Jumat, 26 Februari 2016

26 Februari 2 tahun yang lalu...

Tanggal ini 2 tahun yg lalu....

Entah kenapa pumping asi utk mencapai 100 ml saja butuh perjuangan di pagi ini.
Biasanya amat lancar...

Alhamdulillah, terkumpul 100 ml. Lalu bergegas berangkat ke RS utk menyerahkan asip utk bayi mungilku, Shidqi (6m13d) yg sedang terbaring sakit di picu Hermina Pasteur. Terpaksa ia minum lewat selang ngt. Masuk dari hidung langsung ke tenggorokan...

Seperti 4 hari sebelumnya..
Menunggu di ruang yg tersedia di depan picu...kalau2 ada perkembangan yg akan diberitahukan pihak RS.
Tak bisa selalu ada di sampingnya...

Hari itu terasa sepii sekali...
Menunggu sendirian..
Makan siang dgn gontai ke kantin di samping gedung RS. Sambil mata ini rasanya ingin terus meneteskan air mata.

Teringat Shidqi...
Juga Dzikri yg hampir 5 hari blm bertemu lagi..
Tapi harus tetap semangat berjuang...

Kembali ke ruang tunggu, meriang rasanya...
Sedikit berbaring di kursi sambil berselimut. Rasanya ingiin sekali ada yg menemani...

Tapi aku tetap berusaha agar asi bisa melimpah lagi, minum berliter2 air dan sari kacang hijau, makan sayuran, beli suplemen dan susu.

Menjelang sore, mulai datang saudara dan kerabat yg ingin menjenguk...

Saat itu aku dipanggil ke dalam ruangan picu.
Biasanya utk memompa asi, tapi ternyata tidak untuk kali ini...

Berkali2 dipanggil utk konsultasi dgn dokter, lalu diinformasikan bahwa kondisi Shidqi menurun..
Harus pasang ventilator utk istirahatkan paru2nya...

Panggilan berikutnya, dokter bilang tidak memungkinkan pasang ventilator...

Dan beliau jg sampaikan akan berusaha sebaik2nya..
Saat itu pemandangan di hadapan adl Shidqi yg sedang dikelilingi suster2, salah seorangnya sedang melakukan pijat jantung padanya...

Tak tahan melihatnya..
Aku pun keluar ruangan..

Menelepon suami di jkt yg ternyata hpnya tak bisa dihubungi..
Pun hp rekan kerjanya tdk diangkat...

Lalu menghubungi tante yg jg dokter anak di RS ini, juga kakak2 utk memberitahu kondisi Shidqi yg sedang kritis...

Saat itu ada sepupu suami yg menemani...

Aku berusaha tenang, meski amat sedih...

Dipanggil kembali ke ruangan, dan kali ini Shidqi ternyata sudah tak bernyawa....

Alhamdulillah ada tante, dan kakak2 yg menemani di dalam ruangan, mendengarkan penjelasan dokter...
Sambil menjelaskan, dokter minta suster terus melakukan pijat jantung.
Aku tahu...
Ia sudah tak terselamatkan lg...

Pikiranku saat itu...

"Ya Allah dia memang milikMu...
Sekarang kembali padaMu..."

Rasanya aku bukan siapa2....

Saat suster melepas semua alat (selang oksigen, kateter, infus yg semula ditangan lalu pindah ke kepala, dan entah apalagi), kuusap dahinya...

"Sudah tidak demam lg ya nak... turun panasmu.. dingin sekarang"

Kuusap dan kugenggam tangannya...

"Sekarang bertambah gemuk ya nak... (meski gemuk karena infus...)"

"Allah swt kabulkan doa bunda..."

"Maafkan bunda ya nak..."

RS menyediakan teh hangat membantu menenangkan hatiku..

Tapi tentu setelah itu masih ada yg harus diurus..

Klg berdatangan ke RS.. paman dan bibi2 yg amat baik dan perhatian..

Dzikri datang bersama buyutnya...
Ah senangnya bisa bertemu lagi..
Kusambut dgn senyum..
Dia seperti malu2...

Masih ceria seperti biasanya. ..

Setelah makan mlm yg dipaksakan...

Pembicaraan berlanjut ke persiapan pemakaman. Mau di mana??

Tanteku yg amat baik hati menawarkan Shidqi dimakamkan di Firdaus Memorial Park.. Entah kenapa katanya beberapa minggu sebelumnya pamanku wakaf di sana dan mendapat kavling pemakaman jg utk keluarga.

Kucoba lg untuk menghubungi suami...
Alhamdulillah bisa...

Yg pertama kukatakan "Shidqi udah dibersihin, mau di RS dulu atau dibawa plg aja ke rmh tante"

Tentu suami bingung dan bertanya2...

Tersadar, aku pun berkata lg "Shidqi udah g ada..."

Suami beristirja lalu menutup telpon..

Malam itu, Shidqi disemayamkan di rumah tante yg dekat dgn RS...

Suami dtg malam hari bersama ayah, ibu mertua, dan adik ipar..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar