Selasa, 21 Juni 2016

Pengalaman VBAC (Persalinan Anak Ke-3)

Rabu, 6 April 2016 mulai merasakan 'gelombang cinta' perlahan hadir memberi pertanda...

Jelang malam memberi kabar pada suami bahwa adek di perut nungguin ayahnya...

Malam itu pun dilalui dengan banyak berjalan mondar mandir di dalam ramah, tak bisa tidur nyenyak.

7 April 2016 (38w1d)
Pukul 06.30 pagi karena tak tahan, akhirnya beranjak ke RS meminjam mobil tetangga...
Alhamdulillah. .

Sampai RS, suster/bidan melakukan VT.
Kalau masih pembukaan 1-2 bidan menyarankan untuk pulang. Katanya siapa tahu baru minggu depan lahir pas dr.Sofani, dokter kandunganku sudah kembali dari cutinya.
Ah tapi rasanya sudah sakit sekali.
Ternyata masuk pembukaan 3 dan sudah tidak boleh pulang.

Alhamdulillah sudah packing sejak seminggu sebelumnya, jadi lebih tenang...

Dzikri yg awalnya mau sekolah, mendengar adiknya akan lahir akhirnya urung sekolah. Lebih milih menemani bunda ke RS.

Setelah sarapan pagi, mulailah berjalan lagi mondar mandir di dalam RS sambil sesekali jongkok berdiri. Terkadang diselingi istirahat dengan merebahkan tubuh di kasur sambil miring ke kiri.
Suster2 di sana baik dan ramah, memberi support dan menyemangatiku.

Sementara suami mengurus keperluan Dzikri dan membawanya pulang ke rumah karena berdiam di RS kurang baik untuknya.

Siang harinya dokter pengganti yang direferensikan dr. Sofani datang. Aku memilih dr. Marisa karena pernah kontrol kandungan sekali dengannya saat dr. Sofani cuti juga.
dr. Marisa melakukan VT dan ternyata masih di pembukaan 3 namun longgar. Alhamdulillah dokternya baik dan juga mensupport untuk bisa melahirkan normal. Katanya, inSyaAllah paling lama malam ini lahir asalkan banyak gerak, coba jalan...

Padahal tadinya sempat ragu, ketika seminggu sebelumnya, terakhir kontrol dengan dr. Sofani, beliau bilang akan cuti selama 10 hari. Sudah bertekad kuat untuk vbac dan merasa beliau dokter yang tepat karena pro vbac dan sangat mensupport persalinan normal. Hasil kontrol terakhir kata beliau tinggal menunggu kontraksi.. Rasanya tidak mungkin menunggu beliau selesai cuti karena sudah masuk minggu ke 37 (dari pengalaman 2x melahirkan biasanya di minggu 37 menuju 38). Tapi suami mengingatkan bahwa semuanya adalah kuasa Allah swt siapapun nakesnya yang akan mendampingi persalinan nanti.
Iya ya..
Jadi teringat QS. Al Hajj Ayat 5 yang artinya:

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami KELUARKAN kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah."

Hanya kepada Allah swt tempat bergantung. Rasanya iman ini sedang diuji...

Lanjut lagi..
Setelah diperiksa dokter, aku lalu berjalan2 lagi sambil mengulang2 surat Maryam, membayangkan bagaimana Bunda Maryam yang merasakan sakitnya akan melahirkan. Jadi semakin termotivasi. Amat menanti2 gelombang cinta yang intens dan kuat meskipun rasanya sakiit sekali.. lebih sakit dari yang pernah kurasakan dulu pada anak pertama, Dzikri.
Sambil terus menghitung jarak dan waktu kontraksi. Kata sahabatku yang seorang bidan, kontraksi yang bagus jika selama 10 menit terjadi sebanyak 3x dengan durasi minimal 30-40 detik. Ya.. masih harus berjuang..

Sempat seorang ibu yang sedang menjenguk anaknya menghampiriku, mengusap2 punggungku sambil berkata "mau melahirkan ya? Sabar ya, jihad..."

Subhanallah saat2 seperti ini memang menenangkan ketika ada yang memberi semangat.

Sekitar pukul 1 siang setelah beristirahat, aku memutuskan untuk pergi sendiri ke mushola yang letaknya di basement RS, karena suami belum juga datang.
Sengaja menggunakan tangga agar kontraksi semakin intens. Sepanjang jalan ke mushola 2-3x kontraksi terasa. Ketika solat pun sempat terasa.

Alhamdulillah jelang ashar suami datang dan Dzikri dijemput oleh adik ipar sehingga suami bisa fokus untuk mendampingiku.

Sempat berjalan lagi di koridor RS, ketika kontraksi datang, seorang suster menyapa. Saat itu aku sedang kesakitan sampai hampir menangis. Suster menyarankan untuk beristirahat dan tidur miring ke kiri.
Akhirnya aku mengikuti saran suster.

Setiap kali kontraksi datang kupegang tangan suami erat2 sambil memeluknya. Rasanya amaat tertolong.
Suamiku juga membantuku untuk solat ashar yang kali ini kukerjakan di samping tempat tidur.

Sekitar pukul 16.00 kuminta suami memanggil suster karena kontraksi semakin intens dan ada rasa ingin mengejan. Ketika dicek ternyata sudah pembukaan 5, sudah masuk fase aktif. Aku diminta untuk bersiap2 ke ruang bersalin. Tak lama ibu mertua pun datang, lalu mengusap2 punggungku yg sedang kesakitan. Alhamdulillah masih kuat untuk berjalan ke ruang bersalin.

Pk. 17.00 bidan memeriksa dan ternyata sudah pembukaan lengkap (itu yang kudengar saat ia menelpon rekannya untuk ikut mendampinginya).
Rasa mengejan amat kuat tapi harus ditahan..
Bidan bilang masih pembukaan 8, padahal menunggu dokter datang.
"Jadi harus gimana suster?" Aku bilang sambil meremas tangan suster karena menahan sakit dan menahan diri untuk tidak mengejan. Suster membimbing untuk menarik nafas lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut. Awalnya kulakukan perlahan, tapi tidak membantu. Ketika kulakukan dengan cepat dan terputus2 (tarik nafas-buang nafas), alhamdulillah cukup membantu. Sambil kuulang2 ayat al Quran "tsummassabiila yassaroh" (kemudian Dia memudahkan jalannya... QS. 'Abasa: 20) yang membuatku semakin kuat.
Sampai akhirnya dokter datang, langsung melakukan VT "ini sudah lengkap, ibu kalau mules langsung ngeden ya" begitu katanya.
Aku langsung disiapkan dengan posisi melahirkan. Kedua kaki diangkat, tangan kanan diapit kaki kanan, tangan kiri memegang dan menahan kaki kiri. Jika mules hilang, maka kaki diturunkan. Mules yang pertama, bayi belum berhasil keluar,
Alhamdulillah saat mules yang kedua, setelah mengejan putus sambung dan dokter melakukan episiotomi, bayi pun lahir.....
Allah swt jualah yang kuasa keluarkannya dari rahim ini....

Amat bersyukur karena kali ini suami mendampingi saat bersalin. Memeluk dan memberi semangat bahwa ini jihadku...

Sampai saatku dijahit suami tak tahan dan memilih menunggu di luar. Ketika itu bayi terbaring di dadaku. Tertidur...

Setelah selesai dijahit ibu mertua baru masuk ke ruangan...
Sang bayi setelah diazani oleh suami lalu menyusu cukup lama...
Alhamdulillah. ..
Langsung bisa jalan sendiri ke kamar mandi. Malamnya pindah ke ruang rawat yang baru di lt.4.

Sungguh amat berkesan...

Alhamdulillah semuanya kuasa Allah swt...
Syarat2 vbac nya terpenuhi (ketebalan rahim bagus 6mm-syarat min. 3,5mm, kepala janin di bawah, tidak ada lilitan, hasil lab bagus, tekanan darah normal, berat bayi tidak terlalu besar, ketika melahirkan tidak diinduksi), nakesnya pro vbac dan RS nya juga memadai...
Kalau dari diri sendiri dari awal berpositif thinking untuk bisa normal..
Yakin dengan kuasa Allah swt...
Tadabbur kisah maryam..
Minta support suami dan orang terdekat..
Cerita rencana vbac hanya pada orang yang kira2 support, supaya ga down😁.
Ikut grup persalinan maryam juga amat membantu, banyak tambah ilmu, dan saudara yang saling memberi semangat.
Hamil kali ini rutin mengkonsumsi kurma minimal 7 butir setiap dhuha (saat akan melahirkan pun masih sempat mengkonsumsinya dan sehari sebelum melahirkan masih sempat bayar hutang puasa, sahurnya juga makan kurma alhamdulillah terasa lebih kuat), minum minyak zaitun, spirulina dan gamat.
Alhamdulillah. ...
Alhamdulillah. ...
Semuanya kuasa Allah swt...

1 komentar: