orang tua. Apalagi setelah memiliki pasangan, anak. Jika kita memberikan pendidikan yang baik, meski kerinduan anak terhadap kita menurun, namun ada ketakwaan dalam hatinya sehingga ia selalu ingin dekat dengan Allah swt. Baktinya kepada Allah swt akan membuatnya selalu sayang pada orang tuanya. Ia berharap ridha Allah dengan berbakti kepada orang tua.

● Bukti Keberhasilan:

¤ Ada iman dan takwa dalam hati anak. Sesibuk apa pun, ia akan selalu ingat pada orang tuanya.

¤ Anak shalih akan menemani kita hingga akhir hayat. Bonus anak penghafal Qur'an:

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an” (Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi).

🔹Bagaimana mengatasi anak yang bosan beribadah (solat, menghafal qur'an)?

◆ Itu merupakan hal yang wajar. Bahkan orang dewasa pun bisa mengalaminya. Pelan-pelan pertemukan dengan komunitas yang bisa menambah semangatnya. Terus tanamkan kecintaan.

🔹Cara hafalan dan murojaah untuk anak seperti apa?

◆ Ba'da subuh bisa untuk tambah hafalan, ba'da maghrib murojaah.
Hafalan bisa berurutan, misalnya mulai dari An-Nas sampai ke An-Naba.

◆ Ada 3 sistem hafalan:
1. Ziyadah; Hafalan baru yang disetorkan.
2. Sabki; Mengulang hafalan yang sedang dihafal. (Misalnya sedang menghafal juz 5 halaman 8, maka halaman 1-7 disebut sabki).
3. Murajaah; Mengulang juz-juz yang telah dihafal. (Misalnya sedang menghafal juz 5, maka juz 1-4 disebut Manzil).

🔹Bolehkah anak diimingi-imingi hadiah?

◆ Tanamkan pada anak, bahwa hadiah itu tidak sebanding dengan yang Allah berikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda; "jumlah tingkatan-tingkatan surga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Qur’an. Maka tingkatan surga yang di masuki oleh penghafal Al Qur’an adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu".

Sampaikan pada anak, bahwa jika ia menghafal qur'an, kelak akan jadi penghuni surga.

🔹Jika anak masih cadel tetap dibiasakan, terus biarkan berjalan alami, tunggu keajaiban dari Allah swt.

+++
Menambahkan dari Bunda Eki (www.ourlittlenotes.wordpress.com)

🔹 Contoh teknis pengajaran al Quran kepada anak untuk menghafal (misalnya QS. An Najm (53)):

Pertama, orangtua memperbaiki bacaan dan mengetahui bacaan al Quran sesuai tajwid (tahsin tilawah).

Kedua, ajarkan al Quran pada anak di waktu khusus misalnya bada’ subuh atau waktu lainnya yang dapat disesuaikan dengan rutinitas kita.
Dengan duduk berhadap-hadapan orangtua mencontohkan bacaan QS 53 : 1 yaitu: وَٱلنَّجۡمِ إِذَا هَوَىٰ misalnya sebanyak satu hingga tiga kali (qiraah mitsaliyah).

Ketiga, orangtua meminta anak untuk mengulang-ulang ayat pertama tersebut hingga hafal, misalnya sebanyak lima hingga sepuluh kali (murajaah).

Keempat, setelah anak hafal ayat pertama tadi, kita dapat menambah hafalan ke ayat berikutnya dengan mencontohkan bacaannya terlebih dahulu (qiraah mitsaliyah), QS 53:2 yaitu: مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ (dapat langsung satau ayat atau dipotong-potong ayatnya).

Kelima, setelah anak menghafal ayat kedua, kita beri contoh kembali bacaannya dari awal (orangtua membaca ayat pertama dan kedua), lalu meminta anak untuk mengikuti dan mengulang-ulang sendiri kedua ayat yang telah dihafalnya (murajaah).

Demikian seterusnya. Jika anak telah hafal beberapa ayat atau satu surat, minta anak untuk membacakan hafalan tersebut di waktu lainnya di hadapan orangtua, kakek nenek atau orang lainnya (tasmi').