Kamis, 29 Januari 2015

How to Start Home Education (selengkapnya)

1. Sumber            : Group Jabar2_HE BPA
2. Pemateri          : Ust. Harry Santosa
3. Waktu diskusi : Kamis, 22 Januari 2015
                                 Rabu,   28 Januari 2015
4. Disarikan oleh : R. Annisa Elmiani
5. Judul diskusi   : How to Start HE (Home Education)

Saya akan membahas tataran strategisnya, sebelum teknis memulainya.

Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita.

Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.

Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu.

Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik.

Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya.

Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya.

Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya.

Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2.

Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.

Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran" , "pensucian"

Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah).

Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge.

Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE 😊🙏. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya.

Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran.

Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in".

Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (مَا بِأَنْفُسِهِمْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous.

 Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2.

Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya... Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini.

● Tanya Jawab

1] (Bunda Halida)

Bagaimana cara untuk mensucikan jiwa?

[ Jawab ]

Bunda Halida yang baik,
Sesungguhnya begitu Allah swt memberi amanah anak kpd kita maka saat yg sama Allah telah menanamkan begitu banyak hikmah dan kesadaran. Berapa banyak manusia yg bangkit kesadaran fitrahnya krn dikaruniai anak.

Namun demikian, banyak juga orangtua yg tdk bangkit kesadaran fitrahnya ketika dikaruniai anak, bahkan cenderung tidak yakin dan tidak siap menjadi orangtua. Gamang akan kemampuannya mendidik atau perlu kemantapan hati dalam mendidik.
Nah, inilah mengapa diperlukan tazkiyatunnafs sebelum memulai mendidik?
Caranya tentu dengan banyak mendekat pd Allah, memperbanyak Shoum dan sholat malam agar diberikan "qoulan sadida", ucapan bermakna dan berbobot ketika mendidik anak2nya.

2 ] Bunda Eka

Apakah HE bisa dipadukan dgn tetap menyekolahkan anak2?

[ Jawab ]

Bunda Eka yang baik,
Beberapa sekolah membantu menumbuhkan fitrah2 anak2 kita, sebagian besarnya tidak. Umumnya sekolah fokus pd akademik (skill dan knowledge) dan beresiko mematikan fitrah anak2 kita. Karena pendidikan sejatinya adalah amanah kita utk membangkitkan fitrah2 sbgmn dibahas sebelumnya, maka pastikan memilih sekolah yang mendukung hal ini bukan menyimpangkannya.

3] Bunda Nesri

Apakah tazkiyatun nafs itu dilakukan dengan banyak ibadah pada Allah? Ataukah, seperti yang diceritakan Pak Harry, dengan pemahaman dan kesadaran utuh terhadap fitrah?

[ Jawab ]

Bunda Nesri yg shalihah,
Tazkiyatunnafs adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dgn bermacam cara yg disunnahkan agar fitrah2 kita kembali lurus, shg fitrah baik anak2 kita bertemu dengan fitrah baik ayahbundanya. Dalam mendidik kia memerlukan "Qoulan Sadida", kata2 yg berbobot, perasaan dan hati yang mantap, fikiran dan gagasan yg bernas, sikap dan tindakan yg konsisten, tenang dan optimis.

4] Bunda Dyah

Untuk orang tua yg bekerja spt qt..dr mana hrs memulai HE dan mulai kapan ?
Bagaimana tips untuk bunda yang bekerja (senin-jumat pukul 06.30-16.00) agar tetap bisa menjalankan kewajiban Home Education pada anaknya?

[ Jawab ]

Bunda Dyah,
Saya doakan agar segera memperoleh nafkah yang bisa dikerjakan dari rumah ya, krn Allah akan menjamin rizqi mereka yg menjalani amanah mendidik anak2nya. Memulai HE selalu dimulai dari memperbaiki fitrah kita melalui tazkiyatunnafs agar sadar penuh dan meyakini bhw tugas mendidik anak tidak main2 dan terbatas waktunya efektif hanya sampai usia 14 tahun. Memulai teknisnya dengan merancang perencanaan mendidik dan framework operasional. (Silahkan dicopy sampelnya). Quality time sama pentingnya dengan quantity time. Jika memang bekerja di luar adalah darurat baik alasan ekonomi maupun sosial, maka upayakan membentuk komunitas di kompleks untuk saling mendidik secara bergantian.

5] Bunda Riri

Terkait memulai HE sbnrnya adakah contoh kurikulum tertentu utk menilai pencapaian keberhasilan HE?

[ Jawab ]

Bunda Riri yg baik,
Kami menyebutnya bukan kurikulum, tetapi framework. Setiap anak unik, setiap keluarga unik. Maka tdk ada kurikulum seragam dalam pendidikan anak, yang ada adalah kerangka kerja atau framework operasional. Yaitu apa2 yg harus kita lakukan terkait dengan fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat sepanjang tahap2 usia (fitrah perkembangan) sampai aqilbaligh di usia 14-15 tahun . Tiap2 tahap tentu ada indikator keberhasilan dari tahap sebelumnya. Ini akan kita bahas detail dalam diskusi2 selanjutnya.

Lebih pengkapnya:

Framework adalah kerangka kerja kita orangtua dalam mendidik. Pusatnya tetap anak2 kita
Nah pendidikan berbasis fitrah, yg ditumbuhkan (salah satunya) adalah fitrah belajar nya, orang barat menyebutnya learn how to learn

Misalnya lebih penting anak menyukai buku dgn banyak dibacakan daripada diajarkan membaca sebelum waktunya.

Jika anak sdh suka sama buku dan kisah2 inspiratif maka dia akan bisa membaca dengan sendirinya bahkan menjadi gemar membaca.

Pendidikan kita tujuannya adalah agar anak2 kita terbangun fitrahnya secara alamiah sampai usia 10 tahun, krn jika kesadaran fitrahnya terbangun maka selebihnya anak2 kita sendiri yg akan menjalaninya dgn bergairah setelah usia 10 thun, baik semangat keimanan/akhlak, passion bakat maupun gairah belajar.

Kita tidak diam saja, membiarkan anak semaunya. Tetapi kita menunjukkan dan membangkitkan imaji2 positifnya, gairahnya, kesadarannya dstnya. Tazkiyatunnafs agar diberikan Qoulan Sadida, ucapan, tindakan yang penuh makna dan berbobot ketika membangkitkan fitrah anak2 kita.

Kurikulum formal lebih sering menjadi kaku dan kehilangan momentum.

Misalnya kita atur ketat bhw hari ini menggambar pohon, ternyata hari itu anak kita sedang tertarik ke museum atau ke pasar beli ikan atau bermain di kebun.. nah nanti malah anak2 membenci menggambar jika dipaksakan. Sebaiknya disesuaikan temanya dengan ketertarikan anak pd obyek belajar tertentu. Kita bisa mengarahkan kpd yg lebih seru,tapi tetap sesuai minatnya.

Menurut saya, jika anak2 berbakat akademik, persekolahan formal mungkin cocok. Tetapi anak2 sekarang umumnya lebih ke otak kanan (seni, imaji, ideation, visual dll)

Walaupun anak kita berbakat akademik, juga hati2 bhw persekolahan formal banyak mematikan fitrah anak krn terlalu formal dan kaku.

Misalnya anak2 kita sdg tertarik energi, sementara temanya bukan itu maka curiosity anak kita bisa hilang, dia harus menunda dsbnya

Misalnya anak2 yg suka sains, tidak selalu dibarengi guru2 sekolah yg punya kemampuan sains, bahkan pendidikan sains lebih hebat di klub atau dunia maya.

Kalau fitrah bakat, sudah pasti tdk akan digali di sekolah, apalagi fitrah keimanan. Anak2 terjebak kpd menguasai pengetahuan bukan menjadi dirinya.

Lebih baik mana, mendidik agar anak2 suka belajar dan berinovasi utk dijalani sepanjang hayatnya, daripada mengetahui segala hal namun hanya utk ulangan atau ujian?

Kalaupun suami bersikeras agar anak bersekolah, mohon pilihlah sekolah yg membebaskan fitrah utk tumbuh bukan terpaku pada nilai akademis.

6] Bunda Samiah

Tentang fitrah positif, apakah ada fitrah yg negatif yg tentunya perlu dihindari?

[ Jawab ]

Bunda Samiah yang baik,
Semua fitrah pada dasarnya positif, walaupun ada yg dikesankan negatif spt hawa nafsu, ego dll. Sesungguhnya tdk negatif sepanjang bisa meletakannya dgn benar. Dalam pendidikan, maka fokus membahas kpd fitrah2 pokok yg produktif yaitu fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dstnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar