Suatu hari di gang sempit..
Terdengar erangan seorang bocah
yang kesakitan, bukan karena terjatuh atau terluka dan berdarah. Semakin
mendekat ke sana, semakin jelas terdengar bahwa teriakan itu disertai
bentakan seseorang yang tengah memarahi sang bocah. Ah… rupanya ia
dimarahi bahkan dipukuli menggunakan gagang sapu yang terbuat dari
bambu. Sebabnya hanya karena ia menghilangkan uang 5000 perak. Neneknya
berulang kali membentaknya menanyakan perihal uang tersebut yang
semestinya digunakan untuk membeli jajanan seharga 1000 perak. Dimakinya
sang anak yang dianggap tak pandai. Ya Rabb….ia belum genap 5 tahun.
Hari
itu, dan entah di hari-hari yang lain juga, ia telah merasakan bukan
hanya sakitnya pukulan, pedihnya bentakan, tapi juga jatuhnya harga
diri. Bagaimana tidak, orang-orang di gang sempit itu tentu saja
menyaksikan hal tersebut tanpa berbuat apa pun. Begitu pun aku yang
hanya bisa mengasihani sang bocah dalam hati dan sang nenek yang tak
pandai menahan emosi.
Ya… seringkali perilaku anak membuat
kita jengah, membuat kesabaran ini senantiasa diuji. Sesungguhnya
ketika kita diberikan amanah untuk mendidik seorang anak, ketika itu
pula kitalah yang belajar untuk banyak bersabar, mengontrol emosi dan
berusaha untuk menjadi sosok teladan bagi sang anak. Setiap harinya
sosok orang tua yang berinteraksi penuh dengan anak akan menjadi panutan
baginya dalam berperilaku. Apabila dalam menyikapi perilaku sang anak,
orang tua banyak menggunakan kekerasan, maka kita bisa bayangkan apa
yang tertanam dalam dirinya. Bisa jadi, sang anak pun akan melakukan
kekerasan jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.
Terlebih
lagi ketika ia beranjak dewasa, lalu memiliki anak. Maka, pola
pengasuhan yang akan ia terapkan sedikit banyak akan terpengaruh oleh
pola asuh yang diterimanya di masa kecil. Lalu, jika kekerasan yang
didapat dan diterapkan, maka rantai kekerasan terhadap anak ini entah
sampai kapan akan berakhir.
Bukan hanya fisiknya yang terluka,
namun terlebih lagi jiwanya. Uang lima ribu rupiah masih bisa dicari
penggantinya, tapi siapa yang sanggup mengobati luka jiwa seorang anak.
Jadi teringat akan kisah Rasulullah saw yang pernah dikencingi seorang
bayi hingga bajunya basah. Ibu sang anak serta merta merenggut sang anak
dari gendongan Rasulullah. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw berkata
“Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang
dipukul akan tetap terluka.”
Ya Alloh, demikian cintanya
Rasulullah terhadap anak-anak, sementara diri ini terkadang masih belum
mampu bersikap lemah lembut terhadap anak titipan-Nya.
Hati ini
miris melihat anak-anak yang diperlakukan kasar oleh orang tua maupun
pengasuhnya. Bukan hanya secara fisik, namun juga secara verbal.
Kata-kata dari mulut orang tua terhadap anaknya, tanpa disadari akan
tertanam dalam pikirannya. Akan ditiru dan bahkan bisa menjadi konsep
diri yang akan tertanam hingga ia dewasa kelak.
Ketika seorang
anak melakukan kesalahan, akan lebih baik jika orang tua membawanya ke
tempat yang pribadi. Berbicara hanya berdua dan tentu dengan bahasa yang
baik dan dimengerti. Menjaga harga diri seorang anak amat penting,
sehingga ia tidak merasa malu dan menghargai orang tuanya.
Hmm..betapa
diri ini masih jauh dari kesempurnaan sebagai orang tua yang baik.
Semoga Alloh senantiasa membimbing hamba-Nya yang masih belajar untuk
amanah sebagai seorang ibu.
Teteh... welcome back!
BalasHapusYa Allah, semoga saya diberi kemampuan untuk mengemban amanah itu kelak...
Aamiin....
BalasHapusmaaf baru buka lagi.. hehe...
nuhun ya...