Minggu, 08 Januari 2012

Harga Diri Seorang Anak

Suatu hari di gang sempit..
Terdengar erangan seorang bocah yang kesakitan, bukan karena terjatuh atau terluka dan berdarah. Semakin mendekat ke sana, semakin jelas terdengar bahwa teriakan itu disertai bentakan seseorang yang tengah memarahi sang bocah. Ah… rupanya ia dimarahi bahkan dipukuli menggunakan gagang sapu yang terbuat dari bambu. Sebabnya hanya karena ia menghilangkan uang 5000 perak. Neneknya berulang kali membentaknya menanyakan perihal uang tersebut yang semestinya digunakan untuk membeli jajanan seharga 1000 perak. Dimakinya sang anak yang dianggap tak pandai. Ya Rabb….ia belum genap 5 tahun.
Hari itu, dan entah di hari-hari yang lain juga, ia telah merasakan bukan hanya sakitnya pukulan, pedihnya bentakan, tapi juga jatuhnya harga diri. Bagaimana tidak, orang-orang di gang sempit itu tentu saja menyaksikan hal tersebut tanpa berbuat apa pun. Begitu pun aku yang hanya bisa mengasihani sang bocah dalam hati dan sang nenek yang tak pandai menahan emosi.

Ya… seringkali perilaku anak membuat kita jengah, membuat kesabaran ini senantiasa diuji. Sesungguhnya ketika kita diberikan amanah untuk mendidik seorang anak, ketika itu pula kitalah yang belajar untuk banyak bersabar, mengontrol emosi dan berusaha untuk menjadi sosok teladan bagi sang anak. Setiap harinya sosok orang tua yang berinteraksi penuh dengan anak akan menjadi panutan baginya dalam berperilaku. Apabila dalam menyikapi perilaku sang anak, orang tua banyak menggunakan kekerasan, maka kita bisa bayangkan apa yang tertanam dalam dirinya. Bisa jadi, sang anak pun akan melakukan kekerasan jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.
Terlebih lagi ketika ia beranjak dewasa, lalu memiliki anak. Maka, pola pengasuhan yang akan ia terapkan sedikit banyak akan terpengaruh oleh pola asuh yang diterimanya di masa kecil. Lalu, jika kekerasan yang didapat dan diterapkan, maka rantai kekerasan terhadap anak ini entah sampai kapan akan berakhir.
Bukan hanya fisiknya yang terluka, namun terlebih lagi jiwanya. Uang lima ribu rupiah masih bisa dicari penggantinya, tapi siapa yang sanggup mengobati luka jiwa seorang anak. Jadi teringat akan kisah Rasulullah saw yang pernah dikencingi seorang bayi hingga bajunya basah. Ibu sang anak serta merta merenggut sang anak dari gendongan Rasulullah. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw berkata “Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang dipukul akan tetap terluka.”
Ya Alloh, demikian cintanya Rasulullah terhadap anak-anak, sementara diri ini terkadang masih belum mampu bersikap lemah lembut terhadap anak titipan-Nya.
Hati ini miris melihat anak-anak yang diperlakukan kasar oleh orang tua maupun pengasuhnya. Bukan hanya secara fisik, namun juga secara verbal. Kata-kata dari mulut orang tua terhadap anaknya, tanpa disadari akan tertanam dalam pikirannya. Akan ditiru dan bahkan bisa menjadi konsep diri yang akan tertanam hingga ia dewasa kelak.
Ketika seorang anak melakukan kesalahan, akan lebih baik jika orang tua membawanya ke tempat yang pribadi. Berbicara hanya berdua dan tentu dengan bahasa yang baik dan dimengerti. Menjaga harga diri seorang anak amat penting, sehingga ia tidak merasa malu dan menghargai orang tuanya.
Hmm..betapa diri ini masih jauh dari kesempurnaan sebagai orang tua yang baik. Semoga Alloh senantiasa membimbing hamba-Nya yang masih belajar untuk amanah sebagai seorang ibu.

2 komentar:

  1. Teteh... welcome back!
    Ya Allah, semoga saya diberi kemampuan untuk mengemban amanah itu kelak...

    BalasHapus
  2. Aamiin....
    maaf baru buka lagi.. hehe...
    nuhun ya...

    BalasHapus