Jumat, 08 Mei 2015

Menanamkan Tauhid dan Surga

❤ RESUME AKADEMI KELUARGA❤


PARENTING NABAWIYAH

Resume Akademi Keluarga Kelas Tanah Baru

(Info Akademi Keluarga Tanah Baru: 083 88 222 567)

Hari/ tgl : Rabu, 25 Maret 2015
Tema : Menanamkan Tauhid dan Surga
Narasumber : Ust. Rofiq Hidayat
Resume by : Annisa Elmiani

Manusia dalam menjalani kehidupan ini harus berbekal 3 hal:

1] Pahami Alur Kehidupan

Sesungguhnya orang yang tidak memahami alur kehidupannya, apa tujuan hidupnya, dialah yang sesungguhnya bermasalah, yaitu yang cenderung memilih jalan yang belok daripada jalan yang lurus.
Awalnya Allah swt memberi tugas di surga kepada Nabi Adam agar anak cucunya bisa merasakan surga.
Ternyata proses kehidupan di alam sebelumnya akan menentukan bagaimana kehidupan kita selanjutnya.

2] Tujuan/ Visi Hidup: IBADAH

》Perhatikan QS. Az-Zariyat: 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

●》 Ayat tersebut menutup semua kemungkinan adanya visi hidup selain ibadah.

● Sesuatu yang jelek bisa saja dibungkus kebaikan, hal itulah yang membuat Nabi Adam tertipu.

● Seseorang yang memahami ketauhidan akan paham bahwa ibadah tidak sebatas rukun islam. Bahkan senyum, mengelus kepala anak atau suami pun adalah ibadah.

● Jadi, apapun yang kita lakukan untuk mengharap ridha Allah adalah ibadah.

■》 KATA KUNCI

1》TUJUAN HIDUP untuk IBADAH

2》TUGAS manusia di muka bumi sebagai KHALIFAH
--> Manusia sebagai pemimpin dan estafet kepemimpinannya.

● QS. Al-Baqarah: 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

● Manusia bisa taat seperti malaikat, manusia juga bisa salah seperti setan. Tapi manusia bisa bertobat.

3》TUGAS berikutnya adalah mengetahui JALAN TAKDIR KEHIDUPAN.

QS. Asy-Syams: 7-10

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

● Ayat 7 dan 8
--> Hak Allah menciptakan manusia dengan dua kemungkinan: Taat atau Fasik
● Ayat 9 dan 10
--> Wilayah atau pilihan manusia untuk mensucikan diri atau mengotori diri.

■》Kehidupan manusia itu dimulai dengan tauhid (QS. Al-A'raf: 172) dan harus pula diakhiri dengan tauhid.

● Tugasnya adalah bagaimana memelihara tauhid itu supaya tetap suci dan bersih. Keyakinan bahwa tujuan hidup ibadah, tugas sebagai khalifah, dan mati dalam keadaan tauhid.

● Sebanyak apapun dosanya, selama tidak syirik dan ada tauhid di dalam hatinya, ia akan masuk surga walaupun harus dihukum dulu.

● Kita harus berupaya agar tauhid tidak hanya di dalam hati, tapi tercermin dalam perkataan dan perbuatan sehingga tertularkan pada anak-anak dan orang sekitar. Shalih secara pribadi dan sosial.

》Dengan memahami tauhid, kita paham bahwa:

● Jalan takdir kehidupan itu sudah selesai ditulis dan pena sudah diangkat (50.000 tahun sebelum manusia diciptakan). Artinya tidak akan berubah.

● Kita ditakdirkan akan masuk surga atau neraka itu hanya Allah yang tahu ilmunya, karena itu adalah sesuatu yang ghaib.

● Oleh karena masih ghaib, maka kita bisa memilih, mudah-mudahan apa yang kita lakukan berakhir baik.

● Contoh:
Ada sebuah botol berisi air minum dan kue. Apa yang kita lakukan terhadap air dalam botol dan kue tersebut sudah dituliskan. Kita pun tidak terpaksa ketika melakukannya.

》 Allah swt dengan hikmahNya memberikan kebebasan penuh kepada manusia. Apakah akan memilih jalan kebenaran atau jalan sesat. Namun, apapun yang dipilih tidak pernah meleset dari takdir Allah.

》 Jika kita membiasakan diri melakukan ketaatan, maka hal tersebut akan menjadi jalan ke surga. Hukum umumnya: sebab-akibat.

● Konsep hidup seorang muslim sudah ada dan tidak perlu dirumuskan lagi.

● Konsep tentang masa depan, yang ghaib dan akhirat sudah ada dan tidak perlu dirumuskan lagi.
--> Allah swt berkuasa menjadikan manusia dari ketiadaan

● Jalan meraih kebahagiaan bagi seorang muslim sudah ada dan tidak perlu dirumuskan lagi.
--> Hidup itu bukan untuk main-main tapi untuk ibadah.
--> Hidup yang sesungguhnya bukan sekarang tapi nanti.
--> Jalan kebahagiaan: sadar siapa Tuhannya, dirinya, di sekelilingnya ada malaikat-malaikat, musuh-musuh yang tak bisa dilihat. Semua didapat ketika belajar ilmu tauhid.

● Jalan menuju kehidupan abadi yang diridhai sudah ada dan tidak perlu dirumuskan lagi.
--> Hidup itu bukannya banyak warisan yang dibagi, yang ikut hanya amalnya yang akan menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan abadi.

♥ Menanamkan Tauhid pada Anak

● Seorang tokoh bernama J. J Rousseau mencetuskan teori bahwa seseorang sebaiknya tidak diperkenalkan konsep Ketuhanan sebelum mencapai usia 18 tahun.

Latar belakang tokoh tersebut mencetuskan teorinya yaitu:
○ Ia merupakan seorang kristiani.
○ Ia melihat di lingkungannya, orang-orang kristiani harus menghafal dogma-dogma kristen sejak kanak-kanak.
○ Menurutnya, anak-anak tidak seharusnya menghafalkan sesuatu yang tidak dipahaminya.
○ Jika sudah besar nanti, mereka justru akan meninggalkan dogma tersebut.

Hal itu karena konsep Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang abstrak. Anak belum memahami konsep abstrak. Padahal ABSTRAK TIDAK SAMA DENGAN GHAIB.

Seorang Descarte mengatakan "I think therefore I am". Pernyataan tersebut melahirkan konsep "harus ada yang konkret dulu baru sesuatu ada". Sehingga banyak ilmu-ilmu yang tidak punya jawaban atas hal-hal ghaib.
Contohnya, fenomena kesurupan secara Psikologi dan Kedokteran. Penjelasannya secara ilmiah. Ilmu-ilmu tersebut mengilmiahkan sesuatu yang manusia tidak punya akses di dalamnya.

》 TAUHID sebagai FONDASI

Di dalam islam, jika diibaratkan pohon, ketauhidan adalah sesuatu yang tidak tampak karena tertanam di dalam tanah. Tauhid bagaikan akar yang jika tidak menghujam dengan kuat, maka pohonnya akan rentan.

FONDASI: TAUHID, yang di atasnya dibangun ibadah-ibadah yang akan membentuk akhlak dan karakter.

● Jika ibadah dibangun di atas tauhid yang rapuh, jangan-jangan karakter atau akhlak baik yang tampak itu hanya kamuflase.

Maka itu, penanaman tauhid harus sejak dini. Pembiasaan ibadah juga harus sejak dini.

● Jika anak kita dididik dengan pembiasaan ibadah langsung tanpa penanaman tauhid, jangan-jangan ia shalat hanya karena takut hukuman. Padahal Allah hanya menerima ibadah yang dilakukan ikhlas karenaNya.
Jangan sampai muncul generasi-generasi yang kuat kemunafikannya daripada ketauhidannya. Perkataan dan ucapannya tidak sesuai dengan isi hati. Padahal tauhid itu adanya di hati.

》 DOMAIN TAUHID: NIAT

Urusan keimanan bukan sesuatu yang sepele. Urusan hati jauh lebih penting sebelum memperbanyak urusan-urusan yang sifatnya zahir.
● Contoh: shalat karena riya' --> shalatnya sah, tapi tidak diterima karena domainnya harus tauhid.

Seorang muslim harus sinergi antara hati dan perbuatan.

❤ AZAS PENDIDKAN ISLAM

[QS. Al-Baqarah: 1-5]

 الم
"Alif laam miim."

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

"Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka."

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

"dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat."

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung."

● 》Satu-satunya jalan menuju keTAQWAan adalah AL-QUR'AN

● 》Agar mencapai muttaqin:

● Ada sesuatu yang sifatnya membangun jasmani dan rohani.
● Shalih secara pribadi (hubungannya dengan Allah swt)
● Shalih secara sosial (hubungannya dengan sesama manusia, misalnya berinfak)
● Orientasinya akhirat.
Siapa yang kurikulumnya dalam rangka menjadi muttaqin, pedomannya Al-Qur'an, tata caranya menggabungkan pembinaan jasmani dan rohani, kemudian membangun cara berpikirnya bahwa petunjuk Allah selalu ada di setiap masa dan zaman, maka ia telah memilih jalan yang benar.

●》 Kehidupan yang diridhai Allah swt khusus bagi orang-orang yang muttaqin.

♥ URUTAN MENANAMKAN TAUHID

》 Belajar iman, sebelum Qur'an. Artinya, belajar Al-Qur'an itu harus dilandasi iman.
》 Ambil nilai-nilai dalam Al-Qur'an, lalu ajarkan.

■》Urutan dalam menanamkan tauhid yaitu:

1| Al-Hifdz (dihafal)

¤ Usia 1-5 tahun adalah usia copy paste, semai dengan semua nilai kebaikan. Biarkan anak menelan mentah-mentah (menanam benih-benih baik). Analogikan seperti ketika memberi anak obat. Tidak menekankan anak harus mengerti manfaatnya, yang penting obatnya masuk dulu. Hal tersebut karena jika dipaksakan untuk menalar, anak-anak belum saatnya.
Jadi, tanamkan saja!
Misalnya,
siapa Tuhanmu? Allah,
Apa agamamu? Islam,
Siapa Nabimu? Muhammad saw,
dan lain-lain.

¤ Ketika saatnya bertemu Al-Qur'an dan mempelajarinya itu adalah seumpama menyiram benih-benih yang telah ditanam.

¤ Jika proses Al-Hifdz ini tidak dilalui, orangtua akan kesulitan nantinya. Semakin anak besar, ia akan semakin pandai berargumen, banyak bertanya dan mendebat orang tua, sehingga orang tua harus semakin luas wawasannya dan banyak ilmunya.

2| Al Fahm (dipahami)

¤ Ketika anak mulai bisa berkomunikasi, dengan dibacakan buku-buku cerita, mulailah timbul pemahaman.

¤ Akan muncul buah keimanan. Contoh: anak tahu bahwa berbohong itu dosa (padahal usia anak-anak belum ada dosa)

¤ Mereka belum taklif, tapi iman sudah kokoh.

Al Hifdz dan Al Fahm itu harus diikat dengan keimanan sehingga tertanamlah keyakinan, akan muncul:
● Al I'tiqod (ikatan),
● Al Iqon (keyakinan),
● At Tashdiq (pembenaran).

■》Penjelasan Al Ghazali:

● Mulai dengan Talqin.
--> Contoh: dialog antara orang tua dan anak yg mengajarkan anak untuk meminta sesuatu sama Allah, minta kesembuhan pada Allah.
Dialog tersebut akan diserap dan masuk ke dalam hati anak.

● Penguatan Talqin dengan pemahaman aktivitas ibadah.
--> Kenalkan sesuai taraf usianya.

● Jauhi pengajaran tauhid versi filsafat.
--> Tidak perlu dengan penjelasan bertele-tele yang membuat otak berpikir banyak.
--> Bicara tentang yang ghaib sesuai dengan yang ada di Al-Qur'an.

❤ AGAR ANAK BERINTERAKSI BAIK DENGAN ALLAH

1| Menghidupkan Fitrah

》 Fitrah: Bekal yang Allah swt berikan pada setiap ruh.

[QS. Al-A'raf: 172]

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

》 Islam: Agama Fitrah

[QS. Ar. Rum: 30]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

● Islam: berserah diri pada Allah, mengarah pada kesucian, keberkahan, kebaikan.

》 Ternyata fitrah bisa dibelokkan.

" Tidak ada anak dilahirkan kecuali di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi. Sebagaimana binatang yang sehat melahirkan anaknya juga sehat, bukankah kalian ketahui bahwa cacat terjadi setelah dilahirkan?" (HR. Bukhari Muslim).

● Orang tua punya pengaruh yang sangat signifikan untuk menjaga fitrah anak. Apakah merusaknya, mencampurinya, dan sebagainya. Orang tua memiliki banyak peluang untuk mewarnai kehidupan anak sebelum ia bisa mewarnai kehidupannya sendiri.

2| Mengenalkan Kenikmatan Allah

》 Tadabbur alam: melihat, memperhatikan, menganalisa, menyimpulkan --> Bersyukur.

》 Ajak mengingat nikmat kemudian sibuk untuk mensyukurinya.

》Alam terbentang jadikan pelajaran.

● Contohnya ketika kita menceritakan hujan, jangan dulu jelaskan sebab akibat tapi kenalkan dulu konsep keimanannya. Bahwa Allah yang menurunkan hujan. Setelah itu baru jelaskan siklusnya. Ikat segala sesuatunya dengan konsep keimanan.

3| Muroqobatullah

[QS. Luqman: 16]

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

"(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

》Muroqobatullah:

-> Selalu merasa diawasi Allah swt.
-> Takut bermaksiat meski sendirian.
-> Yakin bahwa semua ucapan dan perbuatan pasti tercatat. Baik yang kecil ataupun besar, yang samar ataupun yang jelas, yang disengaja ataupun tidak.
-> Takut akan datangnya hari ketika mulut terkunci dan semua anggota tubuh berbicara.

》Selalu merasa diawasi Allah harus ditanamkan sejak dini. Jangan sampai karakter kebaikan anak itu karena takut hukuman dari manusia.

》 Muroqobatullah adalah sifat yang sangat berharga, yang jika dimiliki anak maka ketika ia baligh orang tua bisa lega karena Allah swt selalu bersamanya.

》Jika muroqobatullah melekat pada diri anak, maka ia akan menjadi pribadi yang shalih dalam kesendiriannya maupun ketika bersama orang lain.

》Kisah Umar Bin Khattab dan penggembala kambing yang jujur (selalu merasa diawasi Allah swt).

● Targhib; menceritakan balasan pahala, indahnya surga dan kenikmatan di dalamnya sehingga memacu anak agar semangat beribadah.
● Tarhib; menceritakan tentang balasan-balasan jika berbuat dosa, tentang siksa neraka sehingga memberikan perasaan was-was dan cemas jika anak melakukan kesalahan.

》Saat santai, ceritakan tentang surga. Biarkan anak-anak berimajinasi sesuai usianya. Sehingga menjadikan mereka optimis dalam melakukan suatu kebaikan yang mereka senangi.

》Kenalkan juga tentang neraka ketika mereka mulai bermalas-malasan. Bisa juga ketika melihat fenomena seorang yang melakukan perbuatan jahat, katakan bahwa perbuatan buruk akan berakibat buruk.

●》Pendidikan tentang TAUHID adalah PRIORITAS!
●》Landasi dengan akidah
--> Agar keshalihan anak disertai dengan hati yang tulus dan ikhlas karena Allah swt. Menjelaskan fenomena-fenomena alam di sekitar kita harus diikat dengan keimanan.

●》Jika itu sudah ditanam dan sudah kokoh, mereka juga akan melihat sebab akibat/ penjelasan ilmiahnya. Sehingga ketika ditanya tentang hujan misalnya, jawaban pertama mereka adalah bahwa hujan itu datangnya dari Allah swt.

🔹Al Hifdz itu menghafal, jadi untuk anak sebaiknya mulai tahfidz usia kapan?

◆ Maksudnya Al Hifdz itu kenalkan semua nilai-nilai keimanan supaya anak hafal siapa Tuhannya, Nabinya, Kitabnya, Malaikat-malaikat, dan lain-lain.
Ikat dengan keimanan baru ceritakan tentang hal tersebut sampai menjadi sebuah keyakinan.

🔹Bagaimana menjawab pertanyaan di mana Allah?

◆ Allah itu Esa, Allah ada di tempatnya tapi mengetahui semuanya.
◆ Jawaban Allah itu di langit dibenarkan oleh Rasulullaah saw (untuk menegaskan ketinggian Allah swt)
◆ Allah itu dekat, Allah mengabulkan doa kita.
◆ Untuk menunjukkan keagungan:
Allah itu di 'Arsy, alam semesta dibandingkan dengan kursi Allah, bagaikan 1 mata rantai yang dilemparkan ke padang pasir.
Kursi Allah dibandingkan dengan 'ArsyNya, bagaikan 1 mata rantai yang dilemparkan ke padang pasir.
Jadi betapa besarnya Allah, betapa Maha Agung.

🔹Bagaimana jika penanaman tauhid belum selesai tapi sudah harus solat?

◆ Harus ada usaha: reward dan punishment, berkesinambungan sambil meminta pertolongan Allah.

◆ Jika anak 'bandel',
 》Introspeksi! Adakah sesuatu yang syubhat yang kita masukkan ke tubuh mereka?.
 》Introspeksi! Apakah kita pernah meminta keterlibatan Allah dalam mendidik anak? Seringkali kita mengedepankan ego.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar