Jumat, 13 Juni 2014
Menyabari dan Menyadari (Ketika Kehilangan Buah Hati)
Ketika anakku diambil kembali oleh Alloh swt (26/2/14), orang-orang memandangku sebagai seorang yg tabah.
Mereka pasti tahu bahwa ujian ini berat, meski yg tampak adalah diri yang kuat.
Mereka juga pasti tahu bahwa hati ini menangis perih, tapi ku hanya berusaha tegarkan diri.
Apa yang kulakukan adalah menyadari bahwa semua hanyalah titipan, dan kita hanya mengaku-ngaku saja.
Alloh lah pemilik segalanya, kita dititipi sesuai kemampuan.
Dia lah Yang Maha Berkuasa, milikNya bisa diambil kapan saja. Semuanya sesuai dengan ukuranNya yg Maha Sempurna.
Aku juga sadar akan tahapan2 "grief" (duka) yang ku lalui, di antaranya perasaan bersalah, tidak percaya, tidak nafsu makan, menyalahkan orang lain, berandai-andai, dsb...
Hal yang terucap dalam hati saat anakku tak bernyawa lagi adalah "Ya Alloh, dia milikMu, kuserahkan kembali padaMu". Terlintas dalam pikiranku bahwa Alloh amat sayang pada anakku, hambaNya, Dia pun tentu sayang padaku, suamiku, anak pertamaku, dan tentu keluargaku, bahkan orang-orang yg mengenalku. Hal ini memberikan banyak pelajaran berharga untuk semuanya.
Lalu, yg teringat adalah bahwa Rasulullaah
Saw pun pernah mengalami hal yg sama, kehilangan putra tercintanya.
Sungguh, beliau teladanku. Beliau menangisi kepergian anaknya, tapi tak terucap sepatah katapun hal yg tidak diridhai Alloh swt.
Aku hanya mampu berdzikir, dan berkata pada jasad anakku "Nak, doa Bunda terkabul ya, sekarang panasmu sudah turun, bahkan dingin badanmu, beratmu pun bertambah. Sekarang Shidqi ga sakit lagi ya... Anak shalih, masuk surga ya nak, tunggu bunda ya, sambut Bunda...sayaang"
Alhamdulillaah, atas segala kekuatan ini...
Dengan ilmu yg Kau titipkan, nikmat iman yg Kau berikan, suami, keluarga dan kerabat yg shalih2ah...
Menyadari proses yg akan kulalui, aku berusaha untuk mengatasinya dgn banyak berdzikir, berusaha untuk tidak sendirian (2 bulan lamanya "istirahat" di bandung sebelum kembali lg ke jakarta ke rumah yg penuh kenangan dengan bayiku), banyak membaca kajian islam tentang kehilangan anak, lalu lebih banyak lagi bersyukur dan bersabar.
Harus bisa memanfaatkan proses ini agar meraih ridho Alloh swt.
Yakin, bahwa hikmah itu lebih besar dari ujian yang dihadapi.
Tak mungkin Alloh swt memberikan kesusahan dan kesedihan terus menerus...
Susah dan sedih akan berganti dengan kemudahan-kemudahan dan kebahagiaan.
Semua ini menjadi bahan bakar untuk memacu diri semakin dekat pada Ilahi...
"Yes, I've got to be good, so I can see my baby when I live this world"
Alhamdulillaah, Abang Dzikri selalu setia menemani Bunda, menjadi pelipur lara, anak shalih yg butuh perhatian lebih. So, harus berusaha untuk fokus pada apa yg ada, daripada berfokus pada apa yg tiada dan yg belum ada... :)
Untuk semua yg mengalami duka yg mendalam...
Berbahagialah atas kasih sayangNya, setiap ujian pasti sesuai dgn kapasitas hambaNya. Tersenyumlah dan tetap berdiri tegar menghadapi masa depan yg indah...
Semoga tetap kuat...
InsyaaAlloh
*aku yang sedang belajar untuk kuat*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar