Jumat, 08 Mei 2015

Mengajarkan Halal dan Haram Kepada Anak

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤

PARENTING NABAWIYAH

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 22 April 2015
Tema : Mengajarkan Halal dan Haram Kepada Anak
Narasumber : Ust. Iwan Setiawan
Resume by : Annisa Elmiani


Orang tua maupun guru biasanya mengajak anak berwisata ke taman lalu lintas. Di sana anak diajarkan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Apakah anak-anak sudah menyetir mobil atau motor sendiri sehingga mereka diajarkan mengenai rambu-rambu lalu lintas? Jawabnya tentu saja belum, namun kita merasa perlu untuk mempersiapkannya.

Hal-hal seperti itu orang tua sudah ada perhatian untuk mengajarkannya, lalu bagaimana dengan halal dan haram? Ternyata banyak yang masih mengabaikannya.
Padahal seharusnya paling utama orang tua memiliki kesadaran untuk mengajarkan Rambu-rambu Allah. Bagaimana halal dan haram sebagai rambu-rambu Allah?

Menurut Para Ulama, mempelajari Islam utamanya cukup dengan 3 hadits:

1| Niat yang Ikhlas

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

2| Landasan dalam Beribadah

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak.
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim), dan dalam riwayat Muslim disebutkan: Barangsiapa yang melakukan suatu amal (ibadah) yang tidak sesuai dengan urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak.

3| Halal & Haram

Dari Abi Abdillah An Nu’man bin Basyirradhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya.
Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.  (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Jadi, Halal dan Haram itu dilandasi dua syarat, yaitu Ikhlas dan sesuai ajaran Rasulullah saw.

● Mengajarkan halal dan haram pada anak berarti mengajarkan sepertiga agama pada anak.

》PENGARUH MAKANAN DAN MINUMAN HARAM BAGI INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT MUSLIM

1] Bersih atau Kotornya Hati

● "Jika yang syubhat dapat merusak hati apalagi yang haram". (Hadits Nu'man bin Basyir).

● “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging tersebut buruk, buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati".
(Hadits Riwayat Muslim).

Jika hati banyak mengkonsumsi makanan yang haram, maka ia akan menjadi buruk sehingga anggota tubuhnya pun menjadi buruk.

2] Baik atau Buruknya Perilaku

● QS. Al-Baqarah: 168-169

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu".

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".

● QS. Thaha: 121

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

"Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia".

● Dari ayat-ayat di atas kita dapat lihat bagaimana setan selalu berusaha memperdaya manusia. Bahkan akhirnya berhasil mempengaruhi istri Nabi Adam untuk memakan buah yang Allah larang untuk Nabi Adam dan Istrinya. Akibatnya Allah menanggalkan pakaian mereka sehingga tampak auratnya. Kenapa hukumannya dengan ditampakkan aurat? Karena keduanya memakan makanan yang diharamkan Allah swt.

Ternyata dari kisah tersebut menunjukkan adanya hubungan antara makanan dengan menutup aurat. Jadi, seandainya kita atau anak kita susah untuk menutup aurat, coba evaluasi apakah ada sesuatu yang haram yang kita makan?.
Semakin banyak makanan haram yang masuk, semakin mudah tergoda oleh setan.

Makanan yang haram tidak hanya berpengaruh pada hati tapi juga kepada perilaku. Jika kita, anak-anak kita melanggar syariat, coba evaluasi kembali makanan yang masuk ke tubuh kita.

3] Semangat Berbuat Baik atau Buruk

● QS. Al-Mu'minun: 51

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Ibnu Katsir menyatakan: "Allah Ta'ala pada ayat ini memerintahkan para rasul'alaihimussalaam agar makan makanan halal, dan beramal shaleh. Disandingkannya dua perintah ini mengisyaratkan bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Dan sungguh mereka benar-benar telah mentaati kedua perintah ini." (Tafsir Ibnu Katsir 5/477, baca juga: Adwaa'ul Bayan 5/339).

Sebaliknya, makanan yang haram bisa menjadi penopang amalan-amalan yang tidak baik, semangat ibadah pun menjadi lemah.

4] Terkabul atau Tidak Terkabulnya Doa

Tidak ada daya kecuali dari Allah swt, maka kita harus memohon kepada Allah swt satu-satunya tempat bergantung. Doa adalah cara kita memohon kepada Allah swt. Orang yang memakan makanan yang haram akan menjadi sebab tidak terkabulnya doa.

● Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul. Allah ta’ala berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih” (QS. Al-Mu’minuun : 51). Dan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah : 172). Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb..ya Rabb…”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015).

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran, meski faktor-faktor diijabahnya doa terpenuhi seperti: dalam keadaan safar (waktu mustajab), menengadahkan tangan, dan gilhah (merengek, memelas). Namun, ternyata doanya tetap tidak dikabulkan karena hal-hal haram yang ada pada dirinya.

● Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa'ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah". Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa'ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya."
(HR At-Thabrani).

5] Sehat atau Sakit Fisik

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa makanan yang haram berpengaruh buruk pada tubuh kita.

6] Kuat atau Lemahnya Generasi

● Imam Bukhari

Adalah seorang ulama yang dijuluki amirul mukminin para hadits, kedudukannya sangat tinggi. Beliau telah hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih (bukan hanya isinya, tapi juga sanadnya, perawi sampai kepada Nabi beliau hafal). Ketika ayahnya ditanyakan perihal bagaimana beliau bisa demikian, ayahnya menjelaskan bahwa ia tidak pernah memasukkan makanan yang haram kepada mulut anaknya, Imam Bukhari.

● Imam Juani

Adalah salah seorang ulama di Tanah Haram yang dikenal sebagai Imam Muharramain. Ketika di majelis, beliau suka tiba-tiba pingsan. Ketika ditanya kenapa, ia menceritakan tentang masa lalunya. Ketika kecil ia pernah disusui oleh tetangganya. Ayahnya yang mengetahui hal itu lalu memaksa agar asi itu dikeluarkan, sampai ia pingsan. Kejadian pingsan itu pun masih berulang hingga ia dewasa. Ayahnya saat itu mengatakan "jika ia minum dari rumahku, saya tahu dari mana asalnya, sedangkan jika dari orang lain saya tidak tahu apakah berasal dari harta yang halal atau haram".

7] Surga atau Neraka

Ka'ab bin 'Ajrah berkata, Rasulullah saw bersabda: "Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka lebih berhak baginya".
(Hadits Riwayat At Tirmidzi).

8] Baik atau Rusaknya Masyarakat

Kita bisa bayangkan, jika individu-individu dalam masyarakat (termasuk anak-anak) mengkonsumsi yang haram, maka akan menjadi masyarakat yang hatinya rusak, buruk perilakunya, tidak bersemangat dalan kebaikan, tidak diijabah doanya, fisiknya lemah, generasi mudanya lemah, dan bahkan calon penghuni neraka.

》BAGAIMANA CARA NABI MENGAJARKAN HALAL DAN HARAM PADA ANAK?

● Anak-anak bukanlah lembaran kertas kosong!!

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذَلِكَ؟ قَالَ “اَللهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ.

Hadist riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan".

¤ Jagalah fitrah anak!
Salah satunya dengan memberikan yang halal. Allah swt menciptakan manusia itu sejatinya hanya untuk memakan makanan yang halal.

Salah satu peristiwa dalam Isra Mi'raj yaitu seperti dijelaskan berikut ini:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku pun bertemu Ibrahim -shalawatullah ‘alaih- dan aku adalah keturunan Ibrahim yang paling mirip dengannya. Aku pun datang dengan membawa dua wadah. Salah satunya berisi susu dan yang lainnya khomr (arak). Lantas ada yang mengatakan padaku, “Ambillah mana yang engkau suka.” Aku pun memilih susu, lalu aku meminumnya.” Ia pun berkata, “Engkau benar-benar berada dalam fithrah. Seandainya yang kau ambil adalah khomr, tentu umatmu pun akan ikut sesat.” (HR. Muslim no. 168).

● Anak pada masa pembebanan akan memasuki tahapan taklif (pembebanan saat baligh, mulai dihitung amal perbuatannya). Sebelum taklif, anak berada pada usia tamyiz yaitu sudah bisa membedakan baik dan buruk, bisa diajak berdialog dengan bernalar, menimbang-nimbang dan memilih di antara dua hal. Fase sebelum tamyiz yaitu golden age, dimana anak benar-benar melihat keteladanan karena daya rekam dan daya tirunya yang amat tinggi.

Ketika belum taklif, maka orang tua lah yang memiliki beban tanggung jawab terhadap anaknya. Misalnya orang tua memberikan yang haram kepada anak, maka orang tua yang berdosa.

Orang tua harus menjaga agar pada masa taklif anak jadi mandiri untuk tidak melangkahkan kaki kepada yang haram. Saat taklif pun orang tua harus terus menjaga anak agar menginjakkan kaki pada yang halal.

Ajarkan pada anak bahwa yang halal itu baik dan berpahala sedangkan yang haram itu buruk dan mendatangkan dosa.

¤ Catatan Untuk Orang tua:

1) Harus paham ilmu tentang halal dan haram, pelajari lagi fikihnya dan belajar dari Ustadz.

Contohnya suike itu haram karena termasuk binatang yang tidak boleh dibunuh.

2) Hendaknya menafkahi anak (makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dll) dari yang halal.

3) Hendaklah memberikan keteladanan.

● Tanamkan keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya di hati mereka.

¤ Ayat-ayat yang turun di awal adalah mengenai keimanan. Setelah keyakinan pada keimanan dan hari kiamat kokoh, barulah turun ayat-ayat mengenai halal dan haram.
Inspirasinya adalah bagaimana kita menjaga dan menumbuhkan keimanan anak. Ketika keyakinannya sudah kuat, muncul pula keyakinan bahwa apa yang diperintahkan Allah swt pasti baik.

¤ Nyalakan keimanan anak, kenalkan kasih sayang Allah swt dan Rasul-Nya.


(إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِى الأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ). متفق عليه

"Sesungguhnya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan seratus kasih sayang (kerahmatan). Masing-masing kerahmatan sebesar langit dan bumi. Selanjutnya Ia menurunkan satu kasih sayang (kerahmatan) saja ke muka bumi. Dengan satu kasih sayang inilah seorang ibu menyayangi putranya, binatang buas dan burung-burung menyayangi sesama mereka. Dan bila kiamat telah tiba, maka Allah akan mengenapkan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang tersisa di sisi-Nya dengan satu kerahmatan yang telah Ia turunkan ke bumi". (Muttafaqun 'alaih).

¤ Tanamkan di hati anak bahwa setiap perintah Allah dan Rasul-Nya apabila dikerjakan pasti terdapat banyak kebaikan padanya. Juga sebaliknya, setiap larangan Allah dan Rasul-Nya apabila dilanggar pasti terdapat banyak keburukan padanya.

● Memupuk sifat Muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah).

¤ Mengenalkan Allah. Contoh: Allah Maha Mendengar dan Mengetahui (QS. Thaha: 52, Al An'am: 59).

¤ Mengajarkan bahwa semua anggota badan akan bersaksi di hadapan Allah pada hari kiamat (QS. Yasin: 65).

¤ Memahamkan bahwa bumi akan bersaksi atas apa yang dilakukan (QS. Al Jalzalah: 4).

¤ Membacakan kisah muraqabatullah orang-orang shalih.

● Cegah mereka dari apa yang diharamkan dan jelaskan sebab pelarangannya agar mereka tumbuh di atas ilmu.

¤ Abu Hurairah bercerita,“Dulu kami di hadapan Rasulullah saw ketika beliau sedang membagi kurma sedekah, sedangkan Hasan bin ‘Ali di pangkuan beliau. Tatkala telah selesai, Nabi saw menggendongnya di atas pundaknya, lalu mengalirlah liurnya mengenai Nabi saw, maka Nabi saw mengangkat kepala beliau, ternyata terdapat sebutir kurma dalam mulutnya, maka Nabi saw memasukkan tangan beliau lalu mencabutnya dari mulutnya kemudian bersabda, “Tidak tahukah engkau bahwa harta sedekah itu tidak halal bagi keluarga Muhammad?”. (HR Ahmad).

● Ajarkan mereka untuk hormati hak orang lain. Sehingga di kemudian hari mereka tidak akan melanggar hak-hak orang lain.

¤ "Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata; Disodorkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam segelas minuman, lalu Beliau meminumnya sementara disamping kanan Beliau ada seorang anak kecil yang paling muda diantara kaum yang hadir sedangkan para orang-orang tua ada di sebelah kiri Beliau. Beliau berkata: "Wahai anak kecil, apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi minuman ini kepada para orang tua?" Anak kecil itu berkata: "aku tidak akan mendahulukan seorangpun daripada diriku karena keutamaanku selain anda wahai Rasulullah". Maka Beliau memberikan kepadanya."
(Hadits Riwayat Bukhari).


● Berikanlah mereka teguran jika melanggar

¤ Dari Abdullah bin Busr Al Mazini radhiallahu anhu berkata: "Ibuku mengutusku kepada Rasulullah untuk membawa setangkai anggur, tapi aku makan sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku datang, beliau menjewer telingaku dan berkata: "Hai pelanggar amanah".

Hadits di atas dilemahkan para ulama namun karena tidak bertentangan dengan syariat, banyak pendidik islam menggunakan hadits ini untuk masalah teguran.
( Baca: Kisah Setangkai Anggur untuk Pendidikan
http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/guru-parenting-nabawiyah/241-kisah-setangkai-anggur-untuk-pendidikan ).

¤ Kenalkan anak dengan konsekuensi. Pahamkan bahwa jika melanggar syariat akan ada hukuman. Hingga akhirnya nanti mereka pun paham bahwa hukuman tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat bagi pelanggar syariat.

● Motivasi mereka untuk selalu berdoa.


اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

(Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal, terhindar dari yang haram dan beri aku kekayaan dengan karunia-Mu terhindar dari karunia selain-Mu)”.
(HR. Ahmad dan Tarmizi).

----------------------------------

🔹Menjelaskan pada anak kisah Nabi Adam yang dibisiki Hawa dan Hawa yang dibisiki setan.

¤ Ajarkan bagaimana pengaruh setan, kisahkan tentang Nabi Adam bahwa memang sudah takdir Allah tapi iti disebabkan karena menuruti bisikan setan. Jadi, harus hati-hati dengan bisikan setan, rajin-rajin berdoa, dan baca surat An-Nas.

¤ Kisah Nabi Adam jadi kesempatan untuk menjelaskan bahwa rumah asal kita itu di surga, sebagaimana Nabi Adam dulu tinggal di surga. Jadi, kalau mau kembali ke surga, jalankan perintah Allah dan jangan turuti perkataan setan.

¤ Allah swt mengingatkan kita dengan beberapa kali menyebut kisah Nabi Adam dalam Al Qur'an.

🔹 Menuntut ilmu itu wajib bagi individu, ada yang fardhu kifayah (harus dipelajari untuk mengangkat umat, contohnya bidan, dokter kandungan wanita) dan fardhu 'ain, yaitu wajib bagi individu muslim (misalnya ilmu tentang shalat, perdagangan agar tidak terjebak dalam yang haram).

🔹 Fatwa MUI tidak boleh menabung di bank konvensional jika ada bank syariah di sekitar kita.

🔹Tentang Syubhat

Banyak orang beranggapan susah mencari yang halal. Padahal yang halal itu lebih banyak daripada yang haram. Allah sudah menjamin rezeki semua makhluk-Nya. Di antara yang halal dan haram ada perkara syubhat yang harus kita tinggalkan. Jauhilah syubhat karena bisa menjerumuskan kita kepada yang haram.

🔹Bolehkah memelihara anjing?

¤ Seorang muslim tidak boleh memelihara anjing. Selain najis, pahala akan berkurang setiap hari sebesar 1 qirad (1 gunung uhud), dan malaikat tidak bisa masuk ke rumahnya.

¤ ‘Aisyah menyatakan bahawa Jibril (‘alaihis salam) berjanji dengan Rasulullah SAW untuk menemuinya pada masa yang telah ditetapkan, namun pada masa yang tersebut, dia (Jibril) tidak datang. Kemudiannya Nabi mencampakkan tongkat di tangannya dan berkata, “Tidak pernah Allah dan utusannya (Malaikat Jibril) memungkiri janji”. Kemudian Nabi terlihat dan menemui anak anjing di bawah katil dan berkata, “Aisyah, bila anjing ini masuk ke sini?” Dan beliau (‘Aisyah) menjawab, “Demi Allah, saya tidak tahu.” Kemudiannya Nabi mengarahkan dan anjing itu pun dikeluarkan. Tidak lama selepas itu, Jibril pun datang dan Rasulullah berkata kepadanya, “Engkau berjanji kepada saya dan saya menantikan engkau, tetapi engkau tidak datang-datang. Jibril pun menyatakan, “Di dalam rumah-mu ada anjing, di mana ia menghalang (saya untuk masuk), untuk kami (malaikat) tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar”.” (Hadist Riwayat Muslim).

¤ Yang boleh adalah jika anjing itu sebagai pemburu, penjaga ternak, penjaga kebun, dan untuk keamanan rumah jika rumah terpencil.

🔹Cara mengajari anak seperti apa?

Selama tidak melanggar syariat, kita boleh menggunakan cara kita. Namun teruslah mencari dan menggali ilmu mengenai bagaimana Rasulullah saw dan para sahabat mengajari anak-anaknya tentang halal dan haram karena cara mereka pasti baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar