Selama ini, mungkin kita
tidak menyadari bahwa kita telah membentuk suatu pandangan tentang diri kita
sendiri...
Mungkin secara umum itu baik, mungkin juga
buruk.
Itu adalah konsep tentang diri kita, bagaimana kita memandang diri kita
serta persepsi orang lain tentang diri kita sendiri......
Ada orang yang seringkali merasa sebagai seorang yang ”bodoh”, ”selalu
gagal”, ”tidak punya keahlian”, dan sebagainya....
Patut dilihat, apa yang terjadi dengan konsep dirinya?
Mungkin selama ini,
tuntutan lingkungan terlalu besar dibandingkan kemampuan yang ia miliki pada
kenyataannya.....
Bisa jadi ketika awal perkembangannya ia dibesarkan dalam keluarga yang
berapresiasi negatif terhadapnya....
Atau, ia membangun komunikasi dengan orangtua
secara tidak berkualitas.
Misalnya, orang tuanya selalu
mengatai-ngatainya dengan hal yang buruk ketika anak melakukan kesalahan
sekecil apa pun....
Padahal kata-kata tersebut (misalnya “dasar
anak nakal”, “anak bodoh”, dan sebagainya), dapat membentuk suatu konsep yang
tertanam dalam diri anak, bahwa dia memang benar-benar anak yang nakal/ bodoh.
Sehingga, ia pun berperilaku sesuai dengan konsep yang dimilikinya.
Ketika
beranjak dewasa, diawali dengan pencarian jati diri, konsep itu semakin kuat
atau mungkin lemah dan tergantikan seiring dengan pengalaman yang bertambah.
Interaksi dengan orang lain bisa mempengaruhi konsep diri yang dimiliki. Ketika
seorang siswa mampu menunjukkan potensinya sehingga ia dihargai, ia bisa saja
mulai memiliki konsep diri yang positif mengenai dirinya. Terlebih lagi, jika
sejak kecil ia berada pada lingkungan yang menunjangnya untuk membentuk konsep
diri yang positif.
Coba lihat diri kita dan renungi lagi.....
Apakah sudah memiliki konsep diri yang positif?
Apakah kita paham apa kelebihan dan kelemahan kita?
Apa kita sudah bisa menerima diri kita apa adanya?
Ketika kita merasa rendah
diri karena tujuan kita tidak tercapai atau tuntutan dari orang tua yang tidak
bisa kita penuhi membuat diri kita merasa tidak mampu...
Seringkali kita menyalahkan diri kita sendiri, merasa diri tak bisa
apa-apa, apalagi jika sudah membandingkan dengan orang lain...
Padahal, setiap orang diciptakan
dengan potensinya masing-masing.....
Mungkin kita bisa mencoba melihat
kembali apakah tujuan yang telah kita tetapkan itu realistis atau sesuai dengan
kemampuan yang kita miliki?
Jika terlalu jauh idealisme kita dari kenyataan yang ada, maka akan semakin
rentan diri kita untuk mengalami kegagalan…..
Wajar saja bercita-cita tinggi, tapi kita harus melihat diri kita apakah
kita mampu...?
Selain itu persiapkan diri kita untuk mengalami hal yang terburuk sekalipun.....
Sehingga kita tidak merasa berputus asa....
Merasa tidak mampu?
Lihat kembali, potensi apa yang kita miliki. Tanya pada orang tua kita,
teman-teman yang memahami kita.
Pasti ada kemampuan yang kita miliki...
Seorang yang memiliki
konsep diri positif akan mampu menerima dan memahami dirinya dengan baik.
Kegagalan yang dialaminya tidak dimaknai sebagai kegagalan atau ketidakmampuan,
tapi ia akan memandangnya sebagai sesuatu yang memacunya untuk menjadi lebih
baik lagi.....
Sedangkan orang yang
memiliki konsep diri yang negatif merasa tidak memahami dirinya, dan bahwa
dirinya tidak mampu dan rendah diri. Seringkali ia berpikir ”ah, saya tidak
akan mampu”, ”saya tidak disukai banyak orang”, ”saya jelek”, dan
sebagainya......
Mungkin ia mesti coba
untuk berpikir positif dan selalu berprasangka baik. Ketika kita berprasangka
baik, maka kita akan berusaha untuk mencapai prasangka baik tersebut pada
kenyataan. Tapi jika kita berprasangka buruk sebelum melakukan/ menghadapi sesuatu, maka kita sudah lemah pada awalnya
dan tidak terpacu untuk bisa mencapai hal yang baik.......
Ingatlah, untuk selalu berprasangka baik.
Meskipun tidak mudah (bagi yang selalu berprasangka buruk), tapi kita harus
mencoba.....
Pikiran yang positif akan membuka hati kita pada berbagai hikmah......
Semoga Allah selalu menuntun kita untuk senantiasa berprasangka baik......
Rasul bersabda:
Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai
dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat)
bila dia ingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam
diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya
dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal,
Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku
mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa),
maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”. (HR. At-Tirmidzi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar