Sabtu, 07 September 2019

Khitan Baby Taqi

Saat usia Baby Taqi 3 bulan, ia tiba2 panas tinggi hingga 39 derajat celsius. Awalnya hanya muntah biasa lalu malamnya panas dan perutnya kembung.

Menimbang usianya yang masih sangat belia akhirnya kami bawa ia ke dokter anak keesokan harinya.

Dokternya selain periksa seperti biasa, juga langsung cek kemaluan Taqi. Benar saja kecurigaan dokter, Baby Taqi ternyata fimosis bawaan lahir.

Saran dokternya untuk dikhitan segera setelah ia pulih atau tidak demam lagi.

Mengingat pup dan muntahnya yang sudah 3 kali sejak semalam, dokter juga meresepkan zinc, lacto-b dan antibiotik yang hanya boleh digunakan jika panas bayi tak juga turun.

Alhamdulillah sorenya Baby Taqi g panas lagi, jadi g sampai minum antibiotik.

Kami (saya dan suami) jadi terus memikirkan soal khitan/ sirkumsisi pada Taqi.

Jujur saja selama ini yang ada di pikiran kami khitan anak ya nanti saja nunggu anaknya yang minta sambil kami pun memberi pengetahuan tentangnya kelak. Ya seperti Dzikri yang dulu minta sunat di usia 6 tahun.

Dokter anak menyarankan untuk konsultasikan Taqi ke dokter Catur yaitu dokter bedah anak yang hanya  ia seorang di Depok dan praktek di Hermina.

Saya pun cari informasi via internet mengenai pengalaman orang yang sudah mengkhitan anaknya di usia bayi.

Ternyata biaya khitan di dokter bedah anak lumayan juga ya. Bisa sampai di angka 4 juta ke atas.

Selang satu minggu kemudian Taqi kontrol lagi ke dokter anak sekalian diimunisasi. Dokternya masih tetap menyarankan untuk dikhitan. Menurutnya khitan pada bayi itu justru bagus apalagi jika ada riwayat fimosis seperti ini. Jika tak dikhitan sejak dini, anak yang fimosis bisa demam tinggi lagi di kemudian hari.

Apa sebabnya? Karena kondisi fimosis, dimana kulit kelamin menutupi sebagian lubang untuk pipisnya membuat kotoran dari air pipisnya tidak bisa dibersihkan secara maksimal dan menumpuk di dalam. Kebayang kan itu bakteri kumpul di sana. Itulah yang bisa menyebabkan infeksi dan memicu demam tinggi. Jika anak yang fimosis misalnya kena batuk flu dia biasa saja (g demam). Anak yang fimosis bisa langsung demam tinggi.

Penanganan dengan dokter bedah anak katanya diawali dengan bius total. Dokter anaknya bilang kalau anak hanya ditidurkan, bukan seperti bius pada orang dewasa. Supaya tindakan lebih mudah dan anak juga tidak merasa kesakitan.

"Sebenarnya yang khawatir itu kan ya orang tuanya". Begitu kata dokter anak (dr. Karnina Chatar, SpA) memotivasi kami supaya tak ragu Taqi di sirkumsisi.

Di rumah, saya terus mencari informasi tentang khitan bayi.

Saya juga bertanya pada teman-teman di grup wa mengenai rekomendasi tempat khitan anak.

Alhamdulillah dipertemukan Allah info tentang Rumah Sunatan dr. Mahdian yang sudah punya puluhan cabang dan dokter2nya sudah berpengalaman dalam mengkhitan bayi. Teman di grup WA juga pernah melakukan sunat pada anaknya ketika usia 18 bulan di sana (anaknya bolak balik dokter karena sakit dan baru ketahuan fimosis). Biayanya tentu saja jauh lebih murah.

Baiklah, kami semakin membulatkan tekad. Apalagi ketika usia Taqi 4 bulan lebih, ia sempat pilek dan muncul panas lagi tapi tak tinggi.

Akhir Agustus, kami (saya dan suami) pun ke Rumah Sunatan di Margonda dan bertanya-tanya tentang khitan bayi di sana.

Alhamdulillah dapat info yang memuaskan. Di sana dokternya sudah sering menangani khitan bayi. Jika mau dikhitan, boleh konsul dulu dengan dokter atau langsung buat janji untuk dikhitan dengan menelpon rumah sunatan sehari sebelumnya.

Akhirnya kami jadwalkan Taqi khitan setelah suami pulang dinas luar kota dan akan mengambil cuti 2 hari. Cutinya tentu saja fasilitas dari kantor khusus untuk khitan anak dan tidak memotong jatah cuti tahunannya (waktu Dzikri khitan, suami tidak ambil cuti karena belum tahu).

Kami juga minta bantuan Neneknya anak-anak dari Bandung supaya datang ke rumah meng-handle Zahira dan Syakira, anak2 gadis kami yang masih balita.

Tanggal 5 September, suami menelepon Rumah Sunatan untuk minta dijadwalkan sunat Taqi pada hari Sabtu tanggal 7.

Esoknya Rumah Sunatan mengabarkan bahwa Taqi dapat jadwal sunat Sabtu Pukul 8 pagi. Kami hanya diminta membawa diapers yang 1 ukuran di atas diapers yang biasa dipakai.

Tanggal 7 September, 2 hari sebelum usia Taqi 5 bulan kami pun mengantarnya lagi ke Rumah Sunatan. Kami bawa saja diapers kakaknya yang 2 ukuran di atasnya dan 1 celana sunat. Anak2 dan maenin, semuanya ikut.

Perlu kemantapan hati dan persiapan mental jika nanti anak bayi menangis yang mungkin lebih dahsyat dari biasanya.

                          (Sebelum Khitan)

Oya, kami sebelumnya benar-benar sudah membulatkan tekad.

Pertama, dengan niat menjalankan syariat. Jadi, tahan-tahan diri aja kalau dengar komentar yang seolah-olah kita ini orangtua yang tega, anak masih bayi sudah dikhitan. Yah, kita kan bukan mau menyakiti anak, justru ini adalah kebaikan, syariat yang telah diajarkan.

Lagipula, yang kedua, semakin muda usia anak dikhitan, pemulihannya inSyaAllah semakin cepat.

Ketiga, baby Taqi belum terlalu aktif bergerak, ia belum bolak balik tengkurap, jadi g perlu banyak usaha untuk menjaganya pasca sunat.

Keempat, berdasarkan pengalaman kakaknya (Dzikri) dulu, ia mulai rewel saat di rumah terutama kalau mau pipis. Katanya sih ada rasa takut dan geli. Sehingga setiap kali mau pipis, bundanya ini harus benar-benar sabar. Apalagi saat harus meneteskan obat/minyak di kemaluannya. Duh, butuh tenaga untuk agak memaksanya, waktu itu kondisi sedang hamil pula. Beberapa kali ia juga mengompol. Kalau masih bayi, inSyaAllah tak ada perlawanan.

Kelima nya (nanggung 😃), balik lagi intinya yakin aja sama Allah Yang Maha Penyembuh, inSyaAllah dimudahkan semuanya.

Lumayan tegang juga sih setelah dengar suara tangis anak lain yang sedang disunat di ruang tindakan.

Tibalah giliran Taqi dipanggil. Kami pun naik ke atas karena Ruang tindakannya ada di lantai 2.

Baru masuk ruangan sudah disambut dokter dan asistennya dengan ramah. Dokternya cek dulu kondisi Taqi, katanya "ini fimosis total ya Bu".

Wah, sudah tepat banget berarti kalau disunat, pikir saya.

Ternyata menurut dokternya kondisi ini sebenarnya sudah bisa diinfokan oleh dokter anak sejak ia baru lahir. Namun, memang hanya sebagian dokter yang aware sampai ke sana. Fimosis masih dikatakan kasus kelainan yang ringan sehingga tidak banyak dokter anak yang periksa sampai ke kemaluan anak. Meskipun dikatakan ringan, namun tentu jika dibiarkan efeknya tak baik untuk kesehatan.

Pesan dokter "Ibu, kalau punya anak laki-laki lagi... (dalam hati, duh.. aamiin jangan ya....😆), nanti minta diperiksa sama dokter anaknya, fimosis atau ngga. Supaya kalau memang fimosis bisa dikhitan segera".

Dokternya cerita lagi, baru-baru ini beliau menangani khitan bayi berusia 6 bulan yang pipisnya bahkan sudah mengeluarkan darah. Awalnya karena fimosis.

Dokternya juga cerita kalau fimosis ini biasanya genetik/ keturunan. Tapi seingat kami di keluarga  g ada sih riwayat fimosis. Lalu waktu dokternya masih kuliah dulu, kasus fimosis ini terjadi pada 4 dari 10 anak dan sekarang meningkat jadi 7 dari 10 anak.

Dari sebelum tindakan sampai tindakan selesai dokter dan asistennya benar-benar aktif berkomunikasi dengan saya yang menunggui Taqi. Saya bagian memegangi tangannya dengan lembut dan memotivasinya.

Sementara suami menjaga Syakira, kakaknya Taqi yang berusia 2 tahun. Waktu Taqi dipanggil ke ruang tindakan, pas banget maeninnya lagi keluar beli makanan. Jadi, Dzikri di bawah jaga adiknya, Zahira (3,5 tahun), sementara Syakira ikut ke atas (ruang tindakannya di lantai 2).

Suami juga yang merekam video saat tindakan dilakukan. (Dokternya bahkan mengingatkan suami yang sempat berhenti merekam karena mengurusi Syakira.)

Dokternya menjelaskan setiap tindakan yang dilakukan. Diawali dengan memberikan bius di 4 titik saraf kemaluan anak.

Kelebihannya sunat di sini, bius lokalnya diberikan dengan cara disemprotkan menggunakan alat seperti suntikan tanpa jarum tepat di titik-titik saraf tersebut.

Memang tetap terasa sakit tapi tidak sesakit jika diberikan lewat jarum suntik.

Benar saja, Taqi yang tadinya ngoceh-ngoceh dan tertawa, seketika menangis saat dibius lokal.

Ia terus menangis sampai tindakan selesai. Di situlah rasanya waktu berjalan sangat lama. Padahal waktu Dzikri yang disunat rasanya bundanya ini lebih tegar. Dzikrinya soalnya tegar juga. Tak ada tangisan ataupun teriakan. Hanya berkata 'ah sakit, sakit' sambil memegang speaker murottal kesayangannya saat itu. Masya Allah...

Oya, jadi di ruang tindakan ini ruangannya tampak ceria, dibuat menarik untuk anak. Bahkan disediakan IPad untuk mengalihkan perhatian anak saat tindakan. Berhubung Taqi belum mengerti, IPadnya dipinjamkan untuk Syakira yang juga ternyata g tertarik 😁.

Setelah bius lokal, dokter mulai membuka kulit yang menutupi lubang pipisnya Taqi. Tampaklah kotoran yang menempel berwarna putih di balik kulit itu. Kotoran ini jauh lebih banyak daripada kotoran yang tampak menempel saat khitanan Dzikri yang saat itu berusia 6 tahun.

Lega rasanya melihat kotoran itu dibersihkan. Smart clamp pun lalu dipasang. Disini saya merasa ngilu. Lalu kulit tadi dibuang.

Metode yang digunakan untuk khitan bayi disini  adalah smart clamp yang dianggap paling aman untuk bayi.

Selesai tindakan, Taqi dipasangkan diapers lalu celana sunat yang sudah saya persiapkan sebelumnya (beli online hanya 9500 saja 😁). Taqi kemudian langsung saya gendong perlahan dan disusui. Ia langsung tenang lalu terlelap.

                   (Sepulang dikhitan)

Setelah itu saya ke bagian administrasi dan mendapatkan penjelasan mengenai perawatannya di rumah. Meski sudah berpengalaman merawat anak sunat dengan metode yang sama, tapi tetap saja prakteknya agak blank.

Smart clamp yang bentuknya seperti tabung ini dipakai selama 5 hari. Selama itu, di rumah diberikan perawatan untuk kebersihannya.  Setiap kali cebok diberikan air biasa dan air NaCl (ada alat yang digunakan untuk memudahkan), lalu dikeringkan dengan kasa steril atau kapas. Bagian dalam tabung boleh dikeringkan juga dengan cotton Bud. Namun, jika tidak berani karena takut menyentuh ujung kemaluannya, boleh juga hanya ditempelkan kapan di sisi dalam tabung hingga sisa-sisa air cebokan terserap oleh kapas.

Anak juga boleh dimandikan seperti biasa. Sebenarnya kalau ambil paket ekstra ada celana plastik anti air yang bisa digunakan ketika mandi. Tapi kami hanya ambil paket sunatnya ditambah KKPK yang memang harus dibeli.


                       
                           (Rincian Biaya)

Tak lupa dalam sehari 3 kali diteteskan antibiotik 2 tetes di dalam, satu tetes di kanan, satu tetes di kiri (antibiotik diberikan sampai habis). Ada paracetamol juga yang diberikan sehari 3 kali untuk 2 hari pertama sebagai pereda nyeri. Namun jika bayi masih nampak kesakitan setelah lebih dari 2 hari, paracetamolnya masih boleh diberikan.


 (Goody Bag, hadiah boneka berbentuk bola, sertifikat, brosur berisi informasi Q&A dan penjelasan mengenai hal yang harus dilakukan sebelum lepas clamp juga perawatan setelah tabung dilepas, serta KPKK)



(Isi KPKK: Kassa steril, masker, larutan NaCl,
wadah kecil berwarna merah, sabun cair, obat merah, antibiotik yang diteteskan di kemaluan, cotton bud, paracetamol untuk pereda nyeri,
irrigation syringe-alat bantu cebok)


KKPK
(Kit Perawatan Pasca Khitan)


Alhamdulillah pulang ke rumah Taqi anteng seperti biasa saja. Tak ada drama tangisan membahana yang dikhawatirkan sebelumnya.

Cebok pertama kali cukup mendebarkan karena sempat tiba2 lupa harus apa aja dan belum persiapkan apa-apa sementara anak bayi udah mulai g sabar. Pas pakai cotton bud sempet tersentuh ujung kepala kemaluannya dan anaknya teriak sebentar.

Tapi hanya di pertama cebok saja, selanjutnya kalaupun tersentuh ia hanya bergetar saja g menangis sama sekali. Alhamdulillaah.

Saya baru berani mandikan Taqi keesokan paginya dengan diapers yang sengaja terpasang, masih takut2 hehe...

Langsung tampak perubahannya, yang tadinya kalau pipis dia nangisnya heboh. Alhamdulillah sekarang biasa saja.

InSyaAllah hari kamis nanti jadwal Taqi kontrol kembali untuk melepas smart clampnya. Semoga sehat-sehat ya Nak, jadi anak yang kuat dan shalih.

Semoga bunda bisa merawatmu dengan baik...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar